Triberita.com | Cilegon Banten – Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung kembali mengalami erupsi pada Sabtu (16/12/2023) pukul 08:26 WIB, dengan tinggi kolom abu teramati ± 700 m di atas puncak (± 857 m di atas permukaan laut). Dalam sepekan terakhir, GAK mengalami lima kali erupsi termasuk hari ini.
Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir ini, mulai mengganggu aktivitas warga di bagian wilayah Desa Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Menurut Kepala Dusun Regan Lada di Desa Pulau Sebesi, Riko, sekarang ini warga mau beraktivitas ke luar rumah sudah tidak bisa leluasa lagi. Kita keluar enggak bisa naik motor. Kalau tidak pakai kaca mata, abunya masuk ke mata.
Riko menyampaikan bahwa warga desa telah merasakan dampak abu vulkanik selama hampir lima hari terakhir. Dia mengungkapkan keinginan warga untuk mendapatkan bantuan masker dan kaca mata, karena mereka tidak dapat beraktivitas akibat hujan abu vulkanik.
“Sekarang ini warga mau beraktivitas ke luar rumah sudah tidak bisa leluasa lagi. Kita keluar enggak bisa naik motor. Kalau tidak pakai kaca mata, abunya masuk ke mata,” kata Riko, Kepala Dusun Regan Lada, Sabtu (16/12/2023).
Menurut dia, warga kampung sudah hampir lima hari merasakan dampak abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
“Warga sih ingin ada bantuan masker, dan kalau ada kaca mata, karena kita di sini tidak bisa beraktivitas akibat hujan abu vulkanik itu,” katanya.
Angga Irawan, seorang warga Desa Pulau Sebesi, mengkhawatirkan dampak buruk hujan abu dari Gunung Anak Krakatau terhadap kesehatan.
“Bagaimana tidak, kita ke luar rumah saja yang kita hirup udara itu sudah tidak sehat lagi, udaranya sudah bercampur debu, abu vulkanik, dan sangat mengganggu jarak pandang,” kata Angga.
Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Sabtu pukul 07.35 WIB, pukul 08.26 WIB, dan pukul 10.24 WIB.
Selama erupsi, gunung api itu melontarkan abu vulkanik setinggi 500 meter sampai 1.000 meter di atas puncak gunung.
Gunung Anak Krakatau menurut informasi yang disiarkan oleh PVMBG, juga beberapa kali mengalami erupsi, yakni sejak Selasa (12/12/2023), Rabu, Kamis, dan Jumat (15/12/2023).
Menurut PVMBG, Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, statusnya berada di Level III atau Siaga.
Warga, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas di area dalam radius 5 km dari kawah aktifnya.
Pada Jumat (15/12/2023) kemarin, Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik sekitar 200 meter dari puncak gunung atau 357 meter di atas permukaan laut.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pada Jumat, 15 Desember 2023, pukul 07.39 WIB.
Erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi lebih kurang 15 detik. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dengan condong ke arah utara laut.
Sementara pada Kamis (15/12/2023), Gunung Anak Krakatau meletus melontarkan abu vulkanik setinggi lebih kurang 1.000 meter di atas puncak gunung itu, terjadi pukul 05.37 WIB dengan kolom abu berwarna kelabu mengarah ke utara.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan Andi Suardi, mengatakan Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada status level III atau siaga.
Gunung api aktif yang memiliki ketinggian 195 meter di atas permukaan laut itu, sejak 1 Januari hingga 14 Desember 2023, tercatat meletus sebanyak 129 kali.
















