Triberita.com | Jakarta – Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Pusat telah memeriksa tujuh orang dalam peristiwa kebakaran di kantor Terra Drone, Kemayoran, yang mengakibatkan 22 orang meninggal dunia.
Sebanyak 22 kantong jenazah korban kebakaran Ruko Terra Drone, sudah berada di Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, terdiri dari 15 korban perempuan dan 7 korban laki-laki.
Sebelumnya, insiden kebakaran melanda gedung Terra Drone di Jalan Letjend Suprapto No.17, Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025) siang.
Kepala Rumah Sakit Polri Brigjen Pol Prima Heru Yulihartono mengatakan, dari 22 korban, 11 di antaranya telah diperiksa, dan 3 korban telah teridentifikasi.

Sebanyak 11 dokter dikerahkan untuk mengisi tim ante mortem, post mortem, dan pemeriksaan DNA.
Prima meminta keluarga yang merasa anggota keluarganya menjadi korban kebakaran di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat mendatangi RS Polri.
Prima mengimbau, keluarga korban yang merasa kehilangan untuk membantu mempercepat proses identifikasi jenazah, dengan membawa dokumen pendukung yang dapat mencocokkan data korban secara akurat.
“Permohonan kami, kepada keluarga yang merasa kehilangan, agar dapat membawa foto korban, terutama yang memperlihatkan gigi, serta identitas lainnya. Jika ada data sidik jari atau dokumen pendukung lain, itu akan sangat membantu,” ujar Prima.
Data gigi (odontogram) seringkali menjadi kunci utama dalam identifikasi jenazah korban kebakaran.
Sementara dugaan awal penyebab kematian puluhan korban dalam kebakaran Ruko Terra Drone Kemayoran, adalah menghirup gas karbondioksida (CO₂).
Gas beracun ini seringkali menjadi pemicu utama kematian dalam insiden kebakaran. Tim forensik terus melakukan pemeriksaan mendalam terkait penyebab kematian.
Berdasarkan pemeriksaan luar yang dilakukan tim forensik, sebagian besar korban diduga meninggal akibat menghirup gas CO₂ saat terjebak.
Hal ini menunjukkan, bahwa korban mungkin tidak langsung terbakar, melainkan kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen. Penanganan jenazah korban kebakaran ruko ini memerlukan kehati-hatian.
Tim DVI masih melanjutkan pemeriksaan mendetail untuk mengkonfirmasi penyebab pasti kematian. Namun, dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan luka bakar dominan yang menjadi penyebab utama kematian para korban.
Ini mengindikasikan bahwa asfiksia akibat asap dan gas beracun lebih berperan dalam insiden kebakaran ruko ini.

















