Scroll untuk baca artikel
Bandung RayaBencana AlamBeritaPemerintahanPemilu2024

BMKG Ingatkan Pemprov Jabar Waspada Cuaca Ekstrem Saat Pencoblosan Pemilu 2024

315
×

BMKG Ingatkan Pemprov Jabar Waspada Cuaca Ekstrem Saat Pencoblosan Pemilu 2024

Sebarkan artikel ini
Kepala BMKG audensi ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Foto : Istimewa).

Triberita.com | Kabupaten Bekasi – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia Dwikorita Karnawati mengingatkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat agar mewaspadai potensi cuaca ekstrem, guna menyukseskan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Dwikorita menjelaskan, bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan curah hujan tertinggi, dan dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia. Puncak hujan dimulai pada akhir Januari hingga akhir Maret mendatang.

“Oleh karena itu Pemprov Jabar perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem, dengan melakukan sejumlah mitigasi, agar perhelatan pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pada hari Rabu (14/02/2024) se Indonesia, dapat berjalan dengan lancar di Jawa Barat,” terangnya.

Kunjungan BMKG hari ini, lanjut Dwikorita, untuk menyampaikan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi puncak musim hujan diakhir Januari hingga Maret mendatang.

“Apalagi kita akan punya hajat besar, pemungutan suara pemilu 2024. Tentunya kita akan berkoordinasi dengan Gubernur dan BPBD, bagaimana upaya mitigasi agar curah hujan yang tinggi tidak menimbulkan bencana dan akan menggangu hajat nasional kita,” ucap Dwikorita seusai audensi dengan PJ Gubernur Jawa Barat Bey Mahmudin, di Gedung Sate.

Menurutnya, tidak ada anormali cuaca dalam musim hujan tahun ini, musim hujan berlangsung normal sesuai dengan rata-rata klimatologisnya selama 30 tahun terakhir, dapat mencapai 400 milimeter dalam satu bulan.

“Hanya saja terkadang akan muncul hujan ekstrem pada skala harian, di mana curah hujannya dapat mencapai 150 milimeter per hari,” ujarnya.

Dijelaskannya, akibat hujan tersebut dapat menyebabkan terjadinya banjir bandang dan tanah longsor jika tidak diantisipasi sejak awal.

“Untuk aksi mitigasi, yang dapat dilakukan di antaranya membersihkan saluran air atau drainase lingkungan, membersihkan sungai dari material penghambat atau sumbatan berupa, kayu, batu, tanah, ranting pohon dan sampah, yang dapat menyebabkan terjadinya banjir bandang,” ungkapnya.

Baca Juga :  Siap Siaga Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi, Ini Instruksi Pj Bupati Bekasi

Hal tersebut, Dwikorita menerangkan, kerap terjadi, terutama pada daerah dataran rendah, yang berada di sekitar perbukitan. Pasca kejadian gempa bumi di musim hujan, akibat gempa bumi kerap terjadi, banyak titik longsor di lereng lembah-lembah, hulu sungai, di perbukitan, material longsor beserta pohon-pohon, tanah dan batuan yang terseret longsor, akan terendapkan di lembah-lembah sungai. Hal itu dapat mengakibatkan terbentuknya sumbatan yang membendung aliran air sungai di daerah hulu.

“Dengan turunnya hujan selama berhari-hari, bendungan tersebut jebol, karena tidak mampu menahan tekanan akumulasi air sungai yang terbendung. Maka terjadilah banjir bandang atau aliran debris dengan kecepatan tinggi ke arah dataran rendah di hilir,” terangnya.

Sementara, dalam audiensinya ke Pj Gubernur Jawa Barat Bey Mahmudin, Kepala BMKG Indonesia Dwikorita Karnawati didampingi Kepala Pusat Seismologi Tehnik Geopotensial dan Tanda waktu (PSGT) BMKG Setyoaji Prayoedhie, Kepala Balai Besar MKG wilayah II Hartanto, dan Kepala Stasiun Geofisika Bandung Teguh Rahayu.

Facebook Comments