Oleh : KH. Abdul Hay Nasuki
Sekretaris RMI PWNU Propinsi Banten
Triberita.com | Serang Banten – Pesantren adalah benteng Islam yang telah melahirkan ulama, pejuang, dan pemimpin bangsa.
Dari pesantrenlah, lahir tokoh-tokoh besar yang mengajarkan ilmu, adab, dan cinta tanah air.
Di Banten, keberadaan pesantren sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Hampir di setiap kecamatan se Banten, berdiri lembaga pendidikan Islam yang mencetak generasi berilmu dan berakhlak.
Namun, di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, pesantren-pesantren di Banten, juga menghadapi sejumlah kelemahan dan tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Kesadaran terhadap kelemahan ini, bukan untuk melemahkan, tetapi agar pesantren dapat terus berbenah dan semakin kuat dalam mengemban amanah pendidikan dan dakwah.
1. Manajemen Pesantren Masih Sederhana
Sebagian besar pesantren di Banten, masih dikelola secara tradisional. Semua kegiatan sering bergantung pada sosok kiai pendiri.
Ketika kiai sudah sepuh atau berpulang ke rahmatullah, tidak jarang pesantren menjadi lemah karena belum memiliki sistem kepemimpinan dan manajemen yang tertata.
Padahal, pesantren hari ini perlu dikelola dengan struktur yang rapi dan terencana, agar bisa berkembang tanpa kehilangan ruh keikhlasan.
Penguatan administrasi, keuangan, dan program pendidikan menjadi kebutuhan yang mendesak.
“Pesantren harus bertransformasi tanpa kehilangan jati dirinya. Administrasi boleh modern, tapi niat tetap lillahi ta‘ala.” (Abuya Muhtadi Cidahu)
2. Kualitas Guru dan Tenaga Pengajar Masih Perlu Ditingkatkan
Para ustaz dan guru pesantren, dikenal sangat ikhlas dalam mengajar. Namun, sebagian dari mereka, belum memiliki pelatihan yang cukup dalam bidang metodologi pembelajaran dan teknologi pendidikan.
Akibatnya, proses belajar-mengajar kadang berjalan seadanya.
Pesantren perlu membuka diri terhadap pelatihan dan kerja sama dengan lembaga pendidikan lain, agar para guru memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, tanpa kehilangan nilai keikhlasan dan keteladanan.
“Santri hari ini, bukan hanya perlu diajarkan kitab, tapi juga cara hidup di tengah dunia modern. Guru pesantren, harus siap menghadapi dua dunia: kitab kuning dan dunia digital.”
3. Fasilitas dan Sarana Belajar Belum Merata
Masih banyak pesantren di pelosok Banten yang kondisi fasilitasnya sederhana. Asrama santri yang padat, ruang kelas terbatas, kitab yang sudah usang, bahkan ada yang masih kekurangan air bersih dan listrik.
Meskipun para santri tetap semangat, keadaan ini menjadi tantangan yang harus dijawab bersama.
Perhatian pemerintah, masyarakat, dan para alumni sangat dibutuhkan. Pesantren adalah benteng moral bangsa, dan benteng itu harus dijaga agar tetap kokoh, tidak dibiarkan lapuk dimakan waktu.
4. Pesantren Belum Sepenuhnya Siap Menghadapi Dunia Digital
Zaman sekarang, adalah zaman informasi dan teknologi. Namun, sebagian pesantren masih ragu memanfaatkan teknologi digital.
Ada kekhawatiran, bahwa dunia digital akan membawa dampak negatif bagi santri. Kekhawatiran itu benar, tetapi menolak teknologi bukanlah solusi.
Yang dibutuhkan, adalah pendampingan dan pemahaman, agar santri bisa menggunakan teknologi secara bijak untuk berdakwah, menulis, berdiskusi, dan memperluas wawasan.
Jika pesantren mampu menguasai dunia digital, maka dakwah Islam akan semakin luas dan kuat.
“Jangan biarkan dunia maya hanya diisi oleh konten negatif. Santri harus mampu mewarnai media sosial dengan dakwah santun dan cerdas.”
5. Masih Lemah dalam Bidang Ekonomi dan Kemandirian
Banyak pesantren di Banten masih bergantung pada sumbangan masyarakat. Hanya sedikit yang sudah memiliki usaha mandiri, seperti pertanian, koperasi, atau industri kecil.
Padahal, pesantren yang mandiri secara ekonomi, akan lebih bebas bergerak dalam membangun pendidikan dan kesejahteraan santri.
Semangat kemandirian ekonomi, perlu digerakkan dengan melibatkan alumni dan masyarakat sekitar, agar pesantren tidak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga pusat pemberdayaan umat.
“Pesantren yang mandiri, tidak akan mudah goyah. Santri harus diajarkan, bukan hanya mengaji, tapi juga bekerja dan berwirausaha.”
6. Kurangnya Sinergi Antar Pesantren
Di Banten ada 6.776 pesantren, namun kebanyakan berjalan sendiri-sendiri. Masih jarang ada kerja sama yang erat dalam bidang kurikulum, pelatihan guru, atau kegiatan sosial. Padahal, jika pesantren saling bekerja sama, potensi besar akan lahir.
Sinergi dan jaringan antar pesantren di bawah payung RMI NU, bisa menjadi kekuatan besar dalam memperjuangkan kemajuan bersama baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun sosial-keagamaan.
7. Tantangan Citra dan Reputasi Pesantren
Beberapa kasus negatif yang melibatkan oknum, kadang membuat citra pesantren menjadi sasaran tudingan miring.
Padahal, pesantren sejatinya adalah lembaga yang menjaga akhlak dan nilai-nilai kemanusiaan.
Karena itu, penting bagi pesantren untuk membangun komunikasi publik yang baik, agar masyarakat memahami bahwa pesantren adalah lembaga yang moderat, terbuka, dan cinta damai.
Menatap Masa Depan dengan Optimisme
Kelemahan-kelemahan di atas, tidak boleh membuat kita pesimis. Justru dari sanalah muncul semangat untuk memperbaiki diri.
Pesantren di Banten, memiliki kekuatan yang luar biasa kiai yang ikhlas, santri yang semangat, dan masyarakat yang mencintai agama.
Jika semua kekuatan ini disatukan, pesantren tidak hanya akan bertahan, tetapi akan menjadi pelita bagi umat dan bangsa.
Langkah yang bisa ditempuh antara lain:
* Memperkuat sistem dan manajemen pesantren.
* Meningkatkan kemampuan guru dan santri.
* Mengembangkan unit usaha pesantren.
* Menguasai teknologi digital untuk dakwah.
* Menjalin kerja sama antar pesantren dan alumni.
Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, ia adalah tempat lahirnya perjuangan.
Jika hari ini masih ada kekurangan, maka itu adalah tugas kita bersama untuk memperbaikinya.
Karena cinta kepada pesantren, bukan hanya dengan pujian, tetapi dengan usaha nyata agar pesantren semakin maju dan bermartabat.

















