Triberita.com | Serang Banten – Tradisi Seren Taun, merupakan upacara adat tahunan sebagai wujud rasa syukur masyarakat Cisungsang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, atas hasil panen.
Cisungsang sebuah daerah yang memiliki luas ± 2.800 km. Terletak di kaki Gunung Halimun, Desa Cibeber, Kabupaten Lebak. Kawasan ini dikelilingi oleh 4 (Empat) desa yaitu Desa Cicarucub, Bayah, Citorek, dan Cipta Gelar.
Wilayah Cisungsang, dapat ditempuh dengan waktu 5 jam dari kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak atau berjarak ± 175 Km dari pusat kota Provinsi Banten. Kondisi jalan menuju lokasi tersebut, cukup baik dan dapat dilalui dengan kendaraan apapun.
Untuk mencapai ke lokasi acara Seren Taun Cisungsang, dapat melakukan perjalanan darat. Rute yang umum digunakan adalah, dari Rangkasbitung melalui Malingping, lalu ke Bayah dan Cikotok, dan akhirnya tiba di Cisungsang.

Sistem pemerintahan masyarakat Cisungsang, yaitu sistem pemerintahan negara, sistem kasepuhan (hukum adat), dan sistem agama (hukum Islam).
Masyarakat Cisungsang menganut Agama Islam, namun dalam mengatur kesehariannya mereka juga memiliki hukum adat dalam perkembangan.
Kehidupan sehari hari, mereka juga menggunakan Syariat Islam, salah satu contoh mereka biasa melakukan shalat.
Sedikit berbeda dengan masyarakat Baduy. Masyarakat Cisungsang, lebih terbuka terhadap perkembangan, seperti baduy menggunakan sistem isolasi yaitu masyarakatnya (baduy dalam) tidak dapat beralkulturasi dengan masyarakat luar.

Sedangkan masyarakat Cisungsang, tidak seperti itu. Terbukti dengan adanya pencahayaan listrik, bentuk rumah, bertani sudah menggunakan alat-alat yang modern dan media elektronik sudah ada seperti TV, Radio, Tape Recorder, Telepon dan Satelit.
Namun, tentu saja tanpa meninggalkan budaya asli leluhurnya, seperti bentuk rumah kayu tradisi berbentuk panggung dengan alat memasak tungku (hawu) yang di atasnya dilengkapi tempat penyimpanan alat-alat dapur yang disebut Paraseuneu.
Kembali ke acara Tradisi Seren Taun. Perhelatan budaya tradisi dan kesenian khas Banten, yakni Ritual Rasul Pare di Leuit, merupakan penanda dimulainya rangkaian Seren Taun (pesta panen) masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang, yang akan dilaksanakan, pada Senin (22/9/2025) hingga (29/9/2025).
Rundown acara Seren Taun 2025:
1. Rasul Pare di Leuit pada 22 September 2025
2. Bubuka Pantun Tradisional di Kompleks Kasepuhan Cisungsang pada 25 September 2025
3. Balik Taun Rendangan pada 26 September 2025
4. Ngareremokeun pada 27 September 2025
5. Acara puncak Seren Taun pada 28 September 2025
6. Penadaran atau acara penutup pada 29 September 2025.
Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur atas hasil panen, doa untuk musim tanam mendatang, sekaligus penanda pergantian tahun dalam kalender pertanian Sunda Buhun, akan dipimpin oleh Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang, Abah Usep Suyatma.
Dengan segala ritual sakral dan kemeriahan budayanya, Seren Taun tidak hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya tingkat nasional.
Seren Taun, juga menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong. Seluruh warga terlibat aktif, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Bukan hanya masyarakat adat, ribuan pengunjung dari luar daerah turut meramaikan acara ini.
Perayaan tradisi itu, sejak turun temurun hingga ribuan tahun dan dilaksanakan pada Bulan Rayagung dalam kalender masyarakat Sunda yang berada di kawasan kaki Gunung Halimun Salak di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang, Henriana Hatra, atau akrab disapa Kang Nochi, menjelaskan bahwa Seren Taun adalah ritual wajib tahunan yang melibatkan seluruh masyarakat adat.
Sementara para tamu undangan yang biasanya hadir, terdiri dari pejabat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemerintah Provinsi Banten, dan Kabupaten Lebak, hingga pemerhati budaya.
Ritual upacara adat itu dilaksanakan di depan “Leuit Si Jimat”. Leuit, artinya tempat dan jimat artinya sesuatu yang dianggap berharga. Istilah jimat, dianggap memiliki sesuatu kekuatan magis yang dapat membawa keberuntungan atau keberkahan.
Di tahun ini, Ritual Seren Taun mengangkat tajuk ‘Rasul Pare di Leuit, Mantun, Balin Taun Rendangan, Ngareremokeun, Ngadiukeun Pare di Leuit, Rasul Seren Taun.’
Adapun untuk hajat tahunan ini, akan digelar selama delapan hari penuh. Upacara adat dimulai dengan datangnya rombongan arak-arakan padi yang ditandu oleh empat orang rendangan.
Tandu tersebut, berisi padi indung, diiringi para dayang, yakni gadis remaja, lengkap dengan baju kebaya dan kain sampirnya.
Setelah menjalani upacara, dilanjutkan dengan memasukkan padi-padi yang diarak ke dalam Leuit Si Jimat, sambil diiringi puji-pujian, “Ayeuna Si Nyai ku, Kami diamitkeun”, yang artinya, “Sekarang Si Nyai oleh kami dirapikan”.
Padi yang pertama kali dimasukkan, adalah padi indung, kemudian disusul padi lainnya, sambil membaca doa dan pembakaran kemenyan yang asapnya tiada henti mengepul.
Angklung buhun yang berada di samping Leuit Si Jimat, ikut mengiringi puji-pujian dibarengi dengan petikan kecapi serta tiupan suling, sehingga suasana perayaan Seren Taun semakin hening dan khusyuk.
Ritual tradisi Seren Taun itu, merupakan ritual mengharap berkah hasil panen padi, dengan masa panen tiga bulan, juga ada yang enam bulan, untuk memenuhi ketersediaan pangan keluarga.
Untuk diketahui, ritual tradisi Seren Taun ini untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki hasil panen padi.
Pada penyelenggaraan Seren Taun Cisungsang, terdapat 2 kategori ajang, yaitu kegiatan yang bersifat tradisi yang jenis dan jadwalnya tidak berubah, dan satu kegiatan pendukung (side event), yaitu menampilkan sisi budaya dan wisata serta edukasi yang disuguhkan kepada pengunjung.
Ritual adat Seren Taun, merupakan tradisi lokal yang memiliki makna bagi keberlangsungan pangan masyarakat.
Dampak yang terasa dari tradisi itu, adalah masyarakat Kasepuhan Cisungsang yang tersebar di sembilan desa, hingga kini belum pernah mengalami krisis pangan, karena hasil panen selalu melimpah dan tidak diperjualbelikan.
Persediaan hasil panen selalu penuh, dengan penduduk sekitar 9.000 kepala keluarga (KK) dan rata-rata satu KK memiliki dua lumbung pangan atau leuit, sehingga total ada 18.000 leuit di wilayah itu.
Masyarakat adat itu membangun leuit, biasanya berada di belakang rumah atau berdekatan dengan dapur, sehingga kaum perempuan mudah untuk mengambilnya, saat akan memasak. Tidak jarang, padi yang ada di dalam leuit itu, merupakan hasil panen 20 tahun lalu.
Persediaan pangan berupa gabah hasil dari huma dan sawah dapat memenuhi konsumsi keluarga, termasuk untuk keperluan menggelar acara pernikahan, sunatan maupun pesta adat lainnya.
Dengan pola penyimpanan di leuit itu, masyarakat Kasepuhan Cisungsang belum pernah mengalami kerawanan pangan, apalagi kekurangan, meskipun pada musim tertentu, sawah atau huma mereka terserang penyakit yang mengakibatkan gagal panen.
Jika gagal panen, mereka tertolong karena memiliki stok padi yang disimpan di leuit sebagai cadangan ketahanan pangan keluarga.
Kondisi yang sama pernah mereka alami, saat Indonesia dan sejumlah negara di dunia mengalami pandemi COVID-19. Mereka tinggal memanfaatkan pangan cadangan yang sudah tersedia.
Apalagi, pada saat pandemi itu, negara kembali hadir dengan memberikan bantuan sosial kepada warga di wilayah kasepuhan itu, lewat Badan Pangan Nasional (Bapanas), khususnya bagi warga yang masuk dalam kategori Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Ketersediaan pangan yang cukup itu juga berpengaruh pada masalah kesehatan. Saat ini, di masyarakat Kasepuhan Cisungsang belum ditemukan adanya kasus gizi buruk maupun anak stunting.
Untuk memenuhi keperluan yang harus mengeluarkan uang, masyarakat daerah itu biasanya menjual hasil panen padi pada masa panen kedua atau menjual hasil tanaman lainnya, seperti kelapa, pisang, dan dari kebun cengkih.
Selain itu, dari mereka juga ada yang bekerja di luar pertanian, seperti berdagang, mengojek, atau ada yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Kesenian yang berkembang di masyarakat Adat Cisungsang adalah:
1. Angklung Buhun.
2. Anjing Anjing Lojor.
3. Sisindiran/Pantun.
4. Ngagondang.
5. Wayang Golek.
6. Ujungan, terdiri dari Cangkul Ageung, Cangkul alit dan Golok.
7. Silat Baster diiringi pencak silat tarik kolot.
8. Rengkkong.
9. Celempung, yaitu alat musik dari bambu yang dimainkan dengan cara dipukul dengan telapak tangan.
10. Karinding.
11. Betok, yaitu Bass dari bambu yang dimainkan dengan cara ditiup.
Sedangkan cara penyajian Angklung Buhun, meliputi 12 orang dan dibagi ke dalam 2 regu. Masing-masing regu, terdiri dari 6 orang, yaitu 2 pemain dogdog dan 4 pemain angklung.
Angklung Buhun ditampilkan setiap mengadakan upacara-upacara adat, sedikitnya 4 kali dalam setahun.
Gerakan dari angklung buhun, yaitu 2 langkah depan dan 1 langkah ke belakang, yang berarti mawas diri atau setiap melakukan pekerjaan jangan selalu melihat kedepan sekali harus-kali melihat ke belakang.

















