Triberita.com | Serang Banten – Bulan Ramadhan selalu menjadi bulan yang dinantikan oleh setiap umat muslim di seluruh dunia.
Bulan Ramadhan selalu menjadi bulan yang penuh kebaikan serta menjadi bulan yang penuh dengan ibadah, salah satunya adalah ibadah puasa.
Puasa adalah ibadah yang dilakukan dengan cara menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Untuk orang dengan tubuh yang sehat dan bebas penyakit, puasa terasa cukup ringan untuk dilakukan. Akan tetapi cukup berbanding terbalik dengan para penderita diabetes.
Apabila puasa yang dijalani tidak dilakukan dengan tepat, penderita diabetes mungkin saja dapat mengalami beberapa komplikasi yang cukup berbahaya. Karena tubuh penderita diabetes cukup berisiko mengalami kenaikan atau penurunan gula darah ketika berpuasa.
Pasalnya, kondisi tersebut bisa memicu penderita diabetes menjadi lebih rentan mengalami beberapa komplikasi dari penyakit diabetes, seperti hiperglikemia, hipoglikemia, ketoasidosis diabetic dan dehidrasi.
Praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama membeberkan cara berpuasa yang aman bagi penyandang diabetes melitus (DM) khususnya saat membatalkan puasa selama bulan suci Ramadhan.
“Sebelum puasa, penyandang DM harus melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu, yakni tekanan darah, gula darah puasa, gula darah dua jam sesudah makan, dan jika memungkinkan kadar gula per tiga bulan atau disebut HbA1c (Hemoglobin A1c),” kata Ngabila, Selasa (5/3/2024).
Ngabila mengatakan, jika menemukan hasil pemeriksaan tidak normal, maka perlu berkonsultasi dengan dokter untuk terapi (obat) dan anjuran pola makan atau asupan kalori lebih lanjut.
“Selanjutnya, melakukan pemeriksaan kadar glukosa darah apabila muncul gejala yang tidak biasa, seperti gula darah turun terlalu tinggi (hipoglikemia) atau naik terlalu tinggi (hiperglikemia),” ujar Ngabila.
Kemudian, lanjut dia, penyesuaian dosis dan jadwal pemberian obat atau insulin dilakukan menurut anjuran dokter.
Kemudian, lanjut Ngabila, ketika waktu berpuasa tiba, penyandang DM diminta untuk menghindari makanan dengan karbohidrat berlebih, khususnya saat berbuka.
“Apalagi saat sahur karena akan memicu keadaan hipoglikemia yang cepat nantinya,” kata dia.
Makanan saat berbuka, kata Ngabila, dapat berupa buah-buahan seperti kurma, pisang, melon, pepaya dan lain-lain.
“Kemudian mengonsumsi makan malam dan sahur dengan gizi seimbang, tinggi serat, sesuai konsep isi piringku Kementerian Kesehatan RI,” lanjut dia.
Konsep tersebut berarti setengah porsi sayur dan buah, setengah porsi karbohidrat dan lauk tinggi protein hewani, rendah gula, garam dan lemak.
“Tapi penyandang DM dapat konsumsi makanan selingan yang tidak terlalu manis menjelang tidur,” kata dia.
Lebih lanjut, Ngabila menganjurkan penyandang DM untuk menghindari aktivitas fisik dan latihan fisik yang berlebihan.
“Nah, apabila hasil pemeriksaan kadar glukosa darah < 60 mg/dL atau meningkat > 300 mg/dL, puasa dapat dibatalkan,” ujar Ngabila.
Selain itu, penyandang DM juga dianjurkan untuk segera berbuka menjelang waktu imsak. “Saat puasa akan dimulai,” katanya.
Beberapa Tips
1. Konsultasikan dengan dokter
Melakukan konsultasi dengan dokter menjadi langkah awal yang baik untuk para penderita diabetes sebelum melaksanakan ibadah puasa. Dokter akan memeriksa kondisi tubuh dan kadar gula darah serta memberi saran dan arahan bagaimana menjalani puasa yang aman dan baik untuk pasien diabetes.
2. Penuhi kebutuhan cairan tubuh
Pada malam hari atau terhitung sejak waktu berbuka puasa hingga waktu sahur, penderita diabetes sangat disarankan untuk banyak meminum air putih dan menghindari konsumsi minuman yang terlalu manis atau berkafein.
Penderita diabetes akan lebih mudah mengalami dehidrasi karena tubuhnya kekurangan cairan.
Oleh sebab itu, penuhi asupan cairan tubuh sebelum menjalankan ibadah puasa pada keesokan harinya agar tidak memperburuk kondisi tubuh.
3. Waspada gejala hipoglikemia
Hipoglikemia atau kadar gula dalam darah terlalu rendah harus diwaspadai oleh penderita diabetes yang menjalani ibadah puasa.
Hipoglikemia, biasanya ditandai dengan gejala seperti keringat dingin, badan gemetar dan pusing.
Untuk menghindari hipoglikemia saat berpuasa, cobalah untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang manis dan sehat pada malam harinya agar dapat meningkatkan kadar gula darah, seperti jus buah.
4. Batasi konsumsi makanan berkarbohidrat dan lemak tinggi
Hindari makanan yang mengandung karbohidrat sederhana seperti nasi dan roti tawar selama jangka waktu beberapa jam sejak waktu berbuka hingga waktu sahur.
Karena makanan tersebut bisa menaikkan kadar gula darah dengan cepat yang dapat memicu meningkatkan risiko hiperglikemia atau peningkatan kadar gula darah.
Perbanyak konsumsi makanan dengan kandungan serat tinggi, protein dan karbohidrat kompleks seperti pisang, brokoli wortel, dan apel untuk menggantikan nasi atau roti tawar.
5. Membatasi aktivitas fisik
Membatasi aktivitas fisik, juga sangat disarankan untuk para penderita diabetes yang sedang menjalani ibadah puasa.
Hal ini disebabkan karena penderita diabetes yang melakukan aktivitas fisik secara berlebihan atau terlalu lelah saat berpuasa, dapat memicu hipoglikemia.
Hipoglikemia merupakan kondisi saat kadar gula di dalam darah berada dibawah normal.
Penderita diabetes yang menjalani ibadah puasa harus tetap menjaga kadar gula darah untuk menyesuaikan dosis obat diabetes yang dikonsumsi.
Perlu diingat untuk penderita diabetes yang menjalani puasa, jika kadar gula darah <70 mg/dl atau >300 mg/dl, jangan memaksakan diri untuk berpuasa dan segera batalkan puasa.
Karena kadar tersebut bisa mejadi pertanda pendertia diabetes mengalami hipoglikemia atau hiperglikemia.
















