Scroll untuk baca artikel
Banten Raya

Balawista Himbau Nelayan dan Wisatawan Waspada Tinggi Gelombang 4 Meter di Banten Selatan

424
×

Balawista Himbau Nelayan dan Wisatawan Waspada Tinggi Gelombang 4 Meter di Banten Selatan

Sebarkan artikel ini
Ketua Balawista Kabupaten Lebak Erwin Komarasukma. (Foto : Balawista)

Triberita.com | Serang Banten – Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, meminta nelayan tradisional dan wisatawan agar mewaspadai tinggi gelombang 4 meter di perairan selatan Banten dan Samudera Hindia, guna menghindari kecelakaan laut.

Penyampaian tinggi gelombang perairan selatan Banten dan Samudera Hindia, dikatakan Erwin Komarasukma, agar tidak menimbulkan kecelakaan laut, karena tinggi gelombang 4 meter, bisa mengancam keselamatan nelayan tradisional.

Sebab sebagian besar nelayan tradisional di pesisir selatan Banten dan Samudera Hindia menggunakan mesin motor tempel dengan perahu panjang 2,5 meter dan lebar 1,2 meter.

“Kami berharap nelayan waspadai tinggi gelombang Perairan Selatan Banten dan Samudera Hindia yang mencapai 4 meter untuk menghindari kecelakaan laut,” kata Ketua Balawista Kabupaten Lebak Erwin Komarasukma saat dihubungi, pada Minggu (8/9/2024).

Ratusan perahu nelayan tradisional di pesisir selatan Banten yang menggunakan mesin motor tempel sejak beberapa pekan terakhir, tidak melaut dikarena kondisi cuaca seperti laporan BMKG, bahwa tinggi gelombang Perairan Selatan Banten dan Samudera Hindia, berkisar antara 2,5 meter hingga 4 meter. (Foto : Daeng Yusvin)

Juga kepada wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata pantai di selatan Banten, Erwin mengingatkan agar tetap harus hati hati, dan disarankan tidak melakukan aktifitas berenang di tempat yang berbahaya, karena sewaktu-waktu ombak tinggi.

“Kepada seluruh anggota Balawista yang sedang melakukan tugas, agar selalu mengawasi keadaan, dan selalu memberikan himbauan kepada para wisatawan atau pengunjung pantai maupun warga, tentang kondisi cuaca saat ini dan terus mewaspadai kemungkinan terjadi gelombang tinggi mencapai 4 meter di perairan selatan Banten dan Samudera Hindia, guna menghindari kecelakaan laut,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, Berdasarkan laporan BMKG, bahwa tinggi gelombang Perairan Selatan Banten dan Samudera Hindia, berkisar antara 2,5 meter hingga empat meter pada Minggu (8/9/2024) dan Senin (9/9/2024).

Dengan demikian, nelayan pesisir Selatan Banten mulai dari Pantai Binuangeun, Tanjung Panto, Suka Hujan, Cibobos, Cihara, Panggarangan, Bayah, Pulomanuk, dan Sawarna, agar waspada jika melaut guna menghindari kecelakaan laut.

Baca Juga :  Ditpolairud Polda Banten Lakukan Evakuasi 6 Nelayan yang Meninggal di Kapal

Sebab, menurut Erwin Komarasukma, pada pekan kemarin, seorang nelayan yang sendang mencari rumput laut, mengalami kecelakaan setelah diterjang ombak besar di Pantai Goa Sangir kawasan Sawarna dan ditemukan meninggal dunia.

“Kami minta nelayan waspada jika melaut agar tidak menimbulkan korban jiwa,” katanya menjelaskan.

Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Lebak Rizal Ardiansyah, meminta nelayan tradisional di wilayahnya agar menggunakan rompi pelampung saat melaut guna menjaga keselamatan di tengah tingginya gelombang Perairan Selatan Banten dan Samudera Hindia.

Selama ini, nelayan di Kabupaten Lebak ada sekitar 3.600 orang, namun penggunaan rompi relatif kecil, sehingga sering menimbulkan kecelakaan laut.

Penggunaan pakaian pelampung itu sangat bermanfaat untuk menghindari kecelakaan laut.

“Kami mengingatkan agar semua nelayan tradisional memakai pelampung jika cuaca buruk untuk keselamatan jiwa,” katanya.

Ketua Koperasi Nelayan Bina Muara Sejahtera Binuangeun Kabupaten Lebak Wading mengatakan, sejak beberapa hari terakhir ini, nelayan tradisional tidak melaut akibat cuaca buruk yang ditandai gelombang tinggi disertai angin kencang.

Para nelayan tradisional yang tidak melaut itu menggunakan tangkapan perahu dan mesin motor tempel.

Sebab, tinggi gelombang di perairan Banten selatan atau Samudra Hindia berkisar antara 2,5 meter sampai 4.0 meter, sehingga kondisi demikian, para nelayan tradisional itu tidak berani melaut untuk menghindari kecelakaan laut.

“Semua nelayan yang tidak melaut itu sebagai anggota koperasi dan kini mereka usaha lain untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,” katanya.

Facebook Comments