Scroll untuk baca artikel
BeritaSubang

Jejak Tragedi Bunuh Diri Dibalik “Gudang Angker” PT Matsuoka, Saksi Bisu Intimidasi dan Praktik Pencabulan

605
×

Jejak Tragedi Bunuh Diri Dibalik “Gudang Angker” PT Matsuoka, Saksi Bisu Intimidasi dan Praktik Pencabulan

Sebarkan artikel ini
Suasana Depan Pabrik PT.Matsuoka Patokbeusi Kabupaten Subang (Foto: Harun)

Triberita.com | Subang – Tabir gelap yang menyelimuti PT Matsuoka, Patokbeusi, perlahan mulai tersingkap. Bukan sekadar kasus pelecehan seksual biasa, temuan tim investigasi Triberita.com di lapangan menunjukkan adanya jejak trauma masa lalu dan kondisi lingkungan kerja  mencekam, yang diduga menjadi celah bagi oknum predator untuk melancarkan aksinya.

​Gedung Mess Belakang: Lokasi Angker Jadi Saksi Bisu

​Dugaan praktik pencabulan yang dilakukan oknum leader berinisial T terhadap pekerja wanita terjadi di area gudang/mess belakang pabrik. Lokasi ini ternyata menyimpan kisah kelam; beberapa tahun ke belakang, seorang staf ahli bahasa Jepang (penerjemah) ditemukan tewas bunuh diri di gedung tersebut.

​Kabar ini dibenarkan oleh Apung, seorang jurnalis TV yang meliput kejadian kala itu.

“Iya benar, kejadian (bunuh diri) tersebut beberapa tahun ke belakang. Staf tersebut memiliki jabatan cukup berpengaruh di jajaran manajemen,” ungkapnya.

​Sejak tragedi itu, Gedung Mess Belakang dibiarkan kosong karena para karyawan merasa takut dan dihantui rasa trauma.

“Gedung belakang sudah tidak ditempati semenjak ada staf yang bunuh diri, jadi karyawan sampai hari ini masih takut,” ujar salah seorang karyawan PT Matsuoka kepada Triberita.com.

​Analisis: Kesunyian yang Disalahgunakan

​Kondisi gedung yang sepi dan dijauhi karyawan inilah yang diduga menjadi strategi “aman” bagi oknum T. Memanfaatkan ketakutan karyawan akan hal mistis di gedung tersebut, pelaku justru menjadikannya tempat paling ideal untuk menyekap dan mengintimidasi korban tanpa gangguan.

​Keberanian Ira untuk merekam kejadian tersebut dengan ponsel menjadi titik balik penting. Di tengah suasana mess yang sunyi dan menyeramkan bagi banyak orang, Ira justru harus berhadapan dengan “setan” nyata dalam wujud atasan yang mengancam mata pencahariannya.

Baca Juga :  Diduga Korupsi Pajak, Kabid Bapenda Subang Terus Bungkam dan Menghindar

​Tekanan Intimidasi yang Mengakar

​Temuan ini memperkuat analisis bahwa praktik pencabulan di PT Matsuoka bukan sekadar nafsu sesaat, melainkan adanya pola tekanan yang memanfaatkan psikologis karyawan.

Karyawan perempuan dihadapkan pada dua ketakutan: trauma masa lalu gedung tersebut dan ancaman pemecatan jika tidak menuruti kemauan seksual atasan.

​”Modusnya cerdik sekaligus keji. Pelaku tahu area mana yang jarang dipantau dan memanfaatkan posisi tawarnya sebagai leader untuk membungkam korban,” tulis tim investigasi dalam catatan lapangannya.

​Desakan Sanksi Daftar Hitam

​Fakta mengenai adanya area pabrik yang tidak terawat hingga menjadi lokasi tindak pidana menunjukkan kelalaian besar manajemen dalam aspek K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) lingkungan. Komnas Perempuan dan Disnakertrans Subang kini didesak untuk mengevaluasi secara total PT Matsuoka.

​”Jika manajemen membiarkan gedung belakang menjadi ‘zona liar’ yang memicu pencabulan berulang, maka sudah selayaknya perusahaan ini masuk dalam daftar hitam investasi di Kabupaten Subang,” tegas narasi yang berkembang di tengah masyarakat.

​Selasa siang (3/2/2026), rombongan manajemen PT Matsuoka dilaporkan masih menjalani pemeriksaan intensif di Polres Subang menggunakan dua mobil operasional perusahaan untuk menjelaskan rentetan peristiwa yang mencoreng dunia industri ini.

Facebook Comments