Triberita.com | Kabupaten Bekasi,-Tiga Kecamatan di Kabupaten Bekasi menjadi yang terparah mengalami kekeringan dan kian meluas akibat dampak dari fenomena El Nino. hingga saat ini intervensi terus dilakukan terutama untuk mendistribusikan air bersih dan air minum kepada warga terdampak kemarau panjang.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, ada 10 kecamatan dan 47 desa yang terdampak kekeringan di Kabupaten Bekasi. Tiga kecamatan yang paling parah terdampak ada di bagian selatan kabupaten Bekasi yakni di Cibarusah, Serang Baru, dan Bojong Mangu.
“Ketiganya memang kerap mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba. Tapi memang tahun ini termasuk yang terparah karena kekeringan terus meluas,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, saat ditemui triberita.com di Pemda Kabupaten Bekasi, Kamis (5/10/2023).
Ia menyebut, kondisi daerah yang memang berada di dataran tinggi menyulitkan warga mengakses air. Di wilayah Cibarusah misalnya, untuk mendapatkan air, warga harus menggali sumur hingga kedalaman 130 meter. Karena itu, mereka hanya mengandalkan aliran air sungai untuk minum dan kegiatan lainnya.

Dikatakan, Muchlis, akibat kekeringan, sekitar 53.246 kepala keluarga kesulitan mendapatkan air. Untuk itu, pendistribusian air rutin dilakukan. “Hingga saat ini, sudah ada 5,5 juta liter air yang disalurkan di daerah terdampak,” ujar Muchlis.
Dalam penyaluran bantuan, lanjut Muchlis, pihaknya juga terbentur sejumlah kendala seperti terbatasnya mobil tangki yang hanya berjumlah 7 unit dan juga peralatan penampungan air yang terbatas.
“Dengan mobil tangki hanya 7 unit, petugas harus berulang kali mondar-mandir untuk memasok air ke masyarakat,” kata dia.

Beruntung, sejumlah instansi dan juga pihak swasta pun turut membantu memberikan bantuan air dan juga peralatan penunjang ke daerah terdampak.
“Sejumlah komunitas dan asosiasi pun turut membantu mendistribusikan air,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Cibarusah Rusdi Azis menuturkan, kekeringan di wilayahnya memang rutin terjadi setiap tahun. Namun yang paling parah adalah pada tahun 2018 lalu.
“Saat itu, air sangat sulit didapatkan karena air di dua sungai utama mengering sama sekali,” jelasnya.

Namun untuk tahun ini, bantuan terus berdatangan. Karena itu, ujar Rusdi, pihaknya sudah membentuk satuan tugas untuk memetakan daerah yang terdampak sehingga bantuan bisa lebih tepat sasaran.
Penjabat (Pj) Bupati Kabupaten Bekasi Dani Ramdan mengatakan, kekeringan yang terjadi di Kabupaten Bekasi tidak lepas dari surutnya debit air baku dan juga pencemaran yang terjadi di daerah anak Sungai Cileungsi dan Kali Bekasi.
Kondisi ini tergambar dari berkurangnya kapasitas instalasi pengolahan air yang berkurang signifikan dari 600 liter per detik menjadi 3 liter per detik. Kondisi ini membuat penyaluran air sempat terhenti selama dua minggu.
Dani menuturkan, dampak fenomena El Nino musim kekeringan ini juga mengancam pertanian di Kabupaten Bekasi. Pasalnya, 2.000 hektar lahan pertanian di kabupaten Bekasi gagal panen. Hanya 8.600 hektar yang bisa diselamatkan walau produktivitasnya menurun. Karena itu, upaya normalisasi dan pompanisasi terus dilakukan agar penurunan produksi tidak semakin tajam.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Nayu Kalsum menyatakan, setidaknya ada 4.147 hektar lahan pertanian yang terdampak kekeringan baik gagal panen maupun fuso. Jumlah itu sekitar 17,5 persen dari total lahan pertanian di Bekasi seluas 48.406 hektar.
Karena kekeringan di wilayah selatan kabupaten Bekasi pun diminta untuk tidak melakukan penanaman untuk sementara waktu lantaran air yang tersedia sangat terbatas. “Jangankan untuk pertanian, air untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit,” ungkapnya.
Itu karena di wilayah selatan Kabupaten Bekasi hanya mengandalkan sawah tadah hujan. Artinya, jika tidak ada hujan tentu sawah tidak bisa ditanami padi.

Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin menuturkan untuk jangka panjang, perbaikan kualitas sungai dan juga memperluas daerah resapan menjadi prioritas.
“Kami sudah bekerjasama dengan Kapolri untuk menindak tegas industri yang terbukti mencemari sungai,” tegasnya.
Selain itu, pembangunan embung dan reboisasi juga terus dilakukan agar area tangkapan air bisa semakin luas.

















