Triberita.com, Lebak Banten – Sedikitnya 74 desa di 21 kecamatan, di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, telah terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau tahun ini.
Hingga Senin (25/9/2023), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak sudah mendistribusikan 800 ribu liter air bersih kepada 74 desa di 21 kecamatan di Lebak selama musim kemarau berlangsung, guna membantu kebutuhan air bersih bagi warga yang terdampak.
Di satu sisi, masa puncak musim kemarau tahun ini berlangsung pada Agustus hingga September, dan diharapkan pada November 2023 nanti sudah mulai turun hujan di Provinsi Banten.
Distribusi air bersih disalurkan di Kecamatan Panggarangan, Kecamatan Bayah, Kecamatan Cilograng, Kecamatan Malingping, dan Kecamatan Curugbitung. Warga yang mendapatkan bantuan air bersih, berbondong-bondong menghampiri mobil tangki bantuan dan saling berebut.
Kepala Pelaksana BPBD Lebak Febby Rizki mengatakan, distribusi air bersih dilakukan terus menerus meski di hari libur.
“Kami kembali mendistribusikan air bersih kepada wilayah yang terdampak Kecamatan, pada hari Jumat, dan sampai sekarang kami sudah kembali mendistribusikan air ke beberapa wilayah, yakni di Lebak Selatan, dan sekarang Kecamatan Curugbitung,”ujar Febby Rizki.
Ia mengungkapkan, selain mendistribusikan air bersih, pihaknyapun berupaya mengusulkan modifikasi cuaca kepada BRIN.
“Jadi air yang sudah dikirimkan itu kalau total dari bulan Agustus sampai September, yakni 800 ribu liter. Kalau kemarin (25/9/2023), kami kirimkan air ke Desa Ciburuy, Kecamatan Curugbitung sebanyak 22 ribu liter,”ujarnya.
Febby membeberkan, awalnya jumlah total kecamatan yang terdampak sekitar 20 kecamatan.”Tadinya cuman 18 kecamatan. Tapi di awal bulan September mengalami kenaikan 3 kecamatan,”paparnya.
Kepala Dinas Pertanian Lebak, Rahmat mengatakan, kemarau berkepanjangan sejak Juni 2023 menyebabkan 156 hektare sawah di Kabupaten Lebak mengalami kekeringan. Tanaman padi di ratusan hektare sawah terancam puso jika tidak ditangani.
“Ratusan hektare sawah tersebut tersebar di delapan Kecamatan, yakni di Kecamatan Cibadak, Leuwidamar, Panggarangan, Sobang, Wanasalam, Cigemblong, Wanasalam, dan Banjarsari. Yang gagal panen hanya 1 haktare, sisanya bisa kami tangan,”katanya.
Dalam menghadapi fenomena El Nino, kata Rahmat, Distan Kabupaten Lebak telah mengeluarkan Surat Edaran kepada Korwil BPP se-Kabupaten Lebak pada Mei 2023.
Surat itu, intinya mengantisipasi dampak El Nino dengan melakukan percepatan tanam di wilayah yang masih tersedia sumber air, dengan menggunakan varietas yang tahan kekeringan.
“Melakukan pemeliharaan terhadap saluran irigasi, pipanisasi, dan embung. Melakukan gilir air yang dikelola oleh P3A, serta menginventarisasi wilayah-wilayah yang rawan terjadinya kekeringan serta ketersediaan sumber air,” pintanya.
Dijelaskannya, berdasarkan data dari Koordinator POPT Kabupatan Lebak, sampai tanggal laporan, 15 Agustus 2023 per 21 Agustus 2023, telah terjadi kekeringan dengan luasan mencapai 153 hektare, terdiri dari kategori ringan seluas 93 hektare, sedang seluas 32 hektare, berat seluas lima hektare, dan puso seluas satu hektare.
“Atas kasus tersebut, Dinas Pertanian berkoordinasi dengan BPTHP Provinsi Banten untuk melakukan gerakan penanganan kekeringan, serta permohonan bantuan pompa,”imbuhnya.
Sampai Juli 2023, produksi padi di Kabupaten Lebak, sebanyak 422.522 ton GKP atau setara 221.850 ton beras.
“Apabila kebutuhan beras per kapita per tahun sebesar 101,6 kilogram, produksi beras tersebut masih surplus selama 11 bulan,”ujar Rahmat.
Dengan demikian, warga Kecamatan Curugbitung, harus rela antri demi mendapatkan air bersih bantuan dari BPBD Lebak.
“Kalau mau dapat air bersih, paling harus jalan kaki. Soalnya sungai disini lumayan jauh, jadi pas ada bantuan saya rela antri dan berebut air bersih, pokonya sangat bahagia,” tutupnya.

















