Triberita.com | Yogyakarta – Sebanyak 43 orang yang mengkonsumsi daging, diduga terinfeksi antraks. Dari jumlah tersebut, 17 orang di antaranya bergejala. Bahkan kini sudah ada seorang warga Sleman yang meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Daerah Istimewa Yogyakarta DIY, Pembajun Setyaningatutie membenarkan, ada 43 orang yang suspek antraks awal bulan Maret 2024 ini.
“Ada 43 sampel yang diperiksa karena mengkonsumsi. Ada 26 warga Sleman, dimana ada satu warga suspect antraks. 17 warga Gunungkidul yang bergejala, ada dua orang yang dirawat, dan seorang warga Sleman meninggal dunia, tapi belum sempat diambil sampelnya,” ujar Pembajun Setyaningatutie.
Pembajun menyebut data tersebut itu mereka dapatkan berdasarkan penelusuran endemik (PE) tanggal 8 hingga 9 Maret 2024 yang lalu.

Penelusuran dilakukan menyusul dugaan munculnya antraks di wilayah perbatasan Kapanewon Prambanan Sleman dengan Gedangsari Gunungkidul.
Menurut Pembajun, usai mendapatkan laporan jika ada warga Gunungkidul dirawat di RSUD Prambanan dengan gejala antraks tanggal 8 Maret 2024 silam, pihaknya langsung melakukan PE awal.
PE ini dilakukan untuk menelusuri penyebarannya. “Ya kalau sudah diketahui peta penyebarannya seperti apa, terus kita bisa menentukan kebijakan selanjutnya,” ujarnya.
Pembajun menambahkan mencermati kondisi tersebut pihaknya melakukan langkah antisipasi. Meskipun tidak ada riwayat penularan antraks dari manusia ke manusia, pihaknya terus melakukan pemantauan kondisi kesehatan warga suspect antraks tersebut.
Sapi dinyatakan positif antraks
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul menyebut seekor sapi asal Gunungkidul berjenis limosin yang mati mendadak beberapa hari lalu, ternyata positif antraks.
Sapi tersebut merupakan 1 dari 3 ekor hewan ternak milik warga Dusun Kayoman, Kalurahan Serut, Kapanewon Gedangsari yang mati mendadak.
Sementara warga Dusun Kayoman tersebut, menjalani perawatan di RSUD Prambanan dengan diagnosis suspect antraks. Warga itu sebelumnya sempat menyembelih dan mengkonsumsi kambing milik warga Sleman, yang juga mati mendadak.
Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengungkapkan ada 3 hewan ternak milik warga Dusun Kayoman yang mati mendadak sehari pasca warga tersebur dibawa ke RSUD Prambanan. Sebanyak 3 hewan ternak tersebut, adalah seekor sapi dan 2 ekor kambing.
“Semuanya mati mendadak dalam satu hari. Sebenarnya warga Dusun Kayoman yang sempat dirawat di RSUD Prambanan itu, punya 1 sapi dan 4 kambing. Tapi yang mati 3 ekor,” ujar Wibawanti Wulandari, Senin (11/3/2024).
Pasca 3 hewan ternak milik warga Dusun Kayoman mati mendadak, pihaknya lantas melakukan survailans awal.
Mereka kemudian mengirim sampel darah dan tanah tiga hewan tersebut. Sampel satu ekor sapi dan dua kambing mereka kirim ke BBVet.
Sampel yang mereka kirim adalah darah dan juga tanah di kandang, lokasi penyembelihan dan tanah tempat menyeret sapi yang sudah mati itu. Dan sampel-sampel tersebut sengaja dikirim untuk memastikan penyebab kematian 3 hewan ternak itu.
Dia menyebut hasil uji laboratorium terhadap sample darah hewan yang mati mendadak di Dusun Kayoman belum semuanya keluar. Baru hasil uji laboratorium sapi saja yang keluar dan dipastikan positif antraks.
Menindaklanjuti hasil uji laboratorium tersebut, Wibawanti mengatakan, pihaknya langsung melakukan isolasi terhadap hewan ternak lain di kandang masing-masing milik warga di dusun Kayoman.
“Kami juga langsung memberikan antibiotik terhadap semua hewan ternak di Dusun Kayoman,” kata dia.
Dia menyebut setidaknya 89 sapi dan 175 kambing, semua sudah diberikan antibiotik. Pihaknya juga memberikan KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) terkait pengendalian dan pemberantasan penyakit antraks terhadap 50 warga yang dekat dengan lokasi kejadian.

















