Triberita.com | Subang – Kisah pengunduran diri Dr. Maxi dari status Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Subang, semakin menyeret nama-nama pejabat teras Pemerintah Kabupaten (Pemkab).
Mantan Kepala Dinas Kesehatan yang dikenal berprestasi ini secara blak-blakan mengungkapkan bahwa dirinya merasa dijadikan “sapi perahan” oleh oknum kekuasaan.
Dalam pernyataan terbarunya kepada Triberita.com, Dr. Maxi mengaku telah menyerahkan sejumlah uang tunai yang ditujukan sebagai setoran kepada Bupati Subang melalui perantara Kepala Dinas. Pengakuan ini secara frontal membantah pernyataan publik yang dikeluarkan oleh lingkaran Bupati.
Pengakuan Setoran Uang Tunai Rp 50 Juta Dua Kali
Dr. Maxi secara eksplisit menyebutkan penyerahan uang Rp50 Juta tersebut dilakukan dua kali pada bulan yang berbeda tahun 2025.
“Saya kasih ke Heri Sopandi [Saat itu Menjabat Kadis PUPR] uang tunai Rp50 juta di bulan April dan Rp 50 juta di bulan Juli untuk disertorkan ke Bupati,” ungkap Dr. Maxi.
Instruksi Langsung dari telepon Petinggi Subang
Dr. Maxi menjelaskan detail pertemuan yang memicu penyerahan uang tersebut. Menurutnya, Heri Sopandi mendatangi Dr. Maxi dan mengutarakan niatnya. Di depan Dr. Maxi, Heri Sopandi kemudian menghubungi Bupati Subang melalui telepon. Heri lantas menyerahkan telepon genggamnya agar Dr. Maxi berbicara langsung dengan Bupati.
Dr. Maxi menirukan dialog yang terjadi pada saat itu:
Heri Sopandi: “Pak Bupati, ini ada Dr. Maxi.”
Lalu HP yang masih terhubung, Heri Sopandi berikan ke Dr. Maxi dan mulai berkomunikasi.
Petinggi Daerah : “Ya Dok, tolong dibantu ya.”
Dr. Maxi: “Siap Pak Bupati,” jawabnya saat itu.
Bagi Dr. Maxi, momen percakapan telepon yang diakhiri dengan instruksi “Tolong dibantu ya” oleh Petinggi Daerah yang kemudian diikuti dengan penyerahan uang tunai melalui Kadis Heri Sopandi, kejadian ini menjadi bukti tak terbantahkan adanya unsur pungli dan gratifikasi
Ia menyebut bahwa dirinya rela menyerahkan uang tersebut ke Kadis Heri Sopandi karena adanya instruksi langsung dari pimpinan.
Dibalik Rotasi Mutasi
Hal yang paling menyakitkan bagi Dr. Maxi adalah alasan yang digunakan pimpinan daerah dalam menjalankan rotasi dan mutasi jabatan. Selama ini, rotasi selalu diklaim sebagai hasil dari evaluasi kinerja yang objektif.
“Yang menyakitkan kami, kata dia (Bupati) bahwa keputusan rotasi mutasi itu adalah hasil evaluasi kinerja. Ternyata alasan dibalik rotasi mutasi bukan terkait dengan kinerja yg objektif,” kata Dr. Maxi, terlihat semakin membeberkan bahwa praktik transaksional telah mengalahkan profesionalitas dalam birokrasi Subang.
Pernyataan Dr. Maxi ini kini membuka babak baru dalam skandal pengunduran dirinya, menggeser fokus dari isu lain menjadi isu serius dugaan gratifikasi atau pemerasan jabatan yang melibatkan pejabat tinggi daerah.
Dikonfirmasi pada Kamis, 6 November 2025 usai kegiatan acara seremonial, Kadis Heri Sopandi yang kini menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (16 September 2025 di Desa Jalupang) membantah tidak menerima uang dari Dr.Maxi.
“Tidak pernah meminta uang,” Jawab Heri Sopandi dengan singkat .
















