Scroll untuk baca artikel
Berita

Tidak Pernah Krisis Pangan, Hasil Panen Masyarakat Kasepuhan Cisungsang Lebak Banten Selalu Melimpah

353
×

Tidak Pernah Krisis Pangan, Hasil Panen Masyarakat Kasepuhan Cisungsang Lebak Banten Selalu Melimpah

Sebarkan artikel ini
Masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang Masyarakat di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, saat melaksanakan tradisi tahunan Seren Taun pada 22-29 Oktober 2024, lalu. (Foto : Daeng Yusvin)

Triberita.com | Lebak Banten – Seren Taun merupakan prosesi upacara adat yang dilangsungkan sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil panen selama satu tahun penuh.

Oleh karena itu, masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang kemudian menggelar pesta panen, atau yang dikenal dengan Seren Taun.

Untuk pertama kalinya, Seren Taun Kasepuhan Cisungsang masuk ke dalam 110 Karisma Event Nusantara (KEN), program strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Seren Taun Kasepuhan Cisungsang bersama Seba Baduy dan Festival Multatuli juga menjadi event unggulan yang berhasil masuk KEN pada tahun ini.

Seren Taun merupakan kegiatan adat yang sudah turun temurun dilakukan, dan jadi tradisi masyarakat Kasepuhan Cisungsang.

Perkampungan Cisungsang, berada di kawasan kaki Gunung Halimun Salak, di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Saren Taun atau pesta panen yang diadakan masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang Kabupaten Lebak Banten.(Foto: Istimewa)

Upacara adat Seren Taun pun mempunyai rangkaian yang panjang dan biasanya dilangsungkan selama beberapa hari.

Prosesi pertama, yaitu Rasul Pare di Leuit yang menjadi tanda dimulainya upacara Seren Taun dengan menyimpan padi di lumbung sebagai stok bahan pangan untuk beberapa tahun ke depan.

Selanjutnya, ada prosesi Salamat Beberes Ngueh, atau prosesi selamatan sebagai tanda selesainya pembuatan kue untuk acara puncak. Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan ritual Bubuka yang menyajikan kesenian khas Sunda, termasuk saling lempar pantun tradisional.

Kemudian, ada juga prosesi Balik Taun Rendangan, atau yang dikenal juga dengan Carita Balik Taun.

Nah, proses ini merupakan kegiatan yang mempertemukan para ketua kelompok masyarakat adat (Rendangan) untuk melapor kepada ketua adat (Abah) di Imah Gede atau rumah ketua adat.

Setelah itu, ada juga prosesi Ngareremokeun, yaitu ritual persembahan untuk menghibur Nyi Pohaci yang dikenal sebagai dewi bagi masyarakat Cisungsang.

Baca Juga :  Breaking News! Aktivis Lingkungan Minta Pemerintah Lebak Tutup dan Tangkap Penambang Ilegal Pasir Pantai

Prosesi ini dilakukan oleh para laki-laki dan perempuan yang sudah sepuh, dengan melantunkan pujian tentang makna kehidupan sambil berbaris.

Terakhir, upacara adat Seren Taun diakhiri dengan memasukkan padi ke dalam lumbung padi sebagai penanda awal siklus bercocok tanam.

Seren Taun Kasepuhan Cisungsang, tak hanya sekadar upacara adat tahunan saja. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi wisata budaya khas Banten yang menarik perhatian banyak orang untuk datang dan berkunjung.

Selama 7 hari penyelenggaraan acara, Seren Taun Kasepuhan Cisungsang secara keseluruhan melibatkan ribuan orang yang terdiri dari pengunjung, pelaku UMKM, dan juga elemen masyarakat lainnya.

Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang yang lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, hingga kini masih mempertahankan tradisi Seren Taun, sebagai budaya peninggalan nenek moyang atau leluhur.

Budaya itu cukup sakral dan harus diselamatkan, karena memiliki makna yang filosofis dalam membangun kerukunan, keharmonisan, gotong royong, hingga saling menghormati dan saling menjaga etika atau sopan santun.

Apalagi, Indonesia sebagai negara yang multietnis, multikultur dan multiras, dibangun oleh ratusan suku dan ribuan kelompok masyarakat hukum adat, dengan latar belakang budaya yang berbeda.

Kemajemukan masyarakat Indonesia itu terbukti, hingga kini mampu dibingkai menjadi visi yang sama, yaitu untuk tetap jaya dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menuju kehidupan yang makmur dan sejahtera, sehingga dapat mewujudkan kedaulatan pangan.

Ritual adat Seren Taun merupakan tradisi lokal yang memiliki makna bagi keberlangsungan pangan masyarakat.

Setelah menjalani upacara, dilanjutkan dengan memasukkan padi-padi yang diarak ke dalam Leuit Si Jimat, sambil diiringi puji-pujian, “Ayeuna Si Nyai ku, Kami diamitkeun”, yang artinya, “Sekarang Si Nyai oleh kami dirapikan”.

Baca Juga :  Polisi Selidiki kasus Penemuan Jasad Bayi di Pondok Aren

Padi yang pertama kali dimasukkan adalah padi indung, kemudian disusul padi lainnya, sambil membaca doa dan pembakaran kemenyan yang asapnya tiada henti mengepul.

Angklung buhun yang berada di samping Leuit Si Jimat ikut mengiringi puji-pujian dibarengi dengan petikan kecapi serta tiupan suling, sehingga suasana perayaan Seren Taun semakin hening dan khusyuk.

Ritual tradisi Seren Taun itu merupakan ritual mengharap berkah hasil panen padi, dengan masa panen tiga bulan, juga ada yang enam bulan, untuk memenuhi ketersediaan pangan keluarga.

Dampak yang terasa dari tradisi itu, adalah masyarakat Kasepuhan Cisungsang yang tersebar di sembilan desa, hingga kini belum pernah mengalami krisis pangan, karena hasil panen selalu melimpah dan tidak diperjualbelikan.

Persediaan hasil panen selalu penuh, dengan penduduk sekitar 9.000 kepala keluarga (KK) dan rata-rata satu KK memiliki dua lumbung pangan atau leuit, sehingga total ada 18.000 leuit di wilayah itu.

Masyarakat adat itu membangun leuit, biasanya berada di belakang rumah atau berdekatan dengan dapur, sehingga kaum perempuan mudah untuk mengambilnya, saat akan memasak. Tidak jarang, padi yang ada di dalam leuit itu merupakan hasil panen 20 tahun lalu.

Persediaan pangan berupa gabah hasil dari huma dan sawah, dapat memenuhi konsumsi keluarga, termasuk untuk keperluan menggelar acara pernikahan, sunatan maupun pesta adat lainnya.

Dengan pola penyimpanan di leuit itu, masyarakat Kasepuhan Cisungsang belum pernah mengalami kerawanan pangan, apalagi kekurangan, meskipun pada musim tertentu, sawah atau huma mereka terserang penyakit yang mengakibatkan gagal panen.

Jika gagal panen, mereka tertolong karena memiliki stok padi yang disimpan di leuit sebagai cadangan ketahanan pangan keluarga.

Kondisi yang sama pernah mereka alami, saat Indonesia dan sejumlah negara di dunia mengalami pandemi COVID-19. Mereka tinggal memanfaatkan pangan cadangan yang sudah tersedia.

Baca Juga :  Untuk Memenuhi Kebutuhan Stok Darah Selama Ramadhan, PMI Kabupaten Lebak Mengajak Masyarakat Melakukan Donor Darah

Apalagi, pada saat pandemi itu, negara kembali hadir dengan memberikan bantuan sosial kepada warga di wilayah kasepuhan itu, lewat Badan Pangan Nasional (Bapanas), khususnya bagi warga yang masuk dalam kategori Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Ketersediaan pangan yang cukup itu, juga berpengaruh pada masalah kesehatan. Saat ini, di masyarakat Kasepuhan Cisungsang belum ditemukan adanya kasus gizi buruk maupun anak stunting, berdasarkan laporan dari Puskesmas Cibeber, 2024.

Untuk memenuhi keperluan yang harus mengeluarkan uang, masyarakat daerah itu biasanya menjual hasil panen padi pada masa panen kedua atau menjual hasil tanaman lainnya, seperti kelapa, pisang, dan dari kebun cengkih. Selain itu, dari mereka juga ada yang bekerja di luar pertanian, seperti berdagang, mengojek, atau ada yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Facebook Comments