Tiberita.com | Bekasi Kota – Dalam bahasa Arab, shaum (صوم) dan shiyam (صيام) secara bahasa artinya adalah menahan diri (al-imsak) atau mengekang dari makan, minum, berbicara, atau aktivitas tertentu. Secara istilah, keduanya bermakna menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa (makan, minum, hubungan intim) dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat ibadah.
Perintah Shaum (puasa) Ramadhan tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183. Dalam ayat ini Allah menegaskan kewajiban berpuasa bagi orang beriman untuk mencapai derajat takwa.
Bagaimana menjadi pribadi takwa saat menjalankan ibadah puasa menurut Al – Qur’an
Pribadi yang takwa saat berpuasa sesuai Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183) dicapai dengan menjadikan puasa sebagai madrasah atau tempat belajar. Dimana saat kita berpuasa disitu kita akan menahan diri dari hawa nafsu (makan/minum/amarah) karena kesadaran diawasi Allah, bukan sekadar menahan lapar.
Dan berikut beberapa hal yang harus kita lakukan dalam meningkatkan ibadah kita di bulan puasa. Rajin sholat di masjid, membaca dan bertadarus Al -Qur’an, bersedakah, dan yang tak kalah penting adalah bagaimana kita bisa menahan lisan kita dari perkataan yang sia-sia.
Kemudian bagaimana panduan bagi kita untuk mengimplementasikan takwa saat berpuasa tersebut.
Pertama bahwa ibadah yang kita kerjakan itu diawasi oleh Allah (Kesadaran Muraqabah). Kita harus menyadari bahwa puasa kita adalah ibadah rahasia antara hamba dan Allah, yang menumbuhkan rasa takut untuk berbuat dosa meskipun tidak dilihat orang lain.
Kedua, puasa itu melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu. Puasa bukan semata hanya menahan lapar dan dahaga, namun lebih dari itu yaitu bagaimana kita bisa menahan diri dari maksiat, amarah, dan sifat-sifat tercela.
Kemudian yang ketiga, momentum puasa merupakan moment bagi kita untuk meningkatkan Intensitas ibadah dan amalan kita. Bagaimana kita bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an, salat tarawih, salat sunah rawatib, berzikir, dan berdoa, terutama saat sahur.
Keempat derajat takwa kita kepada Allah dilakukan dengan meningkatkan Kepedulian Sosial (Ihsan). Bagaimana saat berpuasa kita menghayati perihnya rasa lapar untuk meningkatkan empati kepada sesama dengan memperbanyak sedekah.
Dan terakhir, saat berpuasa kita harus bisa menjaga waktu dan perilaku. Dalam berpuasa sebaiknya kita menghindari hal-hal yang mengurangi pahala puasa (gosip, bertengkar) dan memaksimalkan waktu untuk kebaikan.
Kesimpulannya, dalam membentuk ketakwaan saat berpuasa itu, dapat diraih dengan menggabungkan puasa fisik yaitu dengan menahan lapar, serta puasa spiritual yaitu menahan hawa nafsu. Sehingga dengan demikian kita semua bisa mencapai pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan.

















