Scroll untuk baca artikel
Banten RayaBeritaKriminal

Gerebek Tempat Penampungan PMI Ilegal di Tangerang, BP2MI Temukan 10 TKW Calon ART di Abu Dhabi

176
×

Gerebek Tempat Penampungan PMI Ilegal di Tangerang, BP2MI Temukan 10 TKW Calon ART di Abu Dhabi

Sebarkan artikel ini
Beberapa wanita calon Pekerja Migran Indonesia non-prosedural, yang berhasil digagalkan oleh Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). (Foto : istimewa)

Triberita.com | Tangerang Banten – Sebanyak 10 orang wanita yang hendak diberangkatkan sebagai calon Pekerja Migran Indonesia atau PMI non-prosedural, berhasil digagalkan oleh Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).

Mereka yang berhasil diselamatkan umumnya perempuan, yang akan dipekerjakan menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Salah satu diantaranya, Novi Pertiwi (24), berasal Labuhan Haji, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) nyaris menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) non prosedural yang hampir diberangkatkan ke Abu Dhabi melalui agen ilegal.

Pengakuan Novi, dirinya mendapat informasi keberadaan agen yang mampu memberangkatkan ke luar negeri dari temannya, dengan iming-iming mendapat gaji besar.

Tidak berpikir panjang, wanita asal Lombok Timur itu langsung mengabarkan kepada keluarga untuk diizinkan bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART).

“Awalnya saya tahu ada travel yang bisa memberangkatkan kerja ke luar negeri itu dari teman yang sudah lebih dulu kerja disana. Setelah itu, saya berangkat naik pesawat ke Bandara Soekarno-Hatta, tapi minta izinnya ke suami mau kerja di Jakarta, bukan pergi ke luar negeri,” terangnya.

Setibanya di lokasi agen yang berada di wilayah Neglasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten, dirinya pun mengajukan untuk diberangkatkan kerja ke luar negeri.

Mendapati adanya korban baru itu, pihak agen tersebut langsung menawari kontrak bekerja kepadanya di negara Abu Dhabi, dengan kurun waktu selama dua tahun.

Selain itu, untuk memikat korbannya, agen itu juga menjanjikan akan menanggung seluruh biaya administrasi dan tiket perjalanan ke luar negeri.

“Mereka menawarkan bekerja sebagai ART di Abu Dhabi dengan kontrak selama dua tahun sekitar Rp4 juta lebih. Katanya saya tidak akan mengeluarkan uang sama sekali, semua keperluan seperti paspor, visa dan tiket pesawat akan ditanggung,” ungkapnya.

Baca Juga :  Mahasiswi Berparas Cantik Dibunuh Pakai Kloset Rasyid Chaniago : Polisi Harus Usut Tuntas

Selama berada di tempat penampungan agen, Novi harus bersabar menunggu giliran untuk berangkat selama tiga bulan dengan iming-iming harus menjalani pelatihan keahlian terlebih dahulu.

Perempuan yang diketahui telah memiliki satu anak itu, mengaku bertemu dan disatukan dengan sejumlah wanita lain dari berbagai daerah yang juga hendak berangkat ke luar negeri.

“Selama di penampungan, saya enggak ada pelatihan, disuruh tinggal di kos-kosan, terus diberi biaya buat makan sehari-hari, dan sampai sekarang sudah satu bulan enggak berangkat juga,” tuturnya.

Hingga pada Jumat (19/1/2024) lalu, pada akhirnya BP2MI bersama dengan jajaran kepolisian setempat, menggagalkan keberangkatannya.

“Saya nekat melakukan ini karena faktor ekonomi yang dialami keluarga. Jadi saya pilih kerja yang memang menjanjikan,” ujar dia.

Sebelumnya, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), telah menerima sebanyak 10 orang pekerja migran Indonesia (PMI) yang menjadi korban penempatan kerja secara non-prosedural ke luar negeri untuk dipulangkan ke daerah asal masing-masing.

Deputi Penempatan dan Pelindungan Kawasan Eropa dan Timur Tengah BP2MI I Ketut Suardana menyampaikan bahwa ke-10 PMI ini telah dibawa dan ditempatkan di Gedung Shelter BP3MI Banten, untuk nantinya dikembalikan ke masing-masing daerah asal mereka.

“Kami akan terus berupaya melakukan pencegahan terhadap praktik terkait sindikat penyeludupan PMI sebagaimana tertuang dalam undang-undang 18 tahun 2012 tentang perlindungan pekerja Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan, para PMI non-prosedural yang berhasil digagalkan oleh pihaknya tersebut, diketahui akan diberangkatkan ke negara Timur Tengah diantaranya seperti, Arab Saudi, Dubai, Saudi Arab, Bahrain dan Uni Emirat Arab.

Adapun identitas dari 10 calon pekerja migran ini semuanya perempuan, berumur kisaran 23 sampai 54 tahun dengan daerah berasal dari Provinsi Jawa Barat, Banten dan Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga :  Polresta Bandara Soetta Ringkus 3 Pelaku Sindikat Perdagangan Orang, satu Diantaranya Wanita Tua

Beberapa waktu lalu, Serikat Buruh Migran Indonesia Nusa Tenggara Barat (SBMI NTB) mendapat pengaduan dari dua Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lombok yang disiksa dan tak digaji majikan di Timur Tengah, yaitu di Irak dan Arab Saudi.

Dua PMI tersebut, yaitu Siti Mahyati (37 tahun) asal Desa Surabaya Utara, Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur, dan Fitri Nuhidayati asal Batu Belek, Desa Aikmel, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur.

Ketika mengadu ke SBMI NTB, pihak keluarganya mengatakan, bahwa Siti Mahyati dikirim oleh sponsor berinisial MI asal Pohgading Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur.

Siti Mahyati yang dipekerjakan sebagai PRT di Dukhok, Irak sering dipukul oleh majikannya dan gajinya tidak dibayar.

Siti kemudian menghubungi keluarganya di Lombok Timur dan pihak keluarga mengadu ke SBMI NTB meminta tolong agar dipulangkan karena tidak tahan oleh perlakuan majikanya.

Facebook Comments
Example 120x600