Scroll untuk baca artikel
Bekasi RayaBeritaEkonomi & Bisnis

Harga Cabe Rawit di Bekasi Meroket, Disdagperin: Permintaan Tinggi Jelang Nataru jadi Pemicu

476
×

Harga Cabe Rawit di Bekasi Meroket, Disdagperin: Permintaan Tinggi Jelang Nataru jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Cabai Rawit.(Foto: Istimewa)

Triberita.com | Bekasi – Harga komoditas mengalami lonjakan sejak menjelang Natal 2025 hingga Tahun Baru 2025. Kondisi ini biasa terjadi di moment menyambut hari besar. Khususnya komoditas cabai rawit, di Kota Bekasi, harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisonal di Kota Bekasi meroket tembus hingga Rp90 ribu per kilogramnya.

Selain moment hari raya, sebenarnya masih ada faktor pemicu melonjaknya harga cabai di pasar. Salah satu teori yang berkembang adalah munculnya tren kuliner baru yang mengutamakan rasa pedas ekstrem. Munculnya banyak food blogger dan influencer yang mempromosikan makanan pedas, khususnya yang berbahan dasar cabai, bisa jadi pemicunya.

Dinas terkait , yakni Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kota Bekasi mengungkapkan bahwa kenaikan harga cabai, hingga tembus di angka Rp90.000 per kilogram, menjelang Tahun Baru 2025 dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Analisis Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagperin) Kota Bekasi, Eko Wijatmiko, tak hanya momen Natal dan Tahun Baru, namun lonjakan harga cabai disebabkan karena tingginya permintan, seiring dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga dan libur sekolah.

“Karena faktor permintaan di saat Nataru tinggi, karena berbarengan dengan libur sekolah hingga rumah tangga konsumsi lebih banyak,” ujar Eko, dikutip Selasa (31/12/2024).

Faktor lain yang menyumbang kenaikan harga komoditas khususnya cabai rawit, lanjut Eko, adalah cuaca yang tidak menentu. Cuaca yang fluktuatif, kata Eko,  mempengaruhi hasil panen cabai yang tidak stabil, sehingga pasokan terbatas.

Namun ia meyakini situasi ini tidak lama. Harga bahan pokok, termasuk cabai, menurut Eko, akan mengalami penurunan pada pertengahan Januari. Meskipun begitu, menjelang bulan puasa Ramadhan pada Februari 2025, harga bisa naik Kembali.

Baca Juga :  PPK Cikarang Utara Gelar Rakor untuk Pendaftaran Pantarlih

“Pertengahan Januari sudah normal kembali. Tapi nanti menjelang puasa di Februari pasti ada kenaikan kembali,” katanya.

Eko menjelaskan, Pemerintah Kota Bekasi juga melakukan upaya untuk menekan lonjakan harga bahan pokok, diantaranya, kerja sama antar daerah.

Ia menjelaskan, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) untuk mengatur pasokan dari daerah pemasok yang surplus.

Lonjakan harga bahan pokok sejak menjelang Natal 2025 hingga Tahun Baru 2025 ini, menjadi keluhan para ibu rumah tangga.

Sebut saja Ayu, ibu rumah tangga di Kecamatan Rawalumbu, mengeluhkan harga cabai rawit yang melonjak drastis di pasar tradisional.

“Mahal banget, sampe 90 ribu per kilogram, padahal waktu awal Desember lalu dapat 60 ribu, sekarang naiknya drastis banget. Makanya saya kalua beli pali Cuma seperempat kilo, kalua beli banyak, kebutuhan lainnya bisa ngga kebele,” ungkap Ayu.

Tingginya harga cabai rawit ini juga turut merubah pedagang kaki lima yang menjual ayam fried chiken (ayam goreng tepung). Sebut saja Arif, yang biasanya meyediakan sambal geprek untuk ayam goreng tepungnya. Sementara ini terpaksa tidak menyediakan sambal geprek, lantaran mahalnya harga cabai rawit.

“Terpaksa saya ngga bikin sambal geprek, cabe mahal banget, jadi cukup pake saos sambal kemasan aja,” ujarnya.

Di pasar tradisional, tak hanya cabai rawit yang mengalami lonjakan harga, cabai hijau dan merah keriting juga sama. Pantauan media, cabai hijau dan merah keriting yang sebelumnya masih sekitar Rp40.000 per kilogram, kini dijual seharga Rp75.000 per kilogram.

Facebook Comments