Triberita.com | Serang Banten – Hari jadi Kabupaten Serang, Provinsi Banten, jatuh pada tanggal 8 Oktober Tahun 1526 M.
Hari ini, adalah tanggal saatnya Kabupaten Serang yang memiliki sejarah dan budaya yang kaya, didirikan.
Pada Selasa (7/10/2025) kemarin, atau sehari menjelang hari jadi ke 499, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, melaksanakan ziarah ke makam Bupati Serang pertama, Brigjen KH Syam’un.
Turut mendampingi Bupati Serang, Wakil Bupati Muhammad Najib Hamas, Ketua DPRD Bahrul Ulum, Wakil Ketua DPRD Maksum, Sekda Zaldi Dhuhana, serta pejabat eselon II, camat se-Kabupaten Serang, tokoh ulama, dan unsur Forkopimda.
Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkian HUT ke-499 Kabupaten Serang ini, dan sudah menjadi rutinitas bagi para pejabat Pemkab Serang setiap tahun.

“Ziarah ini, merupakan agenda rutin tahunan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang untuk menghormati jasa para pendahulu,” ujar Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, Selasa (7/10/2025).
Tiga lokasi yang diziarahi, adalah Makam Sultan Maulana Hasanudin Banten dan Makam Sultan Maulana Yusuf di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, serta Makam Bupati Serang pertama yang juga Pahlawan Nasional, Brigjen KH. Syam’un.
“Hari ini dalam rangka rangkaian Hari Jadi Kabupaten Serang, kita melakukan ziarah ke makam para Pahlawan untuk menghormati dan mendoakan mereka,” ujarnya.
Makam Pejuang Kemerdekaan Brigjen KH Syamun yang lahir di Kampung Beiji pada tanggal 15 April 1883, berada di Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Bupati mengatakan, ziarah ini menjadi momentum untuk meneladani semangat kepemimpinan para pendahulu, terutama Brigjen KH. Syam’un sebagai bupati pertama.

“Tentu, sebagai generasi penerus, banyak pelajaran yang harus saya lanjutkan. Intinya, kita harus berorientasi kepada kebutuhan dan kepentingan masyarakat, serta bertanggung jawab juga amanah dalam menjalankan tugas,” tandasnya.
Prosesi ziarah di setiap lokasi berlangsung khusyuk, dipimpin oleh Pimpinan Pondok Pesantren Nursejati, Damanhuri, dan diakhiri dengan tabur bunga bersama.
Turut serta dalam ziarah tersebut, di antaranya Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas, Ketua DPRD Bahrul Ulum, Sekretaris Daerah Zaldi Dhuhana, dan unsur Forkopimda Kabupaten Serang.
Brigjen KH Syam’un : Ulama, Birokrat, Militer dan Pahlawan Nasional dari Banten
Presiden Jokowi resmi menganugerahi Brigjen KH Syam’un menjadi Pahlawan Nasional. Namanya kini sejajar dengan sultan dari Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa dan Ketua Pemerintah Darurat RI Syafurdin Prawiranegara yang lebih dahulu dianugerahi pahlawan nasional oleh pemerintah.
Brigjen KH Syam’un, merupakan cucu dari Kiai Wasyid yang merupakan pemimpin perjuangan Geger Cilegon pada 1888 melawan Belanda.
Lahir pada tahun 1883 K.H Syam’un menjadi pelopor pengajaran Islam tradisional melalui Al-Khairiyah di Banten yang kemudian tersebar di Jawa sampai Sumatera.
Dalam perjuangannya, KH Syam’un pernah bergabung dengan Pembela Tanah Air atau Peta pada 1943-1945 dan terlibat untuk pembentukan pemerintah daerah dan diangkat menjadi bupati Serang.
Dikutip dari biografi KH Syam’un, yang disusun oleh Mufti Ali dkk, yang merupakan adaptasi dari naskah akademik usulan Pemprov Banten untuk gelar pahlawan nasional, Brigjen KH Syam’un, juga pernah menjadi komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan berada di garis depan pengusiran tentara Jepang pada 1945.
Pada Oktober 1945 sampai Januari 1946, Brigjen KH Syam’un turut berupaya menumpas Gerakan Dewan Rakyat.
Kemudian, diangkat menjadi panglima TKR Divisi 1000/I dan kemudian diangkat menjadi komandan Brigade I/Tirtayasa periode 1946-1947. Brigade I/Tirtayasa merupakan cikal bakal Korem Maulana Yusuf Serang.
Syam’un muda, menempuh pendidikan di Makkah dan Mesir. Saat kepulangannya ke Banten pada 1915, ia mendirikan pesantren di kampung halamannya di Citangkil, Cilegon.
Beberapa tahun kemudian, pesantren ini bertransformasi menjadi madrasah Al-Khairiyah yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga pengetahuan umum.
Madrasah ini, kemudian menjadi pelopor pembaharu pendidikan Islam di daerah Banten dan masih tetap ada sampai sekarang.
Dari gerakan pesantren dan madrasah, KH Syam’un bertransformasi menjadi tokoh militer dan ikut andil dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, khususnya di Banten.
Status sosialnya sebagai ulama di Banten, menjadikan Syam’un diangkat menjadi komandan batalyon (daidancho) Peta bersama K.H Achmad Chatib oleh Jepang.
Setelah Jepang kalah oleh pasukan sekutu, KH Syam’un kemudian diangkat menjadi ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk Keresidenan Banten dan Serang pada 1945.
Badan ini kemudian yang mengusir tentara Jepang di markas Kenpetai melalui baku tempak di kampung Benggala.
Pada Oktober 1945, begitu dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Komandemen 1/Jawa Barat membentuk Divisi 1 TKR dengan nama Divisi 1000/1 dengan panglima divisinya, yakni K.H Syam’un dengan pangkat kolonel.
Di bawah pimpinanya, Divisi 1 TKR menumpas Gerakan Dewan Rakyat yang menangkap tokoh-tokoh penting pemerintahan di Banten. Bahkan karena gerakan ini, ada desas-desus Banten akan melepaskan diri dari Indonesia.
Hal ini kemudian mendorong Sukarno dan Hatta harus turun ke Banten dan meyakinkan rakyatnya.
Pada 1946, terjadi penggantian jabatan di Banten dan pilihannya jatuh kepada KH Syam’un untuk menjadi Bupati Serang.
Naiknya ulama di lingkungan pemerintahan, diharapkan menjaga kedaulatan RI dari ancaman termasuk tentara Belanda yang datang setelah Jepang kalah dari sekutu.
Saat Tentara Keamanan Rakyat mengalami perubahan dan restrukturisasi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada 1946, Komandemen 1/Jawa Barat berubah menjadi Divisi I/Siliwangi dan dipimpin oleh Panglima Jenderal Mayor A.H Nasution.
Divisi ini kemudian membawahi lima brigade salah satunya Brigade I/Tirtayasa di Banten dengan komandan Kolonel K.H Syamun.
Dalam perkembangannya, karena merangkap menjadi bupati, KH Syam’un kemudian diganti oleh Letnan Kolonnel Soekanda Bratamenggala.
Saat terjadi agresi militer Belanda pada 1948-1949, terjadi perang gerilya di berbagai daerah, termasuk di Banten.
KH Syam’un yang waktu itu Bupati Serang, ikut bergerilya ke Gunung Cacaban di Anyer. Saat itu, terjadi peperangan sengit antara tentara dan pasukan agresi militer Belanda di sana.
Dua bulan kemudian, KH Syam’un meninggal saat bergerilnya di usia ke-66, karena penyakit yang dideritanya.
“Dalam perjuangan gerilyanya di hutan dan di gunung, ia rela meninggalkan jabatannya sebagai seorang bupati untuk bersusah payah di hutan dan sakit. Sampai akhir hayatnya, ia tetap berusaha untuk membela negara dan menjaga kehormatan bangsa dari ancaman bangsa lain,” tulis buku tersebut.
















