Scroll untuk baca artikel
Banten Raya

Setelah Meninggal Akibat Tuberkulosis, Tim Kemenkes Baru Datangi Warga Baduy

380
×

Setelah Meninggal Akibat Tuberkulosis, Tim Kemenkes Baru Datangi Warga Baduy

Sebarkan artikel ini
Ketua Koordinator Sahabat Relawan Indonesia (SRI) Muhammad Arif Kardiat (foto paling kanan), saat melakukan pendampingan pemeriksaan kesehatan, yang merupakan salah satu kegiatan sosial rutin kepada warga Badui Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. (Foto : istimewa)

Triberita.com | Lebak Banten – Tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengecek warga Badui Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten yang dilaporkan meninggal dunia akibat tuberkulosis atau TB.

Sebelumnya, Ketua Koordinator Sahabat Relawan Indonesia (SRI) Muhammad Arif Kardiat mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, bahwa Sanadi (16), warga Badui Dalam positif menderita TB, karena telah diagnosa dengan mengambil sampel sputum.

Pemeriksaan kesehatan itu dilakukan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Serang dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Unjani Bandung, pada 9 September 2024 lalu, dengan mendatangi kawasan Badui Dalam.

Arif mengatakan, untuk mencapai Badui Dalam ada aturan adat. Mereka tidak boleh menggunakan kendaraan roda dua maupun empat.

Oleh karena itu, Arif meminta puskesmas maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak agar Sanadi mendapatkan pengobatan TBC secara gratis.

Ketua Koordinator Sahabat Relawan Indonesia (SRI) Muhammad Arif Kardiat (foto kedua dari kanan) saat sedang berdiskusi dengan pendampingan dan berdiskusi dengan warga Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. (Foto : istimewa)

Namun pengobatannya tidak ada sehingga kondisi pasien tersebut semakin parah hingga meninggal dunia. “Kami sudah meminta ke Puskesmas Cisimeut dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, tetapi tidak ada respons,” kata Muhammad Arif.

“Kita sudah menerjunkan tim ke lapangan untuk mengecek warga Badui meninggal dunia akibat TB itu,” kata Pelaksana Harian (Plh) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Kemenkes dr. Anas Maruf, MKM saat dihubungi di Lebak, Banten, Sabtu (12/10/2024).

Pemerintah dalam hal ini Kemenkes, berkomitmen untuk menemukan kasus TB sebanyak-banyaknya. Hal ini, juga dilakukan oleh Dinas Kesehatan daerah juga rumah sakit, klinik, puskesmas hingga relawan.

Sebab, pemerintah bekerja keras untuk menemukan kasus TB dan jika mereka terindikasi positif dipastikan menjalani pengobatan selama 6-12 bulan dengan melibatkan Pengawas Minum Obat (PMO).

Oleh karena itu, pihaknya mengecek bahwa warga Badui Dalam yang meninggal dunia akibat penyakit TB.

Baca Juga :  Warga Karawang Perekrut PMI Ilegal Dibekuk Unit PPA Polres Serang Banten

Pasien warga Badui meninggal dunia itu, kata Sahabat Relawan Indonesia (SRI) , karena tidak mendapatkan obat TB dari puskesmas dan Dinkes Lebak.

“Kami menjamin semua penderita TB yang positif dipastikan mendapatkan pengobatan gratis. Karena itu, kasus kematian di Badui , apa penyebabnya itu,” katanya menjelaskan.

Plh Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dr Budi Mulyanto mengatakan pihaknya permohonan obat TB itu harus dari Puskesmas Cisimeut yang mendistribusikanya jika ditemukan kasus positif TB.

Sebab, puskesmas itu tidak memiliki stok obat TB dan pendistribusian harus dan Dinkes.

“Kita siap untuk pendistribusian obat TB setelah puskesmas setempat meminta permohonan obat itu,” katanya.

Facebook Comments