Triberita.com | Subang — Akses jalan vital bagi warga Babakan Uban dan Kampung Cibarola, Kelurahan Soklat, kini ditutup secara sepihak oleh pengembang perumahan Buana Subang Kencana (BSK). Keputusan ini memicu ketegangan yang berpotensi menimbulkan bentrokan antara warga perumahan dan masyarakat setempat.
Penutupan jalan ini berawal dari keluhan warga perumahan BSK yang merasa hak privasi mereka terganggu. Padatnya lalu lintas, kebisingan, dan debu akibat lalu-lalang karyawan pabrik menjadi pemicunya.
Puncaknya, beberapa insiden kecelakaan dan pencurian mendorong pihak perumahan untuk menutup total akses jalan, dengan alasan menjaga keamanan dan ketertiban.
Namun, keputusan sepihak ini justru memicu kemarahan warga kampung Babakan Uban dan Cibarola yang telah lama menggunakan jalur tersebut. Mereka merasa ikut terkena dampak dari aktivitas karyawan pabrik yang menggunakan jalan tersebut, meskipun bukan mereka yang menyebabkan masalah.
Dua Sudut Pandang yang Saling Berbenturan
Konflik ini menyoroti dua pandangan yang saling berbenturan. Dodi, salah satu warga Babakan Uban, menegaskan bahwa jalan yang ditutup adalah jalan umum yang sudah digunakan sejak lama, bahkan sebelum perumahan BSK dibangun. Ia menyebutkan adanya perjanjian awal antara pengembang dan warga setempat, yang mengizinkan pembangunan dengan syarat tetap membuka akses jalan bagi masyarakat.
“Ini jalan umum dari dulu, mereka pendatang (warga Perumahan BSK). Jembatan PNPM saja dibangun di sini, itu bukti jalan ini adalah fasilitas umum, bahkan jalan sudah diaspal oleh pemerintah,” ujar Dodi.
Ia juga menyayangkan keputusan penutupan yang dianggap tidak masuk akal. Menurutnya, masalah keamanan seharusnya diselesaikan dengan peningkatan pengawasan, bukan dengan menutup jalan. Ia khawatir, jika tidak ada solusi, bentrokan fisik antara warga akan segera terjadi.
“Apakah harus nunggu bentrok dulu baru ada penyelesaiannya? Kami ini korban, warga yang terkena dampak dari lalu lalang kendaraan karyawan pabrik,” keluh Dodi dengan nada prihatin.
Ia berharap pihak kelurahan dan aparat terkait segera turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Lurah Soklat: Babakan Uban Jadi Jalur Favorit Ribuan Karyawan Pabrik
Di sisi lain, Adang Somantri, Lurah Soklat Kota Subang, menjelaskan bahwa penutupan jalan ini adalah respons dari ketidaknyamanan yang dialami warga perumahan. Menurutnya, jalan umum yang tadinya hanya digunakan warga, kini menjadi jalur padat karena banyak karyawan pabrik menggunakan jalan pintas untuk menghindari kemacetan.
Lurah Adang bercerita bahwa lalu lintas kendaraan sangat padat dan membuat kemacetan di sepanjang jalan perumahan pada waktu pagi dan sore.
“Bagi sebagian pengendara motor, terutama yang tidak memiliki STNK dan SIM, jalur ini menawarkan keuntungan besar. Mereka bisa menghindari razia polisi di lampu merah Perempatan Sinta dan Perempatan Wesel di Jalan Otista. Jalan Babakan Uban Cibarola yang menembus perumahan BSK adalah jalur pintas dan cepat untuk sampai ke lokasi pabrik di Jalan Raya Cinangsi, salah satu jalur provinsi,” jelas Adang.
Setiap hari ada ratusan, bahkan bisa mencapai ribuan kendaraan yang melewati jalan Babakan Uban – Perumahan BSK. Akibatnya, jalan tersebut selalu mengalami kemacetan dengan suara knalpot yang bising diiringi debu.
Adang menambahkan, pihak Kelurahan, Kecamatan, pihak perumahan dan aparat TNI Polri telah berupaya menengahi konflik ini, dengan kesepakatan sementara untuk menutup jalan hingga ada keputusan di tingkat kecamatan.
“Wajar jika warga perumahan merasa terganggu, ada ranah privasi yang perlu kita hargai di perumahan yang mereka tempati,” kata Lurah Soklat.
Adang juga menyinggung masalah utama yang menyebabkan warga sekitar terdampak.
“Masalah utama sebenarnya bukan pada warga Babakan Uban, melainkan pada ribuan karyawan pabrik yang membuat jalan itu kelebihan kapasitas,” jelasnya.
Menunggu Solusi Konkret dari Pemerintah Daerah
Hingga saat ini, belum ada solusi konkret yang dapat diterima oleh semua pihak. Warga Babakan Uban dan masyarakat sekitar merasa dirugikan karena harus memutar jauh, sementara warga perumahan BSK tetap bersikeras dengan keputusan mereka. Meskipun aparat keamanan dan pemerintah daerah sudah turun tangan, proses penyelesaiannya berjalan lambat.
Selain warga Babakan Uban, warga Rawa Badak yang juga biasa melewati jalan tersebut merasa terganggu. Jalan umum yang digunakan warga Rawa Badak untuk mencari nafkah sebagai petani dan berkebun di daerah Cibarola dan Babakan Uban kini terhambat.
Bahkan, warga Rawa Badak dikabarkan kompak akan menutup jalan akses pintu keluar perumahan BSK.
Lurah Soklat berharap ada solusi jangka panjang, seperti pembuatan jalur alternatif agar ketegangan di masyarakat tidak berujung pada bentrokan yang bisa merugikan banyak pihak.
“Kalau tidak segera diselesaikan, saya juga khawatir akan terjadinya bentrokan warga dengan perumahan BSK, karena persoalan ini juga berkaitan dengan masalah mata pencarian warga setempat sebagai petani dan pekebun,” pungkas Lurah Soklat.

















