Scroll untuk baca artikel
Banten Raya

Dampak Kemarau, Ribuan Hektar Sawah Petani di Pandeglang Banten Terancam Gagal Panen

448
×

Dampak Kemarau, Ribuan Hektar Sawah Petani di Pandeglang Banten Terancam Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
Untuk memastikan ketahanan pangan di Provinsi Banten aman dan terjaga baik dari hulu sampai hilir. Penjabat (Pj) Gubernur Banten Al Muktabar, beberapa waktu lalu saat meninjau lokasi penangkaran benih padi kelompok tani mandiri Kampung Batu Jaya, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. (Foto : Daeng Yusvin)

Triberita.com | Pandeglang Banten – El Nino berdampak pada musim kemarau dan kekeringan panjang di Indonesia. Sementara itu, kemarau panjang berimbas pada ketersediaan udara, sektor pertanian, perekonomian, dan keseimbangan lingkungan.

Bencana kekeringan, mulai dirasakan dan melanda Pandeglang Selatan, Provinsi Banten. Ribuan hektare sawah petani, mengalami kekurangan pasokan air.

Pada tahun 2023, musim kemarau yang berlangsung panjang dan ekstrem, dibarengi dengan fenomena El Nino.

El Nino, adalah fenomena pemanasan suhu muka laut pada kondisi atas normal di kawasan Samudra Pasifik bagian tengah. Pemanasan tersebut menciptakan efek samping penurunan curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Dalam kemarau ekstrem, curah hujan bisa mencapai kategori “sangat rendah” hingga 0–10 milimeter per dasarian (10 hari).

Sejumlah kekeringan ekstrem telah diderita masyarakat Indonesia, terutama pada tahun 1848–1849, 1962–1963, 1972–1973, 1982–1983, 1997–1998, 2015–2016, 2019, dan terakhir pada tahun 2023 ini.

El Nino terparah terjadi pada kekeringan panjang tahun 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016 yang ditandai dengan nilai Oceanic Nino

Kepala Dinas Pertanian, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Nasir M Daud membenarkan, ribuan hektare lahan pertanian terancam kekeringan akibat musim kemarau yang mulai terjadi. Ancaman kekeringan disebabkan oleh peralihan musim dari penghujan ke kemarau.

“Memang, saat ini prediksi kemarau sudah masuk, dan laporan dari teman-teman juga sudah ada. Dari data yang sudah ada, lebih dari 1.000 hektare lahan terdampak,” kata Nasir.

Dijelaskan, ribuan hektare sawah yang terancam kekeringan karena tadah hujan, akibat dampak musim kemarau. Dimana di Pandeglang, terdapat 22 ribu hektare sawah tadah hujan, tersebar di beberapa kecamatan.

“Kebanyakan wilayah atau kecamatan yang mengalami kekeringan ringan hingga berat,” jelasnya.

Baca Juga :  Polisi Rilis Identitas 2 DPO Kasus Proyek Fiktif Pengadaan Barang Senilai 1 Milliar Lebih

Dalam upaya mengantisipasi kekeringan, kata Nasir, dengan memberikan bantuan pompa air kepada para petani.

Selain itu, Dinas Pertanian, dan Ketahanan Pangan, telah melakukan penelusuran dibeberapa titik yang akan terdampak bencana kekeringan.

“Langkah-langkah yang telah kami lakukan, termasuk menelusuri semua titik sawah petani di setiap kecamatan yang terancam kekeringan. Kami juga menyediakan pompa air untuk mengambil air di sungai,” terangnya.

Menurutnya, dinasnya juga tengah mengidentifikasi potensi air permukaan. Jika ditemukan air, kemudian dihibahkan pompa kepada petani yang sawahnya kekurangan air.

“Kami siapkan 500 unit pompa air, semata-mata untuk mengamankan tanaman yang ada, dan meningkatkan perluasan area tanam untuk menambah pundi-pundi produksi, agar kita tidak krisis pangan itu harapan kita dan kondisi saat ini,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Desa Bojongmanik, Kecamatan Sindangresmi Sukri membenarkan, petani di desanya mulai kesulitan air untuk kebutuhan tanaman padi.

Para petani berupaya agar sawah mereka mendapat pasokan air Sungai Cilemer secukupnya.

“Memang sudah agak sulit air. Ada air sungai juga sudah mulai kering,” kata Sukri, pada Selasa (20/8/2024).

Facebook Comments