Ia menjelaskan, agar supaya ada penataan ruang, pemerintah daerah sendiri mempunyai program rumah tidak layak huni (rutilahu), dan secepatnya agar warga miskin yang rumahnya jauh dari kata layak dapat dirasakan manfaatnya.
“Bisa menggunakan program rutilahu berdasarkan aspirasi dewan, dan kami butuh data itu dari tingkat bawah RT/RW untuk melaporkan ke desa/kelurahan, ini salah satu upaya meminimalisir terjadinya peristiwa arumah ambruk, bagaimana pun juga musibah tidak bisa diprediksi oleh manusia, setidaknya kita sudah antisipasi,” jelasnya.
“Mudah-mudahan kejadian ini menjadi pelajaran buat kita semua dan tidak ada lagi musibah seperti itu, Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” sambungnya.
Kepada pewarta triberita, Mahdi seorang petani itu mengatakan, ia tinggal bersama enam orang dalam satu rumah, tiga kartu keluarga (KK). Saat ini rumah yang dihuni luluh lantak usai tersapu angin kencang.
Ia menceritakan, kejadian itu bermula saat Mahdi sepulangnya dari sawah sekira pukul 10.30 WIB siang, cuaca ekstrim panas diiringi tiupan angin kencang tiba-tiba menghantam rumahnya dan ambruk seketika hanya dengan hitungan detik.

















