Triberita.com | Serang Banten – Jika saat ini kita dapat melihat foto Presiden Soekarno membacakan teks Proklamasi, maka sudah patutnya kita berterima kasih pada sosok kakak beradik, Alex Mendur dan Frans Mendur.
Mendur bersaudara lahir di Desa Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alexius Impurung Mendur, lahir pada 1907, sementara adiknya Frans S Mendur, lahir tahun 1913.
Alex anak pertama, dan Frans anak keempat dari pasangan August Mendur dan Ariantje Mononimbar. Keseluruhan anak August dan Ariantje berjumlah 11 orang.
Alex lahir di Kawangkoan pada 7 November 1907 dan meninggal di Bandung 31 Desember 1984. Istrinya bernama Innes Mandoinsong. Anak-anak mereka Lexy Rudolf Mendur, Yvone Marlene Mendur, dan Maya Mayon Mendur.
Frans lahir di Kawangkoan pada 16 April 1913. Ia menikah dengan Jamailah binti Sariih. Dari perkawinan mereka lahir anak-anak, Jian Samartini Mendur, Johny Sumanjono Mendur, Zakaria, dan Juni Prihatini. Frans meninggal di Jakarta, 16 April 1971. Konon, nama tengah Frans, “Soemarto” diberikan oleh ayah angkatnya di Jawa.

Di usia remaja Alex dan Frans merantau ke Jawa. Mula-mula di Surabaya lalu ke Batavia. Di Surabaya pernah bergabung dengan organisasi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) pimpinan Dr Soetomo.
Alex mulai bekerja sebagai wartawan foto di koran berbahasa Belanda, De Java Bode sejak tahun 1932.
De Java Bode, adalah koran tertua di Batavia. Terbit mulai tanggal 11 Agustus 1852. Ia merupakan penerus mingguan Bataviasch Advertentie-Blad yang muncul sejak 1 November 1851 dan diterbitkan oleh W Bruining dari Rotterdam.
Frans kemudian mengikuti jejak kakaknya bekerja di koran itu. Ia mulai bekerja tahun 1935. Frans belajar fotografi dari kakaknya.
Frans memulai karir di dunia fotografi ketika ia menguji hasil belajar dari kakaknya dengan mengirim foto karyanya ke De Java Bode dan mingguan Werelnieuws. Hasilnya ia diterima bekerja sebagai pembantu wartawan foto.
Di tahun 1945, Alex bekerja di kantor berita milik Jepang, Domei. Kantor berita yang menjalankan kepentingan politik pemerintah Jepang berdiri di negeri asalnya pada tahun 1935. Di saat proklamasi, Alex sebagai kepala bagian fotografi di kantor berita itu.
Sebenarnya, Alex sudah bekerja sebagai wartawan foto sejak tahun 1931. Ia menjadi wartawan di Majalah Actueel Wereld Nieuws En Sport In Beeld.
Frans di saat itu, bekerja di koran Asia Raja (Asia Raya). Koran yang mulai terbit 29 April 1942 ini dipakai sebagai alat propaganda Jepang. Pada tanggal 12 Maret 1945, Asia Raja mengadakan konferensi meja bundar di Hotel Miyako di Batavia.
Sejumlah pembicara dari Gerakan Hidoep Baroe yang dipimpin Soekarno dan Mohammad Hatta, mendiskusikan cara memperkuat gerakan kemerdekaan.
Selain di koran Asia Raja, dia juga bekerja di Jawa Shimbun Sha, semacam Sarekat Penerbit Suratkabar di masa itu.
Kalau bukan Alex dan Frans, kita mungkin tidak akan melihat bagaimana Soekarno dan Hatta membacakan teks Proklamasi dan pengibaran bendera Merah-Putih di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta. Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat, 17 Agustus 1945.
Pada Pukul 10.00 WIB, hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa besar itu berlangsung sangat sederhana. Dan, hanya Alex dan Frans, fotografer yang hadir waktu itu.
Kamera Leica Leitz bergantungan dileher mereka siap membidik moment bersejarah. Frans kemudian mengabadikan peristiwa itu dengan tiga bidikan, tiga foto.
Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air), dan foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.
Alex juga melakukan melakukan pemotretan. Frans berhasil mengabadikan tiga foto, dari tiga frame film yang tersisa.
Usai itu, kedua Mendur bersaudara segera meninggalkan kediaman Soekarno. Tentara Jepang memburu mereka.
Sialnya, Alex berhasil ditangkap tentara Jepang. Foto-foto hasil bidikannya semuanya disita dan dimusnakan.
Adiknya, Frans yang beruntung. Ia lolos dari kejaran tentara Jepang. Negatif fotonya dikubur di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Nanti beberapa hari kemudian baru diambil.
Kala itu nama Mendur bersaudara sudah terkenal di mana-mana. Keberadaan mereka diperhitungkan media-media asing.
Berkat kedua orang bersaudara orang Manado itu, hingga saat ini, saksi bisu hari paling penting untuk bangsa ini, bisa kita lihat.
Padahal tak ada instruksi untuk keduanya mengambil foto saat teks Proklamasi dibacakan. Frans Mendur hanya tak sengaja mendengar kabar dari harian Asia Raya. Pun kakaknya, Alex Mendur yang berprofesi sebagai fotgrafer kantor berita Jepang waktu itu.
Keduanya langsung bergegas ke kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Cikini, Jakarta dengan membawa kamera masing-masing.
Dengan mengendap-endap, Mendur bersaudara berhasil merapat di lokasi tepat pukul 05.00 pagi. Rupanya hanya mereka berdua, fotografer yang hadir di hari paling penting bagi bangsa Indonesia itu.
Alex dan Frans berhasil mengabadikan beberapa foto detik-detik proklamasi Indonesia. Namun usai upacara, mereka berdua disergap tentara Jepang. Alex ditangkap, kameranya disita, hasil fotonya dibakar.
Sementara Frans berkilah, ia mengaku negatif filmnya telah dirampas Barisan Pelopor, padahal telah dikubur dalam tanah. Tentara Jepang pun berhasil ia kelabuhi.
Setelah dirasa aman, keduanya lalu menggali tanah tempat negatif film dikubur. Tak menunggu lama, film itu kemudian dicetak. Butuh keberanian dan mental baja.
Mendur bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon, dan melompati pagar hingga akhirnya menemukan lab foto.
Sebab jika tertangkap Jepang, bukan tak mungkin Mendur bersaudara dihukum mati. Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.
Untuk mengenang aksi heroik kedua kakak beradik Mendur putra asli dari Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara ini, keluarga besar Mendur mendirikan sebuah monumen yang disebut “Tugu Pers Mendur”.
Tugu ini berupa patung Alex dan Frans, serta bangunan rumah adat Minahasa berbentuk panggung berbahan kayu.
Prasasti Mendur bersaudara, ditandangani oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada perayaan puncak Hari Pers Nasional (HPN) yang dilaksanakan di Sulawesi Utara (Sulut) pada 11 Februari 2013.
Di meseum yang berbentuk rumah panggung khas Minahasa itu, orang-orang dapat menyaksikan foto-foto bersejarah karya Mendur bersaudara.
Tugu Pers Mendur didirikan di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, di tanah kelahiran mereka.
Di dalam rumah itu terdapat 113 foto karya Mendur bersaudara yang diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013.
Untuk menuju ke lokasi, dari arah Tomohon, pas di ujung Kawangkoan, Minahasa sebelah kiri jalan, ada sebuah rumah panggung.
Di depannya ada patung dua orang berdiri di atas kamera besar. Itulah Museum dan tugu “Mendur Bersaudara”, Alex dan Frans Mendur.

















