Triberita.com | Tangerang Banten – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kota Tangerang, Provinsi Banten, pada Minggu sore (6/4/2025) hingga malam hari, menyebabkan terjadinya genangan dan banjir di sejumlah titik.
Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang pun segera mengerahkan tim gabungan mulai dari BPBD, Satpol PP, serta Dinas PUPR untuk menangani banjir di 12 titik yang tersebar di 6 kecamatan terdampak, antara lain Kecamatan Larangan, Cibodas, Pinang, Ciledug, Cipondoh, dan Karang Tengah.
Wakil Wali Kota Tangerang, H. Maryono Hasan, pada Minggu malam pun, langsung meninjau permukiman warga yang terdampak banjir, yakni di Taman Cipulir Estate RW 08, Kelurahan Cipadu, Kecamatan Larangan.
“Hujan dengan intensitas tinggi yang cukup deras dari sore hingga malam tadi, menyebabkan debit air meningkat di wilayah ini. Namun, alhamdulillah, setelah 2 jam hujan reda, debit air mulai surut, dibantu oleh petugas yang membersihkan drainase, mengangkut sampah yang menghambat arus air, serta mengecek dan mengaktifkan pompa di wilayah, juga membantu warga yang ingin dievakuasi ke tempat yang lebih aman,” ujar Maryono.
Mantan Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Tangerang ini menambahkan, Pemkot Tangerang memastikan, bahwa di sejumlah titik genangan dan banjir ini, telah ditangani dengan cepat, sehingga debit air yang melanda permukiman telah berangsur surut.
“Update hingga pagi tadi, ada di wilayah Candulan, polor dan Sudimara Pinang yang masih tergenang. Lokasi lainnya sudah surut dan bisa dipastikan, hari ini warga sudah bisa kembali beraktivitas normal, dibantu para petugas yang standby berjaga untuk melakukan pembersihan,” tambahnya.
Adapun berbagai bantuan armada transportasi, perahu karet dan logistik permakanan sebanyak 2150 paket, juga telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak.
Posko Banjir dan Posko Kesehatan juga masih disiagakan hingga kondisi kembali seperti sedia kala.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni mengatakan, pagi ini petugas kesehatan telah dikerahkan untuk menyisir lokasi-lokasi yang masih tergenang banjir. Baik itu di pengungsian maupun rumah-rumah terdampak secara door to door.
“Namun, sampai saat ini data masih terus bergerak, karena petugas masih bekerja di lapangan. Posko Kesehatan sudah didirikan di Kampung Cantiga tepatnya di lokasi Jagal PT TUN dengan jumlah pengungsi sekitar 80 orang dan Mushola Nurul Hikmah Kreo Selatan,” ungkap dr. Dini.
Lanjutnya, petugas sampai saat ini masih melakukan pemeriksaan kesehatan awal seluruh pengungsi.
“Tujuannya memiliki data pantauan awal kondisi kesehatan pengungsi pasca menghadapi genangan banjir sejak kemarin sore,” jelasnya.
“Dipastikan, petugas kesehatan akan siaga 24 jam di lokasi-lokasi pengungsian. Memastikan dengan sigap, baik itu pelayanan maupun penanganan sewaktu-waktu dibutuhkan. Tentu dilengkapi dengan obat-obatan yang sekiranya dibutuhkan pada penyakit yang kerap timbul di bencana banjir,” tambahnya.
Ia pun mengimbau, masyarakat dengan lokasi terdampak sudah surut untuk berhati-hati dengan penyebaran penyakit leptospirosis. Jauhi genangan air, sungai, danau, selokan, saluran air. Hindari kontak langsung dengan hewan yang rentan terinfeksi, terutama tikus. Cuci tangan dan kaki setelah melakukan kontak dengan hewan atau sebelum makan.
Gunakan pakaian yang melindungi tubuh. Bersihkan luka dengan penutup tahan air. Minimalisir penumpukan sampah yang mengundang tikus. Gunakan sepatu boot dan sarung tangan saat bekerja di lingkungan yang berisiko tinggi tertular leptospirosis.
“Perketat PHBS, waspada leptospirosis penting dilakukan, terutama saat musim hujan dan banjir. Penyakit ini dapat ditularkan melalui air, tanah, atau kontak dengan hewan yang terinfeksi,” imbaunya.

















