Triberita.com, Cirebon –
Nasi jamblang adalah makanan khas Cirebon yang punya sejarah panjang. Di rumah makan ini, pemudik yang mengarah dari Jakarta ke Jaw Tengah dan Jawa Timur bisa mencicipi nasi jamblang legendaris dengan aneka lauk yang disajikan prasmanan.
Nasinya unik karena dibungkus daun jati yang memang banyak tersedia di wilayah Jamblang. Racikan nasi jamblang legendaris bisa di temukan di rumah makan Nasi Jamblang Ibu Engkar di Jalan Arteri Pantura, Otto Iskandardinata No.88, Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Begitu masuk, pengunjung atau pemudik bisa melihat lebih puluhan pilihan lauk yang bisa dipilih sendiri. Beberapa lauk populernya adalah cumi hitam, sate kentang, semur daging, tahu dan tempe, aneka pepes dadar telor dan lainnya.
“Banyak menunya kang, nasi Jamblang ini merupakan makanan khas orang Cirebon, Alhamdulillah menjelang lebaran seperti sekarang ini banyak pemudik yang mampir,” kata Engkar saat ditemui triberita.com dilokasi, Jum’at pagi.

Ia mengatakan, warung nasi Jamblang miliknya mulai diserbu pemudik sejak dua hari terakhir ini, pasalnya banyak pemudik melakukan perjalanan jauh yang melintas tepat didepan lokasi dan ada juga yang penasaran dengan makanan khas Cirebon ini.
“Alhamdulillah kang pendapatan meningkat, sehari kemarin dapet 700 sampai 1 juta omset, banyak pemudik perjalanan jauh yang enggak puasa mampir, hari biasa enggak sampai segitu ya adalah Alhamdulilah,” jelasnya.
Dikatakan Engkar kembali, adapun harga yang disajikan bervariatif memilih seporsi nasi jamblang (Rp 3.000) dengan paduan lauk cumi hitam (Rp 13.000), telur dadar (Rp 4.000), sate kentang (Rp 3.000), dan semur daging (Rp 14.000). Tampilannya yang semarak benar-benar menggugah selera makan.
“Beda-beda kang harganya tergantung lauknya, jualan disini saya sudah lama hampir puluhan tahun, semoga tambah laris dan banyak peminatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Bagas pemudik asal Kota Tegal mengatakan, nasi Jamblang langganannya ini memang terkenal enak dan harganya terjangkau.
“Enak disini kalau pulang kampung pake motor di musim mudik sering mampir disini, harganya juga terjangkau,” kata Agus.
Kendati itu, ia menyebut, nasi Jamblang memang memiliki citarasa sendiri, selain unik sajiannya juga aroma wangi bumbu citarasa nusantara sangat terasa nikmat.
“Enak bumbunya juga khas, semoga tambah laris dagangannya tetap menjaga kelestarian budaya tatanan Sunda,” tandasnya.
Sebagai informasi, mengutip buku 100 Maknyus Jalur Mudik yang ditulis mendiang Bondan Winarno bersama Lidia Tanod dan Harry Nazarudin, budaya nasi jamblang konon berasal dari proyek jalan Pantura oleh Gubernur Jenderal Daendels. Saat sampai di wilayah Jamblang, Cirebon, pemerintah Hindia Belanda kehabisan dana.
Pihak mereka lantas membuat perjanjian dengan bupati setempat dimana bupati itu harus menyediakan makanan (katering) untuk para pekerja jalan. Akhirnya muncul budaya memasak dalam jumlah banyak dan menyajikannya secara prasmanan.
Nasinya unik karena dibungkus daun jati yang memang banyak tersedia di wilayah Jamblang. Nasi berbungkus daun jati ini kemudian dibagikan ke para pekerja jalan. Sejak itulah ‘lahir’ hidangan nasi jamblang.
Reporter: Riyan/ Abdul
Penulis: Abdul Kholilulloh
Foto: Abdul Kholilulloh
.
















