Scroll untuk baca artikel
Sosial Budaya

Kebiasaan dan Larangan di Jepang yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Berkunjung

504
×

Kebiasaan dan Larangan di Jepang yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Berkunjung

Sebarkan artikel ini
Jepang menjadi salah satu destinasi liburan impian bagi banyak orang. Tak hanya menyuguhkan pemandangan indah, Jepang kental akan budayanya yang memukau, makanan enak, hingga hal-hal unik yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya. (Foto : istimewa)

Triberita.com  JEPANG adalah negara yang unik karena berhasil mempertahankan banyak aspek budaya tradisional, seperti upacara teh, seni bela diri, dan festival kuno, tetapi tetap menjadi salah satu pemimpin dunia dalam inovasi teknologi dan desain.

Jepang, juga menjadi negara tujuan wisata yang selalu ramai pengunjung saat libur pergantian musim.

Sebelum terbang ke Jepang, pastikan kamu sudah mengetahui kebiasaan dan larangan unik di Jepang.

Jepang jadi destinasi wisata populer karena perpaduan unik antara tradisi kuno dan teknologi modern yang menarik wisatawan dari seluruh dunia.

Negara ini, menawarkan berbagai pengalaman, mulai dari keindahan alam, gedung-gedung futuristik, hingga kuil-kuil bersejarah.

Wisata kuliner Jepang, juga menjadi daya tarik utama. Selain itu, keramahan dan kedisiplinan penduduknya, transportasi umum yang sangat efisien, serta beragam festival dan acara budaya sepanjang tahun membuat Jepang menjadi destinasi yang tak terlupakan.

Selain itu, masyarakat Jepang terkenal dengan etika kerja yang sangat disiplin serta penghormatan terhadap alam dan sesama yang sangat tinggi.

Kombinasi antara budaya Jepang, kedamaian, dan kemajuan teknologi membuat Jepang memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan negara lain sehingga banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke Jepang.

Dilansir dari Go World Travel, demi menghormati warga lokal Jepang, kamu bisa mempelajari dulu beberapa kebiasaan di Jepang ini sebelum berkunjung ke Jepang.

Belajar Frasa Dasar Penting

Belajar frasa dan kata dasar dalam bahasa Jepang bisa memberikan pengalaman yang menyenangkan saat berinteraksi dengan orang Jepang.

Salah satu frasa yang sering digunakan adalah “Ohayo” yang berarti “Selamat Pagi” atau “Halo” yang bisa digunakan untuk menyapa orang di jalan.

Selain itu, “Arigatou” yang berarti “Terima kasih” sering diucapkan dalam situasi sehari-hari, bahkan untuk bantuan kecil sekalipun.

Frasa lain yang juga penting, adalah “Sumimasen” yang dapat diterjemahkan sebagai “Permisi” atau ”Maaf” yang sering digunakan untuk meminta perhatian seseorang atau meminta izin dalam etika di Jepang.

Dengan mempelajari frasa-frasa dasar ini, kamu bisa menunjukkan penghargaan terhadap budaya Jepang serta menciptakan kesan yang baik dalam interaksi sosial.

Menghindari Pengucapan Angka 4

Dalam bahasa Jepang, angka 4 diucapkan sebagai “shi” yang memiliki pelafalan serupa dengan kata yang berarti “mati”.

Oleh karena itu, angka 4 dianggap sangat tidak beruntung dalam budaya Jepang dan banyak orang menghindari pengucapan dan penggunaan angka ini dalam berbagai situasi.

Sebagai contoh, banyak bangunan, terutama rumah sakit dan hotel, yang menghindari penggunaan angka empat pada lantai atau nomor kamar mereka.

Baca Juga :  Amalan Utama di Bulan Ramadhan dan Zodiak yang Tetap Aktif Beraktivitas selama Jalani Puasa Ramadhan. Kamukah salah satunya?

Dalam beberapa kasus, lantai atau nomor kamar yang seharusnya bernomor empat digantikan dengan angka lain, seperti 5.

Menghindari Jabat Tangan

Di banyak budaya, seperti di Jepang dan beberapa negara Asia lainnya, jabat tangan dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap ruang pribadi seseorang.

Sebagai gantinya, mereka lebih memilih memberi penghormatan berupa sedikit membungkukkan badan sedikit, yang dikenal sebagai “ojigi”.

Bungkukan ini dapat bervariasi dalam kedalaman dan durasinya tergantung pada situasi dan status orang yang disapa.

Hal ini menunjukkan, bahwa nilai-nilai sopan santun dan penghargaan terhadap ruang pribadi lebih penting daripada kontak fisik langsung, seperti berjabat tangan.

Mengutamakan sopan santun dengan menghindari kontak fisik langsung, menunjukkan perhatian terhadap perasaan dan batasan orang lain serta dianggap lebih berarti daripada sekadar formalitas sosial.

Menyiapkan Kartu Nama
Jika pergi ke Jepang, apalagi untuk urusan bisnis seperti di Tokyo, kamu harus membawa beberapa lembar kartu nama.

Cara bertukar kartu nama di Jepang, yaitu dengan menerima kartu nama lawan bicara dengan kedua tangan dan membungkuk kecil sebelum memberikan milikmu.

Siapkan Masker
Warga Jepang terbiasa dengan penggunaan masker ketika meninggalkan rumah jauh sebelum Covid-19 datang.

Jadi, jangan lupa untuk membawa jumlah masker yang cukup ketika ke Jepang.

Selain itu, Jepang adalah negara yang punya banyak aturan dan kebiasaan yang kompleks.

Kamu mungkin tidak akan menyadarinya sebelum dinyatakan melanggar.

Jadi, jika bingung dengan kebiasaan atau tradisi tertentu, jangan malu untuk bertanya.

Tidak Makan di Jalan

Di Jepang, hampir tidak ada sampah berupa botol, kaleng, atau kertas yang berserakan di mana pun.

Setiap jalan terjaga kebersihannya dengan sangat baik. Salah satu rahasianya adalah kebiasaan orang Jepang yang tidak makan atau minum sambil berjalan.

Makan di tempat, seperti restoran atau gerai, biasanya dilakukan di meja atau area yang disediakan.

Mereka lalu akan membawa sampah mereka untuk dibuang di rumah atau membuangnya di tempat sampah yang tersedia di area tertentu.

Kebiasaan saat Naik Taksi

Banyak pengemudi taksi di Jepang mengenakan sarung tangan putih sebagai bagian dari standar layanan tinggi yang ditawarkan oleh taksi Jepang serta tanda profesionalisme dan kesopanan.

Pengemudi taksi di Jepang, juga lebih suka menjaga ketenangan selama perjalanan dan tidak mengobrol kecuali penumpang yang memulai percakapan.

Selain itu, hampir semua taksi di Jepang dilengkapi dengan pintu otomatis yang akan dibuka dan ditutup oleh pengemudi.

Jika kamu tidak fasih berbahasa Jepang, minta bantuan kepada orang di sekitar atau bertanya pada mesin pencari bagaimana cara menyebutkan tujuanmu dalam bahasa Jepang.

Baca Juga :  Serunya Berburu Takjil di Hari Perdana Ramadhan 2023, Penjual Gorengan di Cikarang Diserbu Pembeli

Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kebingungan dan memastikan pengemudi tahu dengan tepat tempat yang ingin kamu tuju.

Larangan atau Peraturan di Jepang

Jangan Memetik Bunga Sakura
Jika datang ke Jepang saat bunga sakura mekar, jangan sampai memetik bunga sakura, ya?

Sebab, bunga sakura memiliki umur yang pendek dan mekar selama dua minggu saja.

Hal ini yang membuat orang Jepang sangat menghargai bunga sakura.

Jangan Sembarangan Mengambil Foto

Jepang dikenal dengan negara penuh privasi. Beberapa perangkat di Jepang, bahkan dilengkapi dengan bunyi kamera jika seseorang tengah memotret sesuatu.

Untuk itu, jangan sembarangan memotret apapun. Bahkan, jika sedang memotret tempat umum, usahakan tidak terdapat orang di dalam foto.

Aturan ini sangat diterapkan ketat di Jepang.

Jangan Mencelupkan Nasi Sushi Secara Langsung

Di Jepang, ada aturan tidak tertulis yang penting untuk diikuti saat menikmati sushi, yaitu jangan mencelupkan nasi sushi langsung ke dalam kecap.

Aturan ini berakar dari budaya dan etika makan yang sangat dijunjung tinggi di Jepang.

Mencelupkan nasi secara langsung, dapat menyebabkan nasi menyerap terlalu banyak kecap.

Ini membuat sushi menjadi terlalu asin dan nasi berantakan, sehingga sulit dimakan.

Hal ini dianggap tidak sopan, dan menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap seni pembuatan sushi.

Sebagai gantinya, yang seharusnya dicelupkan ke dalam kecap, adalah bagian ikan di atasnya.

Cara yang benar, adalah memiringkan sushi dengan hati-hati menggunakan sumpit atau tangan, kemudian mencelupkan sedikit bagian ikan ke dalam kecap.

Ini memungkinkan rasa kecap melengkapi rasa ikan tanpa merusak keseimbangan rasa dan tekstur dari nasi dan ikan.

Jangan Bicara Keras di Angkutan Umum

Di banyak negara, termasuk Jepang, berbicara keras di angkutan umum, seperti kereta dan bus, dilarang demi menjaga ketenangan dan kenyamanan semua penumpang.

Aturan tidak tertulis ini sangat penting, terutama di kota-kota besar dengan kepadatan penumpang yang tinggi.

Suasana yang tenang di angkutan umum, memungkinkan penumpang untuk beristirahat, membaca, atau bekerja tanpa terganggu oleh kebisingan.

Ketika semua orang berbicara dengan suara pelan atau bahkan diam, lingkungan di dalam kereta atau bus menjadi lebih nyaman bagi semua orang.

Selain menjaga kenyamanan, larangan berbicara keras, juga merupakan bentuk penghormatan terhadap penumpang lain yang mungkin sedang mengalami kelelahan atau membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Jangan Memberi Tip

Baca Juga :  Jepang Diguncang Gempa Dahsyat Magnitudo 7,4

Larangan budaya Jepang selanjutnya, adalah memberi tip dianggap sebagai tindakan yang tidak lazim dan bahkan bisa dianggap tidak sopan.

Budaya pelayanan di Jepang, sangat mengutamakan kesempurnaan dan profesionalisme, di mana memberikan layanan terbaik sudah menjadi bagian dari pekerjaan tanpa perlu penghargaan tambahan berupa tip.

Banyak orang Jepang melihat tip sebagai sesuatu yang bisa merendahkan martabat pekerja.

Seolah-olah, mereka membutuhkan uang tambahan untuk melakukan pekerjaan dengan baik.

Oleh karena itu, memberikan tip bisa menyebabkan kebingungan atau ketidaknyamanan, baik bagi pemberi maupun penerima.

Sebagai gantinya, apresiasi terhadap layanan yang baik biasanya ditunjukkan melalui ucapan terima kasih yang tulus.

Misalnya, mengucapkan “arigatou gozaimasu” (terima kasih banyak) dengan sopan dan ramah sudah cukup menunjukkan penghargaan terhadap pelayanan yang diberikan.

Jangan Menempelkan Sumpit ke Atas Nasi

Di Jepang, menempelkan sumpit secara vertikal di atas nasi, adalah tindakan yang dianggap sangat tidak sopan dan bahkan tabu.

Hal ini, disebabkan oleh kemiripan tindakan tersebut dengan ritual pemakaman Buddha, di mana sumpit diletakkan secara vertikal dalam semangkuk nasi sebagai persembahan untuk arwah yang telah meninggal.

Melakukan hal ini dalam konteks sehari-hari, dapat dianggap membawa sial dan sangat tidak menghormati tradisi serta budaya setempat.

Sebagai gantinya, sumpit sebaiknya diletakkan di samping mangkuk atau di atas penyangga sumpit (hashioki) ketika tidak digunakan.

Peraturan wisata di Jepang ini harus dipahami untuk menunjukkan rasa hormat terhadap budaya lokal. Dengan mengikuti etika penggunaan sumpit ini, kamu bisa menghindari kesalahpahaman.

Jangan Buka Pintu Taksi Manual

Larangan unik di Jepang selanjutnya, adalah dilarang membuka pintu taksi secara manual.

Sebagian besar taksi di Jepang, dilengkapi dengan pintu otomatis yang dioperasikan oleh sopir.

Sopir taksi di Jepang, dilatih untuk menyediakan layanan penuh, termasuk membuka dan menutup pintu untuk penumpang, sebagai bagian dari etiket pelayanan yang sopan dan profesional.

Upaya membuka pintu secara manual, juga bisa menyebabkan kerusakan pada mekanisme otomatis pintu taksi.

Untuk menghindari hal ini, kamu sebaiknya menunggu sopir taksi membuka pintu secara otomatis.

Dengan memahami dan mengikuti aturan ini, kamu bisa menunjukkan rasa hormat terhadap budaya pelayanan di Jepang dan membantu menjaga kondisi kendaraan tetap baik.

Larangan budaya Jepang, ternyata ada yang 180° dengan budaya Indonesia.

Kamu harus menghargai budaya mereka dan mengikuti aturan yang berlaku, supaya nggak kena masalah. Dengan begitu, kamu bisa lebih aman dan menyenangkan.

Facebook Comments