Scroll untuk baca artikel
BeritaOlahragaSubang

Harga Diri Persikas Diobral di Meja Lelang, 2025 Awal Kehancuran Olahraga Subang

888
×

Harga Diri Persikas Diobral di Meja Lelang, 2025 Awal Kehancuran Olahraga Subang

Sebarkan artikel ini
Tokoh Olahraga Subang, Fitriyadi,

Triberita.com ǀ Subang – Gelombang kegelisahan menyelimuti bumi Subang. Tahun 2025 menjadi penanda kelam bagi olahraga daerah itu, tatkala klub sepak bola kebanggaan, Persikas, resmi dijual. Ikon yang terukir dalam sejarah panjang kabupaten ini kini berakhir di meja lelang, mereduksi nilai sejarah menjadi angka semata.

Penjualan ini tak hanya menyoroti jurang pemisah antara semangat perjuangan pendahulu dengan keputusan tergesa-gesa segelintir pengurus baru, tetapi juga mempertanyakan komitmen mereka terhadap marwah sepak bola Subang.

Tokoh Olahraga Subang, Fitriyadi, atau akrab disapa Wa Fitri, mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam. Alumni FPOK UPI dan mantan Kepala Bagian Bimpres KONI Subang 2020-2024 ini menegaskan, Persikas bukan sekadar klub biasa bagi masyarakat Subang.

“Ia adalah ikon, bagian tak terpisahkan dari identitas daerah yang telah ada sejak lama,” ujarnya.

Nama Persikas, menurut Wa Fitri, telah dikenal sejak zaman dahulu, menjadi kebanggaan yang diperjuangkan dengan susah payah oleh para pendiri dan pendukung setia.

Adagium populer ‘Janganlah sekali-kali melupakan sejarah’ mestinya menjadi pegangan. Namun, langkah menjual Persikas justru dinilai seperti ingin melupakan sejarah itu sendiri. Para sesepuh dan pendukung setia Persikas sangat prihatin.

Mereka mempertanyakan komitmen pengurus baru yang dinilai tidak memahami esensi dan nilai historis klub.

“Orang-orang baru tidak mengenal olahraga,” kritik Wa Fitri, menyiratkan kekecewaan mendalam terhadap pihak-pihak yang kini berkuasa.

Keputusan menjual Persikas juga disorot tajam karena dianggap tidak transparan dan tidak melibatkan partisipasi publik.

“Harusnya keputusannya melibatkan publik, pejabat pemerintah, perusahaan-perusahaan besar, suporter Persikas, dan manajemen Persikas,” tegas Wa Fitri.

Anggapan bahwa keputusan ini diambil secara individu atau segelintir orang tanpa musyawarah telah menimbulkan penolakan luas. Mengambil keputusan secara pribadi, apalagi menyangkut marwah Persikas, dinilai tidak sehat.

Baca Juga :  Detik-detik Kios Miras Oplosan di Subang Diamuk Warga setelah Tragedi 12 Orang Tewas 

Meskipun diakui bahwa biaya untuk berkompetisi di Liga 2 sangat besar, mencapai puluhan miliar rupiah, dan Persikas belum memiliki nilai jual setinggi klub besar seperti Persib, namun bukan berarti jalan keluar satu-satunya adalah menjual klub.

Saran untuk mencari konsorsium atau pengusaha besar dari luar Subang, seperti yang dilakukan oleh Raffi Ahmad dengan RANS Nusantara FC, sebenarnya telah muncul. Namun, opsi ini tampaknya belum diupayakan secara maksimal atau terkesan diabaikan.

Penjualan Persikas juga menimbulkan pertanyaan mengenai nasib uang hasil penjualan dan transparansi pengelolaannya, karena publik tidak mengetahui harganya berapa. Ini semakin memperkuat dugaan bahwa keputusan ini tidak didasari oleh kepentingan bersama, melainkan kepentingan segelintir pihak.

Bagi banyak masyarakat Subang, Persikas adalah harga diri. Penjualan klub ini bukan hanya akan menghilangkan sejarah yang telah dibangun bertahun-tahun, tetapi juga mengkhianati perjuangan generasi terdahulu yang telah berupaya keras mempertahankan nama Persikas hingga saat ini.

Facebook Comments