Triberita.com, Pandeglang Banten – Tingkat stunting sebagai dampak kurang gizi pada balita di Indonesia melampaui batas yang ditetapkan WHO. Kasus stunting banyak ditemukan di daerah dengan kemiskinan tinggi dan tingkat pendidikan yang rendah.
Berdasarkan titik sebaran, hampir seluruh provinsi, kecuali Sumatra Selatan dan Bali, memiliki persentase stunting di atas batas WHO.
Dari peta tersebut, Bupati, Pandeglang Irna Narulita mengajak kepada semua pihak agar bisa bekerja sama dalam mengtasi persoalan stunting. Hal itu harus dilakukan, karena Pandeglang menjadi salah satu daerah penderita stunting terbanyak.
“Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih,” katanya, Rabu 22 Februari 2023.
Diketahui, hingga saat ini ada sebanyak 5.664 anak mengalami stunting. Dari jumlah itu, yang mengalami tubuh pendek sebanyak 3.964 balita dan sebanyak 1.700 balita sangat pendek.
Irna mengatakan, pencegahan stunting merupakan tanggung jawab semua pihak terkait. Oleh sebab itu semua pihak harus bisa berkolaborasi dengan pemerintah dalam pencegahan penyakit tersebut.
“Kita punya banyak program di antaranya Bulan Penimbangan Balita dan imunisasi, kami harap program yang dibuat ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dalam pencegahan stunting,” ujarnya.
Irna mengatakan, pencegahan stunting bukan saja pemberitan vitamin bagi balita, namun perlu diperhatikan juga calon ibu muda.
Soalnya, kata Irna, salah satu faktor terjadinya kasus stunting adalah kurangnya menjaga kesehatan reproduksi dikalangan remaja putri.
“Untuk itu kami juga punya program Sarita (sehat berseri tanpa anemia), kami berikan vitamin dan zat besi bagi para remaja putri,” katanya.
Menurut Irna, pencegahan stunting harus dilakukan secara keroyokan oleh beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari berbagai bidang yang berkaitan dengan kesehatan, mulai dari lingkungan, ketersediaan air, kebersihan, pendidikan, perekonomian, sosial, dan lainnya.
“Semua ikut berperan serta bukan hanya Dinkes semata, kami harap dengan banyak nya program yang dibuat kasus stunting bisa turun lagi bahkan zero,” katanya.
Untuk diketahui, sebagian besar masyarakat mungkin belum memahami istilah yang disebut stunting.
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.
“Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih.”
Penulis : Daeng Yusvin

















