Triberita.com | Lebak Banten – Hingga hari ini, warga korban pergerakan tanah dan longsor, masih menempati posko pengungsian yang didirikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lebak.
Diketahui, posko pengungsian pergerakan tanah, berada di Lapangan Cinyagoler, Kampung Cinyagoler, Desa Panyaungan, Kabupaten Lebak.
Sementara, posko pengungsian untuk korban longsor, berada di SMPN 8 Bayah, bagi korban longsor di Kampung Lebak Manggah, Desa Cidikit, Kecamatan Bayah.
Dari data BPBD Lebak, total ada 250 warga yang mengungsi. Mereka korban pergerakan tanah dan longsor, dengan rincian korban longsor 65 KK dengan 180 warga mengungsi dan korban pergerakan tanah 23 KK dengan 70 warga mengungsi.
Kepala Pelaksana BPBD Lebak Febby Rizky Pratama menyampaikan, bahwa dua posko didirikan karena permukiman para korban berbahaya untuk ditempati.
“Jadi ada dua titik yang terjadi pergerakan tanah dan longsor. Pertama, di Desa Panyaungan, Kecamatan Cihara, itu ada 21 rumah dan 23 KK yang kemudian kita tempatkan di pengungsian terpusat di lapangan Cinagoler,” terang Febby, Selasa (10/12/2024).
“Di sana kita membangun tenda pengungsian dan dapur umum yang disediakan untuk warga yang mengungsi dan teman-teman relawan,” lanjutnya.
Febby menerangkan, ada longsor besar di Cidikit. Walau tidak ada korban jiwa, namun dampaknya sangat berbahaya.
“Kemudian satu lagi, adalah longsor yang terjadi Kampung Lebak Manggah, Desa Cidikit,
Kecamatan Bayah. Kalau di Desa Cidikit, sebenarnya longsornya hanya menimbulkan satu rumah yang rusak, hanya memang lokasinya berada di bukit, dimana sebelah kirinya yang mengalami longsor, ada mahkota longsor yang besar,” ucapnya.
Ia menambahkan, pengungsian ditempatkan pada lapangan Cinagoler dan SMP Negeri 8 Bayah untuk puluhan warga. Saat ini, kondisi sudah ada logistik bantuan tepusat oleh BPBD Lebak.
“Di sana kami buat dapur umum untuk memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkannya, karena saat ini tinggal di tempat pengungsian terpusat,” terangnya.
Data yang diperoleh dari BPBD Kabupaten Lebak, menyebut 20 kecamatan di daerah itu terdampak banjir, longsor, dan pergerakan tanah akibat cuaca ekstrem dalam sepekan terakhir.
Menurut Febby Pratama Rizky, daerah itu rentan terhadap bencana banjir, longsor, dan pergerakan tanah karena kondisi alamnya yang merupakan pegunungan, perbukitan, dan aliran sungai.
Ke-20 kecamatan itu adalah Cibeber, Cilograng, Bayah, Malingping, Panggarangan, Wanasalam, Banjarsari, Gunungkencana, Cigemblong, Cijaku, Rangkasbitung, Cibadak, Cimarga, Sajira, Cipanas, Leuwidamar, Bojongmanik, Cirinten, Sobang, dan Cihara.
Bencana banjir, longsor, dan pergerakan tanah di Kabupaten Lebak, terjadi sejak Senin (2/12/2024) sampai Kamis (5/12/2024), di mana tiga warga dilaporkan meninggal dunia dan satu luka-luka.
Ketiga warga yang meninggal dunia, DZ (15) tertimpa tembok rumah akibat longsoran, D (14) terbawa arus air banjir, dan R (65) tertimpa pohon tumbang.
Selain itu, sebanyak 1.694 rumah juga terendam banjir, 59 rumah terdampak longsor, 47 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan enam lainnya rusak berat.
“Sementara ruas jalan yang ambles dan longsor, ada di lima titik, yaitu jalan Cipanas -Citorek menuju objek wisata Negeri di Atas Awan, jalan desa Darmasari Bayah, jalan Cidikit Bayah, jalan Pasir Gobong Bayah, dan jalan Ciseel-Muncang,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Lebak Febby Rizky Pratama.

















