Scroll untuk baca artikel
Bekasi RayaBerita

Tokoh-tokoh Bekasi Bahas Persoalan Sampah dan Bangli Penyebab Banjir, Ini Kata Mereka

413
×

Tokoh-tokoh Bekasi Bahas Persoalan Sampah dan Bangli Penyebab Banjir, Ini Kata Mereka

Sebarkan artikel ini
Acara podcast Triberita menghadirkan 4 tokoh masyarakat di Kedai Bacod, Pebayuran Kecamatan Kedungwaringin Kabupaten Bekasi.(Foto: doc redaksi)

Triberita.com | Kabupaten Bekasi – Sampah menjadi sasaran penyebab bencana banjir, khususnya yang melanda wilayah Kabupaten Bekasi. Sampah yang memenuhi sungai-sungai dituding menghambat aliran air, sehingga ketika hujan deras intensitas tinggi, air di sungai pun meluber keluar, lalu terjadi banjir.

Karena itu, persoalan sampah menjadi trend pembahasan pasca bencana banjir dahsyat yang menerjang sebagian wilayah Jawa Barat, di awal Maret 2025.

Kiprah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendapat acungan jempol dari masyarakat. Sekitar 100 hari setelah dilantik jadi Gubernur, Dedi menunjukkan kinerja cukup memukau. Pria ini tak ragu blusukan, turun langsung membantu warga, bahkan terjun ke sungai membersihkan dan mengangkat sampah.

Tak hanya itu, gebrakan Dedi yang spektakuler diantaranya, merubuhkan lokasi wisata di kawasan Bogor yang menjadi penyebab banjir Jabodetabek. Kemudian, di Kabupaten Bekasi, mantan Bupati Purwakarta ini juga merubuhkan bangunan-bangunan liar di bantaran kali di Tambun Utara, yang menghambat penyerapan air, dan lagi-lagi mengakibatkan banjir.

Mengacu pada persoalan tersebut, Triberita menghadirkan 4 tokoh untuk mengupas hal berkaitan dengan sampah berikut bangunan liar. Acara Podcast berlangsung di Kedai Bacod, Kampung Kelo Pebayuran, Kecamatan Kedungwaringin, Jumat (21/3/2025)

Empat tokoh tersebut, Johan Wahyudi, tokoh pemuda Kabupaten Bekasi, Muhammad Robi, Tokoh Desa, Muhammad Fauzi, Sekertaris Paguyuban Petani Kabupaten Bekasi, dan Rusman Nuryaman dari Asosiasi Pelaku Usaha Desa (Apudsi)

 

Tokoh Pemuda Kabupaten Bekasi, Johan Wahyudi.(doc redaksi)

Johan Wahyudi: Pentingnya Tata Kelola Sampah

Tokoh pemuda Kabupaten Bekasi, Johan Wahyudi mengaku miris melihat masyarakat banyak yang kurang peduli dengan lingkungan.

“Padahal tahu bahwa kalau lingkungan itu rusak, makan bisa rusak semua, seperti banjir besar,” kata Johan mengawali diskusi dalam podcast yang digelar Triberita, Jumat (21/3/2025).

Untuk itu, kata Johan, bersama komunitas PGR (Petani Gotong Royong) Kabupaten Bekasi wilayah Utara, saat ini menggiatkan kepedulian lingkungan, dengan konsentrasi di bantaran sungai.

Johan melanjutkan, persoalan tentang sampah bukan hanya persoalan saat ini saja. Sudah sekian lama menjadi persoalan yang memang sampai saat ini memang belum ada solusi.

Diakuinya, masalah sampah-sampah di bantaran sungai, khususnya di wilayah Kabupaten Bekas, saat ini sudah menjadi perhatian pemerintah, baik provinsi dan kebupaten, sehingga kini mulai fokus untuk menyelesaikan persoalan itu.

Baca Juga :  Resah, Warga sebut Pemkab Bekasi harus Bertindak Tegas Atasi Bangli di Tambun Selatan

“Tapi menurut saya pribadi, hal-hal yang mulai sekarang dilakukan oleh pemerintah daerah, misalnya dengan
mengangkat sampah-sampah yang menyumbat di sungai-sungai Jawa Barat, tidak cukup hanya itu penyelesaiannya. Tapi bagaimana kita memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai,” ungkapnya

Johan menilai, hal yang lebih penting adalah memikirkan bagaimana tata mengelola sampah.

 

Tokoh Desa, Muhammad Robi,(Foto: doc redaksi)

Muhammad Robi: Sadar Lingkungan

Hal senada diungkapkan Muhammad Robi, tokoh Desa, yang menekankan bahwa yang diperlukan untuk menangani masalah lingkungan, adalah kesadaran.

“Sederhana saja, sadar, yang harus diterapkan oleh semua masyarakat, mulai dari Kepala Daerah, baik Gubernur, Bupati sampai kepada keluarga di rumah tangganya masing-masing. Kalau semua sadar, baik persoalan bangunan liar maupun sampah, tidak perlu kekerasan, saling tuding. Karena kalau dari pemimpinnya tidak sadar, tidak eling, maka semua akan rusak,” beber Robi.

Dimulai dari lingkungan kecil, di Kecamatan Kedungwaringin misalnya, Robi mencontohkan, dengan kesadaran seluruh masyarakat, maka diyakini akan menciptakan keberkahan, yang akan berkembang di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat hingga berkah untuk Indonesia

“Dengan kesadaran orang-orang politik, orang akademis, orang ilmiah, orang agamis, asik loh negeri kita.
Ini kan yang umumnya sering menyalahkan. Di rumah ada selokan mampet, males. Di rumah, di sekeliling kita ada sampah numpuk, males membuang. Kalau gak sadar, malu juga. Misi-misi harus terwujud nyata.
Bukan hanya narator, atau narasinya orang kotor,” paparnya.

 

Tokoh Petani, Muhammad Fauzi.(doc redaksi)

Muhammad Fauzi: Sampah di Sungai Hambat Pasokan Air ke Pertanian

Sementara Muhammad Fauzi, tokoh petani, tepatnya Sekertaris Paguyuban Petani Kabupaten Bekasi, menilai bahwa persoalan sampah dan bangunan liar adalah persoalan sistemik.

Di seluruh daerah-daerah perkotaan, persoalannya adalah sampah dan Bangli (bangunan liar).

“Sampai hari ini pun, persoalan sampah, baik sampah yang dikelola pemerintah, ataupun oleh swasta,
enggak ada yang mampu bisa menyelesaikannya. Apalagi bangli.
Bangli kan persoalannya, adalah kesusahan. Artinya mereka yang mendirikan dan tinggal di bangunan liar, orang susah yang tidak punya tanah, tidak punya tempat tinggal,
Tanah juga mahal,” kata Fauzi.

Fauzi menjelaskan lebih jauh kaitan sampah dengan pertanian, adalah sampah yang memenuhi sungai, maka membuat sungai menjadi dangkal, dan airnya pun berkurang.

Baca Juga :  Oknum Tokoh Masyarakat Diduga Penadah, Diringkus Resmob Polres Serang Banten

“Kalau disisi pertanian, ya memang yang diperlukan pertanian, itu air. Tidak ada air, asupan pertanian jadi terganggu, karena media dasarnya adalah air,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi tindakan Gubernur Jabar yang sudah merubah watak dan karakter, membangun kesadaran dengan begitu keras.

“Kami pun, berapa kali dengan gerakan kami, petani juga setara, ada yang buang sampah di sungai, kita tegur, kita omel-omelin,” ujarnya.

Fauzi juga apresiasi terhadap Bupati Bekasi yang masih belia.

“Itu salah satu simbol pemuda yang juga peduli terhadap lingkungan. Artinya, peduli terhadap lingkungan, dia mau terjun bersama gubernur,” katanya.

“Saya selalu optimis bahwa apa yang dilakukan oleh gubernur, bupati saat ini merupakan upaya membangun kesadaran masyarakat dan kesadaran instansi,” sambungnya.

 

Tokoh dari Asosiasi Pelaku Usaha Desa, Rusman Nuryaman.(Foto: doc redaksi)

Rusman Nuryaman: Sampah Diolah jadi Bernilai Ekonomis

Pembicara terakhir adalah Rusman Nuryaman, dari Asosiasi Pelaku Usaha Desa (Apudsi),

Rusman memaparkan, terkait aksi Gubernur yang melakukan pembongkaran bangunan liar, ini adalah satu aksi heroik untuk memberikan rasa malu.

“Makanya sosial medianya [Dedi Mulyadi] hebat sekali, mudah-mudahan ada efek jera, membuat orang malu. Artinya, malu menempati tanah yang bukan haknya, dan malu memakai sesuatu yang bukan haknya,” jelas Rusman.

Ternyata, lanjut dia, gerakan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi tidak hanya di lapangan, tapi juga di tingkat birokrasi.

“Jadi para pejabat birokrasi kalau mau macam-macam, takut, karena takut viral. Saya pikir ini sesuatu yang baik, menghadirkan rasa malu dalam bekerja, dalam beraktivitas, ini sesuatu yang baik. Kalau orang sudah tidak punya rasa malu, bahaya,” ungkapnya.

Rusman melanjutkan, terkait bangunan liar, efeknya adalah kemudian ada yang jadi permanen atau rumah permanen.

“Kemudian [efek selanjutnya ] air yang harus mengalir, ditambah lagi dengan sampah yang kemudian dibuang di sungai, lalu menjadi sumbatan, akhirnya air tidak mengalir,” ujarnya

Terkait dengan sampah, menurut Rusman, memang perlu kesadaran. Semua stakeholder itu harus punya kesadaran yang sama. Harus punya visi yang sama, harus punya misi yang sama.

Tapi kalau dikaitkan dengan kondisi ekonomi terakhir, kata Rusman, perlu diketahui, 8 bulan terakhir ini Indonesia sudah melalui deflasi, yakni satu kondisi di mana harga barang turun.

Baca Juga :  Kapolri Beri Apresiasi Langsung ke TNI yang Berputar Diatas Helikopter Selamatkan Kapolda Jambi dan Tim Gabungan

“Nah, harga barang turun ini tidak didefinisikan sebagai bentuk dari rasa sayangnya produsen-produsen kepada konsumen, bukan. Dan kalau dalam 8 bulan ini berturut-turut turun terus, artinya daya beli masyarakat melemah. Bisa dicek, orang mudik tahun ini akan turun sekitar 4%. Dari yang Rp193 juta, akan turun ke Rp150-140 jutaan. Artinya apa? Orang tidak punya duit buat mudik,” jelasnya.

Situasi ekonomi yang begini ini, lanjut dia, ini efeknya akan panjang. Maka, sampah itu perlu didorong menjadi pemantik supaya menjadi aktivitas ekonomi.

Aktivitas yang kemudian urusan sampah ini jadi ekonomi, Rusman menerangkan, sudah banyak dilakukan di daerah lain

“Di Kudus itu sudah dilakukan. Ada masyarakat yang membeli sampah. Sampah organiknya harga sekian, yang non-organiknya harga sekian.
Kalau tidak salah, kalau plastik itu 5.000 perkilo. Gerakan awalnya anak sekolah. Jadi tiba-tiba anak sekolah ini disuruh mengumpulkan sampah pulang dari sekolah, pulang buang duit,” katanya.

Kemudian orang tua yang mulai sadar, ternyata sampah jadi duit, akhirnya ikut melakukan gerakan ini.
Maka tercipta satu kondisi di mana orang itu tidak mau buang sampah sembarangan, karena sudah tahu kalaw sampah itu menghasilkan uang,

Masih dijelaskan Rusman, di Singapura, tidak akan menemukan sampah. Karena, setiap hari sampah diolah, yang organik diolah, jadi magot dan segala macam.

“Yang plastiknya, itu Singapura punya teknologi supaya sampel plastik ini diolah menjadi aspal, dan itu aspal terbaik. Jadi sampah plastik dicetak jadi aspal. Maka jalan-jalan di Singapura itu asalnya dibilang sampah,” paparnya

Jadi memang dalam kebijakan kedepan, Bupati Bekasi perlu merumuskan bagaimana caranya supaya orang yang tidak mau buang sampah sembarangan, karena ini benar-benar duit.

Rusman pun menyinggung TPA Sampah Kabupaten Bekasi di Burangkeng Setu, yang ketinggiannya sudah mencapai 40 meter, sehingga bisa dikatakan darurat.

“Jadi sampah di Burangkeng ini sudah darurat, saya usulkan kepada Pak Bupati, untuk membangun kesadaran itu, maka dia harus ditempeli oleh satu gerakan yang kemudian bernilai ekonomi,” tandasnya.

Facebook Comments