Triberita.com | Cilegon Banten – Gunung Anak Krakatau (GAK) yang lokasinya berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih mengalami erupsi hingga Rabu (29/11/2023) siang, dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 300 meter dari puncak kawah.
Sementara pada Selasa (28/11/2023) kemarin, GAK mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.000 meter dari puncak atau sekitar 1.157 meter di atas permukaan laut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa erupsi terakhir terjadi pada Selasa siang, pukul 13.21 WIB.
Erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi lebih kurang 46 detik.
Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut.
Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda ini, menyemburkan abu mulai hingga 2000 meter dari atas puncak.
Imbauan kepada masyarakat, nelayan dan wisatawan untuk tidak beraktifitas dalam radius 5 kilometer dari gunung. Gunung berapi yang berlokasi di perairan Selat Sunda itu berstatus Siaga atau Level III.
Sementara itu, masyarakat yang berada di pesisir Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, hingga kini tidak terpengaruh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, karena sudah menjadikan hal biasa.
“Kami sudah biasa menerima informasi Gunung Anak Krakatau meletus atau erupsi,”ujar seorang pedagang makanan di Pantai Carita Kabupaten Pandeglang, Rabu (29/11/2023).
Masyarakat pesisir Pantai Carita yang berjarak sekitar 40 meter ke kawasan Gunung Anak Krakatau tidak begitu ketakutan. Warga tetap normal dan melakukan aktivitas ekonomi dengan berjualan, juga melaut mencari ikan.
“Kami seperti biasa berjualan dari pukul 07.30 WIB sampai pukul 24.00 WIB. Kami juga biasanya mencari ikan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, tetapi sekarang dilarang petugas,” ujar warga itu.

















