Triberita.com | Cilegon Banten – Kelangkaan bahan bakar solar berdampak antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Cilegon, Provinsi Banten. Antrean kendaraan ini dikeluhkan, karena sudah sangat menggangu aktifitas warga.
Apalagi antrean panjang pada beberapa SPBU tersebut, sampai mengular hingga ratusan meter. Akibatnya, pengguna jalan dan warga yang hendak melakukan usaha dan kepasar, merasa terganggu.
Hingga malam ini, Rabu (20/12/2023) pukul 23.30 WIB, terpantau aparat kepolisian dari Polres Cilegon, terpaksa melakukan pengamanan dan mengatur antrian kendaraan truk yang masih mengular di tiga lokasi SPBU, yakni SPBU Tegalwangi, SPBU Damkar dan SPBU samping CCM Cilegon.
Antrian panjang kendaraan truk yang hendak mengisi bahan bakar solar, terpantau terjadi sejak Rabu (20/12/2023) pagi, di sejumlah SPBU, mulai dari Kramatwatu Serang, Toyomerto Serang, SPBU PCI Cilegon, dan sejumlah SPBU arah dari Cilegon menuju Merak.
Sulaeman, petugas Security di SPBU Tegalwangi, Kota Cilegon, saat dikonfirmasi terkait penyebab antrian panjang kendaraan, diakui akibat bahan bakar solar habis.
“Penyebab an di SPBU ini (Tegalwangi), akibat solar habis sejak Rabu dinihari pukul 01.00 WIB,”ujar Sulaeman.

Namun penyebab kelangkaan solar, berbeda dikatakan Ilham (45), pengguna jalan yang mengaku setiap hari berangkat kerja dari Serang menuju Merak.
Kelakaan solar menurut warga Ciruas Serang ini, diduga akibat ada permainan antara petugas SPBU dengan pengusaha yang memiliki usaha perdagangan solar subsidi untuk kebutuhan industri.
“Sering sekali terjadi kelakaan solar, sejak di beberapa wilayah kota dan kabupaten di Provinsi Banten, banyak usaha galian pasir dan batu. Selain kelakaan solar, dampak aktifitas galian itu, juga mengakibatkan rutin terjadi banjir,”ujarnya.
H Be’i warga Gerem Kota Cilegon, kepada pihak SPBU mengatakan, kenapa sampai sering terjadi antrian sepanjang itu di sejumlah SPBU, kuat dugaan dan keluhan warga, diduga adanya praktek pengisian bahan bakar yang berulang-ulang dengan mobil yang sama.
“Kalau berulang-ulang terus dan ada dugaan konsumen yang membeli untuk dijual lagi, artinya ada kesalahan praktek pelayanan yang terjadi. Kalau memang konsumen yang membeli sesuai kebutuhan, kami rasa tidak mungkin sampai sering terjadi panjang antriannya. Yang namanya antrian mobilnya berjalan, ini kenapa sampai terjadi berhari hari,” tuturnya.

















