“Sebagian masyarakat disitu juga berkerja untuk normalisasi, dan itu dibawah pengawasan wakil BPD Karang Baru, Andi dan saya minta pengerjaan ini segera selesai dalam tempo sesingkat singkatnya agar dimusim banjir agar warga kami tidak tergenang air,” jelasnya.
Ia menyebut, adapun panjang 40 meter dan lebar 1×1 meter yang dikerjakan. Ia tegaskan ini semuanya atas dasar usulan warga ke BPd dan semua dibawah kewenangan mereka termasuk anggaran yang dikeluarkan.
“Sekali lagi semua atas dasar usulan warga ke BPD, terkait teknis pengerjaan kegiatan dan anggaran tidak saya potong sesuai kebutuhan, kita transparan,” ujarnya.
Salah satu langkah konkret untuk mengantisipasi musim penghujan adalah dengan Normalisasi Saluran Drainase yang berada di tengah-tengah pemukiman warga. BMKG memperkirakan awal musim hujan di Indonesia terjadi di bulan September hingga November 2023.
Kemudian perkiraan puncak musim penghujan terjadi di bulan Desember dan Januari 2023. Oleh karenanya lewat anggaran Dana Desa Tahun Anggaran 2023 dengan kegiatan Normalisasi Saluran Drainase Pemukiman.
Fokus normalisasi di wilayah kampung Teleng, dikarenakan wilayah tersebut pada saat hujan dengan intensitas tinggi banyak genangan air yang tidak mengalir.
“Banjir umumnya disebabkan oleh kombinasi faktor kondisi alam dan ulah manusia. Curah hujan yang tinggi merupakan salah satu faktor alam yang mengakibatkan naiknya volume air di wilayah tersebut, Sementara, salah satu faktor ulah manusia yang menyebabkan banjir adalah buang sampah sembarangan, maka dari itu mari kita tertib dengan membuang sampah pada tempatnya dan selalu menjaga kebersihan linkungan,” jelas Ambarawa.
Sementara itu, saat dikonfirmasi dilokasi berbeda, Lukas selaku pihak pengembang proyek drainase mengatakan, saat ini masih dalam tahap pengerjaan, adapun kendala yakni terjadinya kesalahan pada teknis.
“Kenapa berhenti selama empat hari karena ada kesalahan pada pengerjaan, tukang kurang profesional mangkanya saya akan ganti tukang, bukan berarti proyek itu mandek, masih kok kami kerjakan kemarin saya kelokasi nanti saya ganti tukang,” kata Lukas.
Saat disinggung terkait biaya anggaran yang dikeluarkan dan jarak luas yang dikerjakan, pihaknya juga tidak mengetahui pasti lantaran ada persolan kendala di BPD Karang Baru.
“Masalah anggaran saya enggak tau, karena kemarin masih terkendala di BPD, besok saya kroscek lagi ke lapangan yang jelas saya tanggung jawab atas pengerjaan itu,” jelasnya.
Wakil ketua BPD Desa Karang Baru Andi Lala mengatakan, pihaknya tidak mengetahui pasti proyek pengerjaan drainase tersebut. Hal ini yang menjadi ketimpangan diduga adanya oknum ditubuh BPD Karang Baru.
“Saya bingung dah, enggak tau,” singkat Andi.
Sebelumnya, sejumlah warga Desa Karang Baru, Kecamatan Cikarang Utara, keluhkan proyek gorong-gorong diduga mangkrak. Sebab proyek tersebut terhenti tidak ada kelanjutannya.
Kemudian, proyek gorong-gorong yang berada di jalan RM Marjuki, Kampung Teleng, Desa Karang Baru, Cikarang Utara, tidak ditemukannya papan proyek.
















