Triberita.com |Tangerang Banten – Kasus Covid-19 di Tangerang Selatan (Tangsel) merangkak naik. Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Provinsi Banten mencatat, hingga kini jumlah kasus tersebut di wilayahnya mencapai 135 orang, dari sebelumnya hanya 64 orang.
Anggota Komisi IX DPR Arzeti Bilbina, meminta pemerintah mengantisipasi dan menyiapkan strategi dalam mencegah penyebaran virus COVID-19 dan Pneumonia, khususnya jelang libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024.
“Kondisi saat ini menunjukkan peningkatan kasus COVID-19 dan potensi wabah pneumonia yang dapat meluas, akibat lonjakan kerumunan dan mobilitas yang tinggi selama liburan,” katanya
Kepala Dinkes Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan penambahan kasus positif COVID-19 disumbang kasus baru yang masing-masing pasiennya telah menjalani isolasi mandiri.
Selain itu, ada temuan kasus baru virus corona pada Sabtu (16/12/2023), sehingga jika sebelumnya tercatat hanya ada 64 kasus saja, kini meningkat hingga mencapai 135 kasus.
Dari peningkatan kasus tersebut, lanjut dia, diketahui mereka atau pasien yang terjangkit positif COVID-19 hanya mengalami gejala ringan.
“Sampai sejauh ini terdapat 135 kasus. Kebanyakan pasien positif itu menjalani isolasi mandiri,”ujarnya, Minggu (17/12/2023).
Dengan adanya peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi di wilayahnya itu, pemerintah setempat terus berupaya melakukan pencegahan melalui 3T (testing, tracing dan treatment) atau tes, telusur dan tindak lanjut perawatan.
Selain itu, pihaknya juga kembali meningkatkan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan, serta menggenjot kegiatan vaksinasi COVID-19.
“Untuk itu kita akan terus kembali mengingatkan masyarakat dalam menerapkan prokes, agar terhindar dari penularan COVID-19,” kata dia.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan per 6 Desember 2023, rata-rata kasus harian COVID-19 bertambah sebanyak 35 sampai 40 kasus. Sementara, pasien yang dirawat di rumah sakit tercatat antara 60 sampai 131 orang.
Terbaru, 2 pasien COVID-19 di Jakarta dilaporkan meninggal dunia. Sedangkan untuk kasus virus Pneumonia, Kemenkes mencatat provinsi Jawa Barat menjadi yang paling banyak terdapat pasien positif.
Selanjutnya, untuk Insiden rate ISPA maupun Pneumonia, DKI Jakarta menjadi yang tertinggi dibanding provinsi lainnya, akibat buruknya kualitas udara.
“Munculnya kasus Pneumonia misterius yang menyerang anak, harus menjadi perhatian serius. Kita tidak boleh main-main karena penyakit ini mengancam anak-anak yang sangat rentan dengan penyebaran virus,”terangnya.
Dia juga mendorong dilakukannya peningkatan kapasitas Rumah Sakit (RS) di seluruh Indonesia. Arzeti menyebut, peningkatan kapasitas di RS termasuk penambahan tempat tidur, fasilitas perawatan intensif, dan personel medis yang memadai.
“Pemerintah juga harus menjamin bahwa persediaan peralatan medis mencukupi, untuk mengatasi kebutuhan selama lonjakan kasus. Ini mencakup ventilator, alat tes, dan perlengkapan medis lain,” harapnya.
Arzeti menyarankan beberapa langkah-langkah pencegahan dapat dilakukan yakni dengan pemberian vaksin Pneumonia dan vaksin Flu sesuai jadwal yang direkomendasikan dokter. Dia meminta pemerintah menggalakkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya vaksinasi, khususnya untuk anak-anak agar terhindar dari penyakit Pneumonia misterius.
Bahkan, Arzeti menekankan pentingnya memasifkan informasi mengenai imunisasi Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) bagi anak-anak, yang saat ini sudah menjadi program gratis dari Pemerintah. Imunisasi PCV merupakan cara tepat untuk mencegah penyakit Pneumonia.

















