Scroll untuk baca artikel
BeritaSubang

Pejabat Bapenda Subang Hindari Konfirmasi Wartawan Saat Isu Korupsi Pajak Merebak, Ini Analisis Psikolog

1091
×

Pejabat Bapenda Subang Hindari Konfirmasi Wartawan Saat Isu Korupsi Pajak Merebak, Ini Analisis Psikolog

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Pendataan dan Penilaian Bapenda Subang, Ahmad Septembro, (Tengah) Saat memimpin rapat di Bapenda Subang

Triberita.com | Subang – Sikap Kepala Bidang Pendataan dan Penilaian Bapenda Subang, Ahmad Septembro, yang menghindari konfirmasi wartawan di tengah isu dugaan korupsi pajak Sate Maranggi Si Bungsu, memicu tanda tanya besar. Fenomena ini, menurut sudut pandang psikologi, bukanlah kebetulan.

Tesya Ramdhania, S.Psi, seorang Sarjana Psikologi dari Universitas Mercu Buana, memberikan analisisnya.

Menurut Tesa, tindakan menghindar merupakan respons alami terhadap tekanan emosional dan sosial yang luar biasa. Berikut adalah beberapa alasan psikologis yang mungkin melatarbelakangi sikap Ahmad Septembro:

Mekanisme Pertahanan Diri

Saat seseorang menghadapi situasi yang mengancam seperti dugaan korupsi, mekanisme pertahanan diri akan aktif secara otomatis. Menghindar, seperti yang dilakukan Septembro, adalah bentuk penarikan diri (withdrawal).

Menurut Tesya, tujuannya adalah untuk menghindari konfrontasi, mengurangi stres, dan menunda pertanggungjawaban.

“Ini adalah upaya untuk mengulur waktu, berharap isu mereda, atau menyusun narasi yang berbeda,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa alasan seperti “lagi tugas luar” atau “cuti sakit” adalah bagian dari mekanisme ini.

Disonansi Kognitif dan Penyangkalan

Tesya juga menjelaskan bahwa dugaan korupsi dapat menciptakan konflik batin yang kuat, yang disebut disonansi kognitif.

“Kondisi ini terjadi ketika keyakinan diri seseorang, misalnya saya pejabat yang baik, bertentangan dengan tuduhan yang ada. Untuk meredakan ketidaknyamanan tersebut, seseorang cenderung melakukan penyangkalan,” jelasnya.

“Jawaban ‘lagi tugas luar’ bisa menjadi cara Septembro untuk menolak realitas bahwa ia sedang disorot,” sambung Tesya.

Ia berupaya mempertahankan citra diri sebagai pejabat yang sibuk dan berintegritas, meskipun fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.

Tekanan dan Rasa Malu

Menurut Tesya, paparan media yang masif menimbulkan tekanan psikologis yang sangat berat dari publik, atasan, rekan kerja, dan keluarga.

Baca Juga :  Ketua Pokja Wartawan Polres: Proses Hukum Masih Berlanjut, Tak Ada Kata Damai Dengan Oknum Debt Collector

“Perasaan malu (shame) dan terhina (humiliation) dapat menjadi faktor utama yang mendorong seseorang untuk bersembunyi,” ungkapnya.

Ketika citra diri yang telah dibangun terancam hancur, seseorang akan melakukan apa pun untuk menghindari sorotan. Jawaban singkat dan mengelak menjadi cara untuk meminimalkan interaksi dan membatasi risiko terungkapnya kebenaran.

Kebutuhan Mengendalikan Informasi

Tesya mengatakan, dirinya menduga, dalam situasi krisis, seseorang yang merasa terpojok akan mencoba merebut kembali kendali. Ia mencontohkan, salah satu cara paling efektif adalah dengan mengendalikan alur informasi.

“Pejabat tersebut [Septembro] secara tidak langsung mencegah media memperoleh konfirmasi yang bisa memperkuat narasi,” ujarnya.

Ia mencoba menciptakan “ruang hampa” informasi dengan harapan kebungkamannya akan membuat berita kehilangan momentum.

Tesya Ramdhania menyimpulkan bahwa sikap Ahmad Septembro bukanlah kebetulan. Sebaliknya, itu adalah respons psikologis yang diprogram terhadap ancaman dan tekanan yang ia hadapi.

Publik kini menanti apakah mekanisme pertahanan diri ini akan bertahan atau digantikan oleh pengakuan dan pertanggungjawaban yang sesungguhnya.

Facebook Comments