Scroll untuk baca artikel
Bencana AlamBeritaNasional

Waspada Potensi Bencana Alam di Akhir Tahun 2025 dan Awal 2026

1141
×

Waspada Potensi Bencana Alam di Akhir Tahun 2025 dan Awal 2026

Sebarkan artikel ini
Bencana hidrometeorologi adalah, fenomena bencana alam atau proses merusak yang terjadi di atmosfer, air atau lautan. Bencana hidrometeorologi yang sering terjadi di Indonesia, yaitu kekeringan, badai petir, banjir, angin kencang, longsor, dan puting beliung, dikarenakan meningkatnya aktivitas manusia & kerusakan lingkungan hidup. (Foto : istimewa)

Triberita.com | Jakarta – Memasuki penghujung tahun, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi menjelang akhir tahun 2025 dan awal 2026.

Bencana hidrometeorologi, adalah bencana alam yang disebabkan oleh fenomena cuaca, iklim, dan air seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, gelombang pasang, dan kekeringan.

Bencana ini, terjadi ketika sistem hidrologi (air) dan meteorologi (cuaca) mengalami gangguan atau perubahan ekstrem, sering kali akibat curah hujan tinggi, angin kencang, dan gelombang tinggi.

Curah hujan tinggi dan cuaca ekstrem, diprediksi meningkat signifikan selama periode ini dan wilayah perkotaan memiliki risiko tersendiri, khususnya terkait angin kencang yang dapat menyebabkan pohon tumbang atau merusak bangunan.

Imbauan khusus bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah rawan.

Untuk wilayah yang rawan angin kencang, masyarakat diminta menghindari bangunan yang rentan roboh.

Sementara di daerah rawan longsor, warga diminta segera melakukan pengungsian jika curah hujan meningkat.

Apabila ada kejadian yang tidak diinginkan, segera menginformasikan kepada petugas pemerintah atau tim rescue agar dapat dibantu.

Analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan potensi peningkatan curah hujan signifikan mulai Desember 2025 hingga Mei 2026.

Dalam periode tersebut, beberapa wilayah berpotensi menerima hujan lebih dari 300 mm per bulan, yang dapat memicu banjir, tanah longsor, hingga gangguan aktivitas masyarakat.

Menjelang akhir tahun 2025, hujan lebat diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali hingga NTT.

Wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, serta bagian Jawa mulai dari Banten, Jawa Tengah hingga sebagian Jawa Timur diimbau untuk siaga terhadap hujan lebat.

Baca Juga :  Prakirakan Mayoritas Wilayah Indonesia Alami Hujan pada Rabu, Tinggi Gelombang Air Laut 0,5 hingga 2,5 Meter

Di Kalimantan dan Sulawesi, pola curah hujan diprediksi serupa. Beberapa wilayah Papua juga masuk kategori rawan, meliputi Papua Tengah, Papua Pegunungan hingga Papua Selatan.

BMKG meminta masyarakat menjaga kewaspadaan, terutama di wilayah rawan bencana hidrometeorologi.

Peningkatan kewaspadaan terhadap bencana tersebut, menjadi perhatian Kementerian Dalam Negeri dalam rapat koordinasi lintas yang digelar, Senin (1/12/2025).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memperingatkan sejak dini akan ancaman alam tersebut.

Kemendagri meminta pemerintah daerah dan pihak terkait, melakukan persiapan lebih awal menyambut ancaman bencana akhir tahun. Dalam rapat koordinasi tersebut, sekaligus membahas persiapan libur Natal dan tahun baru.

Rapat di Kantor Kemendagri itu dihadir Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Wamenko Polkam, Lodewijk F Paulus, Kepala Basarnas Mohammad Syafii, Wakil Kepala BIN Komjen Imam Sugianto, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.

Selain itu hadir secara virtual Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardana, perwakilan dari BNPB hingga PT Pertamina.

“Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dua hal. Ini hari pertama di bulan Desember, yang pertama mengantisipasi bencana,” kata Mendagri Tito Karnavian.

Tito menyebut ada dua bencana besar yang terjadi dalam dua pekan terakhir di Indonesia. Bencana itu di antaranya di Jawa Tengah dan utara Sumatera.

“Total, sudah ada dua bencana besar terjadi dalam periode dua minggu ini, pertama di Jawa Tengah, yakni banjir bandang dan longsor di Cilacap dan Banjarnegara. Kemudian yang kedua adalah yang skalanya luas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ujar dia.

BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem, Polda Banten Imbau Warga Tetap Waspada

Sementara itu, Polda Banten mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan cuaca ekstrem yang dirilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada Rabu (3/12/2025).

Baca Juga :  Prediksi Situasi Cuaca Ekstrem tanggal 7 - 8 Februari 2023

Berdasarkan prakiraan cuaca terbaru, sejumlah wilayah di Provinsi Banten berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

Plt. Kabidhumas Polda Banten AKBP Meryadi menjelaskan, bahwa kondisi cuaca hari ini perlu menjadi perhatian seluruh masyarakat.

Berdasarkan data terbaru BMKG, kondisi cuaca di Provinsi Banten diprakirakan berawan pada pagi hari, berawan hingga hujan ringan dan hujan sedang di berbagai wilayah pada siang hari, serta berawan hingga hujan ringan pada malam dan dini hari.

“Suhu udara, berada pada kisaran 23–32 derajat celcius dengan kelembaban 60–95 persen. Angin bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 5–35 km/jam,” jelas Meryadi.

Lebih lanjut, Meryadi menuturkan bahwa wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat meliputi sebagian besar Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang bagian utara, Kabupaten Lebak bagian utara dan timur, Kota Serang, Kabupaten Tangerang bagian barat dan timur, Kota Tangerang, serta Kota Tangerang Selatan.

Ia juga menambahkan, bahwa masyarakat pesisir perlu waspada terhadap potensi gelombang tinggi 1,25–2,50 meter di Selat Sunda Barat Pandeglang, Perairan Selatan Pandeglang, dan Perairan Selatan Lebak.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG serta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir, longsor, dan pohon tumbang. Untuk pengendara sepeda motor, kami sarankan untuk menepi atau berteduh saat hujan deras karena jalanan licin dan jarak pandang dapat berkurang. Selain itu, kami juga mengingatkan masyarakat agar mencabut seluruh peralatan listrik yang tidak digunakan saat terjadi hujan lebat disertai petir untuk mencegah korsleting. Hindari pula berteduh di bawah pohon atau tiang tinggi ketika petir menyambar karena sangat berbahaya,” tegasnya.

Baca Juga :  Perdana Hari Kerja ASN di KBB, Bupati Hengky Berikan pesan Pada Peringatan Hari Otonomi Daerah 2023

Meryadi juga menekankan, pentingnya kewaspadaan bersama. Cuaca dapat berubah cepat. Tetap prioritaskan keselamatan dalam setiap aktivitas dan hindari perjalanan yang tidak mendesak saat cuaca buruk.

“Polda Banten terus berkoordinasi dengan BMKG serta instansi terkait untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat akurat dan terkini,” terangnya

Facebook Comments