Scroll untuk baca artikel
BeritaPeristiwa

Serpihan Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung Pangkep bagian Utara

165
×

Serpihan Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung Pangkep bagian Utara

Sebarkan artikel ini
Potongan serpihan dinding Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang ditemukan pendaki di Gunung Bulusaraung Pangkep, pada hari Sabtu sore tanggal 17 Januari 2026. (Foto : istimewa)

Triberita.com | Makassar Sulsel  – Kabar hilangnya pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport yang membawa 11 orang penumpang, mulai menemui titik terang. Setelah dinyatakan hilang kontak, pada Sabtu (17/1/2026) pukul 13.17 WITA, kemarin.

Serpihan pesawat dengan nomor registrasi PK-THT tersebut, dilaporkan ditemukan di kaki Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi, oleh salah seorang pendaki yang merekam serpihan pesawat di atas gunung.

Saat ini, Minggu (18/1/2026) pagi, Tim SAR gabungan telah berada dilokasi temuan awal serpihan pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport untuk proses evakuasi dan pencarian lebih lanjut.

Upaya penyisiran meluas keberadaan pesawat ATR-42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/01/2026), TNI Angkatan Udara, Lanud Sultan Hasanuddin, juga mengerahkan Helikopter H225M Caracal H-2213 untuk membantu pencarian.

Penemuan tersebut disampaikan Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, usai tim melakukan penyisiran lanjutan di area pegunungan yang berada di sekitar jalur penerbangan pesawat.

Lokasi serpihan teridentifikasi di lereng bagian selatan gunung, dengan posisi medan yang cukup sulit dijangkau.

“Pukul 07.49 WITA, penemuan besar badan pesawat informasi dicurigai sebagai badan pesawat dan ekor pesawat di lereng di bagian selatan. Bagian bawah lereng itu di kalau dari puncak itu di bagian utaranya. Seperti itu,” terang Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan.

Sementara informasi diterima Basarnas dari Kantor Pelayanan Navigasi, AirNav Indonesia Cabang MATSC, di Makassar, pesawat tersebut hilang kontak di titik koordinat 04*57’08” S 119*42’54”E.

Pesawat ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut, melaksanakan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dengan Pilot in Command Capt. Andy Dahananto.

Baca Juga :  PTUN Jakarta Pertegas Posisi Felix Belanusa Pieter Sebagai Pemegang Saham Mayoritas PT Multi Sarana Perkasa.

Sebelumnya pesawat mengudara sekitar 1 jam 5 menit dan pukul 11.45 WIB saat approach Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, hilang kontak.

Pesawat ATR 42-500 merupakan milik Indonesia Air Transport yang membawa 11 manifest terdiri dari kru 8 orang, penumpang 3 orang.

Berdasarkan informasi Sabtu sore, 17, Januari 2025, manifest pesawat adalah sebagai berikut:

Kru Pesawat
– Capten Andy Dahananto
– Second in Command (SIC) First Officer (FO) Yudha Mahardika
– Ex-Check Unit Captain (XCU) atau seorang kapten senior, Sukardi
– Flight Operation Officer (FOO) Hariadi
– EOB. Franky D Tanamal
– EOB. Junaidi
– Flight Attendant (FA) Florencia Lolita
– Flight Attendant (FA) Esther Aprilita S

Penumpang
– Mr. Deden
– Mr. Ferry
– Mr. Yoga

Analis SAR Badan SAR Nasional, Joshua Banjarnahor mengungkapkan, saat ini Tim SAR Gabungan sedang menuju titik lokasi Pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Karst Leang Leang.

“Mohon doa untuk keselamatan Tim SAR Gabungan dalam mengevakuasi 11 manifest pesawat ATR yang diduga hilang kontak,” katanya.

Diberita Triberita.com sebelumnya, Tim SAR Basarnas Makassar, mengerahkan personel, merespons laporan adanya pesawat milik Indonesia Air Transport hilang di wilayah antara Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) – Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Kabarnya, pesawat ATR 42-500 milik IAT dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan rute Yogyakarta–Makassar, pada Sabtu (17/1/2026) disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Hingga kini, Basarnas dan tim SAR gabungan masih melakukan pencarian intensif di wilayah Kabupaten Maros dan sekitarnya .

Pesawat yang membawa 11 orang tersebut, terakhir kali terdeteksi berkomunikasi dengan petugas lalu lintas udara sekitar pukul 13.17 WITA, sebelum akhirnya dinyatakan dalam kondisi darurat.

“Saat ini kami menuju lokasi yang mana diberikan titik koordinat (lokasi hilang kontak) oleh Airnav Makassar di sekitaran Maros, Leang-leang,” ujar Kepala Seksi Operasi Kantor Basarnas Makassar, Andi Sultan melalui keterangan diterima, Sabtu (17/1/2026).

Baca Juga :  Sambangi Polres Metro Bekasi, Kartar Karang Baru Minta Kasus Oknum Preman Bayaran Usut Tuntas

Menurut Andi Sultan, pada tahap awal lima orang langsung diberangkatkan untuk melakukan asesmen. Tahap kedua, di kirim lagi 15 orang.

“Nanti akan disusul 40 personel bersama potensi SAR lainnya,” kata Sultan.

Berdasarkan data otoritas penerbangan, pesawat IAT lepas landas dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta dengan tujuan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Penerbangan ini dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dan membawa 8 kru serta 3 penumpang .

Penerbangan berlangsung normal pada fase awal dan pertengahan perjalanan tanpa laporan gangguan teknis.

Pesawat dijadwalkan mendarat di Makassar, sekitar pukul 12.20 WITA. Namun hingga melewati waktu tersebut, pesawat tidak mendarat dan belum tercatat melakukan anomali di bandara alternatif.

Petugas Air Traffic Control (ATC), kemudian melakukan upaya komunikasi berulang kali dengan pilot pesawat.

Sekitar pukul 13.17 WITA , komunikasi antara pilot dan ATC terputus saat pesawat berada di wilayah udara Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan.

Data navigasi, menunjukkan pesawat berada di sekitar kawasan Leang-Leang, Kabupaten Maros .

Beberapa saat sebelum komunikasi terhenti, ATC sempat memberikan arahan, karena pesawat yang dilaporkan tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya menuju Bandara Sultan Hasanuddin.

Setelah instruksi terakhir tersebut, tidak ada respon lanjutan dari pilot ATR 42-500.

Status Darurat Ditetapkan AirNav

Karena pesawat tidak dapat dihubungi dan tidak mendarat sesuai rencana, AirNav Indonesia secara resmi menetapkan status DETRESFA atau fase darurat, yang menandakan adanya kemungkinan ancaman serius terhadap keselamatan pesawat.

Penetapan status ini menjadi dasar dimulainya operasi pencarian dan pertolongan (SAR) .

Basarnas Makassar usai menerima laporan dari AirNav, langsung mengerahkan tim SAR ke lokasi titik koordinat pesawat terakhir.

Pencarian terfokus di wilayah Leang-Leang, Maros serta daerah sekitarnya yang masuk dalam proyeksi jalur penerbangan pesawat.

Baca Juga :  TNI Keberatan Atas Penetapan Tersangka Kabasarnas Oleh KPK

Tim SAR gabungan, menggunakan peralatan darat, kendaraan penyelamat, dan drone untuk menyisir area yang didominasi perbukitan dan hutan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai lokasi pesawat maupun kondisi kru dan penumpang.

Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, hingga Sabtu (17/1/2026) malam, pukul 17.30 WITA, masih terus berlangsung.

Pihak yang berwenang, mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan menunggu informasi resmi dari Basarnas serta otoritas penerbangan.

Penulis : Daeng Yusvin

Facebook Comments