Scroll untuk baca artikel
Berita

Perkiraan Jadwal Puasa Ramadhan 2026 dan Tips Perencanaan Keuangan

458
×

Perkiraan Jadwal Puasa Ramadhan 2026 dan Tips Perencanaan Keuangan

Sebarkan artikel ini
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memperkirakan akan terjadi perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah atau puasa 2026. (Foto : istimewa)

Triberita.com | Jakarta – Bulan Ramadan selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Selain sebagai waktu untuk meningkatkan ibadah, Ramadan juga menjadi momentum memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, dan menebar kebaikan.

Tak heran jika menjelang pergantian tahun, banyak masyarakat mulai mencari informasi mengenai perkiraan jadwal puasa Ramadan.

Mengetahui jadwal awal puasa sejak dini, dapat membantu Anda mempersiapkan diri dengan lebih matang, baik dari sisi ibadah, kesehatan, pekerjaan, hingga keuangan.

Apalagi, penetapan awal Ramadan di Indonesia biasanya merujuk pada beberapa metode yang digunakan oleh Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), serta pemerintah melalui Kementerian Agama.

Lantas, kapan puasa Ramadan 2026 dimulai?
Sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah, baru akan dilaksanakan pada 17 Februari 2026 di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama.

Seperti sebelumnya, sidang isbat akan dihadiri oleh sejumlah pihak dengan diawali pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia.

Setelah itu, baru akan dilaksanakan sidang isbat melalui musyawarah untuk menentukan awal ramadhan dan dilanjutkan pengumuman resmi pemerintah yang akan disampaikan langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Sidang isbat resmi digelar pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, untuk menetapkan awal bulan dalam kalender Hijriah, terutama 1 Ramadhan, 1 Syawal (Idul Fitri), dan 1 Zulhijah.

“Sidang Isbat akan dihadiri oleh sejumlah pihak, perwakilan ormas Islam, perwakilan kedubes negara-negara Islam, MUI, BMKG, ahli falak, DPR, dan perwakilan Mahkamah Agung,” ujar Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad, Kamis (29/1/2026).

Ia mengatakan, ada tiga rangkaian pelaksanaan sidang Isbat, yaitu pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, dan verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia.

Baca Juga :  Puluhan Pendaki Tewas di Gunung Marapi, Penanggungjawab BKSDA Terancam Jadi Tersangka

“Selanjutnya, musyawarah dan pengambilan keputusan yang diumumkan kepada masyarakat,” terang Abu Rokhmad.

Dirjen menambahkan, dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri 1 Syawal, dan Idul Adha Kemenag mengintegrasikan metode Hisab dan Rukyah.

Abu Rokhmad mengajak masyarakat, menunggu hasil sidang isbat dan pengumuman pemerintah terkait awal Ramadhan 1447 H nanti.

Menurut dia, ini sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 2 tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.

Direktur Urusan Agama Islam Arsad Hidayat menambahkan, Kemenag akan mengirimkan sejumlah ahli ke lokasi atau titik rukyah yang potensial melihat hilal jelas, termasuk di lokasi atau tempat observasi bulan.

“Kalau memungkinkan, tahun ini kita menjadikan masjid IKN yang telah diresmikan beberapa waktu lalu sebagai tempat pelaksanaan rukyatul hilal,” kata Arsyad.

Perkiraan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah menurut otoritas masing-masing.

Awal Puasa Muhammadiyah

Menurut Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini, didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang selama ini menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Keputusan tersebut tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang dirilis di Yogyakarta pada tanggal 22 September 2025.

Dalam maklumat itu, dijelaskan bahwa posisi bulan telah memenuhi syarat wujudul hilal, sehingga bulan Ramadhan dapat dimulai pada tanggal tersebut.

Selain itu, Muhammadiyah juga menetapkan, Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau 1 Syawal jatuh, pada Jumat Legi, 20 Maret 2026.

Penetapan ini, mengacu pada prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal, hasil Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan tahun 2024.

Berdasarkan perhitungan tersebut, ijtimak atau konjungsi, terjadi pada Selasa 17 Februari 2026. Namun awal bulan, baru dimulai setelah matahari terbenam keesokan harinya.

Baca Juga :  Beragam Ide Kreatif Mengisi Ramadan di Rumah

Awal Puasa Menurut NU

Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan langsung terhadap hilal. Oleh karena itu, NU belum menetapkan secara resmi tanggal awal puasa Ramadhan 2026.

Biasanya, NU akan menunggu hasil rukyat pada tanggal 29 Syakban 1447 Hijriah. Jika hilal terlihat, maka puasa dimulai keesokan harinya. Jika tidak terlihat, maka bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari.

Meski demikian, secara astronomis, awal Ramadhan versi NU diperkirakan berpotensi jatuh pada 18 atau 19 Februari 2026, tergantung hasil rukyat di berbagai wilayah Indonesia.

Awal Puasa Menurut Pemerintah

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag), juga belum menetapkan secara resmi awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah.

Namun, berdasarkan kalender Hijriah 1447 H yang diterbitkan oleh Kemenag melalui Kantor Wilayah Provinsi Aceh, awal Ramadhan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Perlu diketahui, tanggal tersebut masih bersifat perkiraan. Pemerintah akan tetap menyelenggarakan sidang isbat setelah pemantauan hilal pada akhir bulan Syakban untuk menentukan awal puasa secara resmi.

Hasil sidang isbat inilah yang nantinya menjadi acuan nasional.

Tips Mempersiapkan Puasa Ramadhan

Mengetahui perkiraan jadwal puasa Ramadhan lebih awal memberikan banyak manfaat.

Persiapan yang matang dapat membantu Anda menjalani ibadah dengan lebih optimal dan khusyuk.

Berikut beberapa hal penting yang bisa Anda lakukan untuk menyambut Ramadhan.

Lakukan perencanaan ibadah sejak dini. Anda dapat mulai menyusun target ibadah, seperti jadwal khatam Al-Qur’an, konsistensi shalat tarawih, hingga memperbanyak amalan sunnah.

Dengan perencanaan yang jelas, ibadah Ramadhan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga lebih terarah.

Atur jadwal pekerjaan dan aktivitas harian. Bagi Anda yang bekerja, awal mengetahui Ramadhan membantu dalam mengatur waktu kerja, rapat, serta tugas tugas agar tetap seimbang dengan waktu ibadah dan istirahat.

Baca Juga :  Jumat Berkah Ramadan, Kapolsek Kedungwaringin Bagikan Sembako Warga Kurang Mampu

Perhatikan persiapan kesehatan. Tubuh membutuhkan adaptasi saat memasuki bulan puasa.

Mulailah mengatur pola makan, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, serta membiasakan tidur lebih teratur agar tubuh tidak kaget saat berpuasa.

Menyiapkan perencanaan keuangan

Ramadhan, identik dengan meningkatnya pengeluaran, mulai dari kebutuhan berbuka, sahur, zakat , sedekah, hingga persiapan Idulfitri.

Dengan perencanaan finansial yang baik, Anda dapat menjalani Ramadhan dengan lebih tenang dan terkendali.

Facebook Comments