Triberita.com, Serang Banten – Gempa susulan yang terjadi di Jayapura telah tembus 1.000 kali dan warga tidak saja disibukkan oleh gempa, tapi juga kabar yang tidak benar. Salah satunya tentang kemunculan awan lensa dengan nama resmi awan lenticularis terjadi di Kota Jayapura, yang disebut sebagai pertanda gempa. Awan itu bagaikan piringan UFO.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan edukasi kepada warga melalui akun media sosialnya, untuk meredam kabar yang tidak benar agar tidak menjadi semakin liar.
“Awan ini murni merupakan fenomena meteorologis (cuaca), tidak ada kaitannya dengan gempa bumi,” ujar Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah V, Yustus Rumakiek.
Menurutnya, bukan sekali ini saja awan lenticularis nampak di langit kota Jayapura ataupun Kabupaten Jayapura.
Yustus menjelaskan, bahwa awan ini terbentuk karena angin yang berembus sejajar permukaan Bumi, dan mendapat hambatan dari objek tertentu, seperti pegunungan, sehingga membuat arus udara bergerak naik secara vertikal.
Jika udara naik mengandung banyak uap air dan bersifat stabil, maka saat mencapai suhu titik embun di puncak gunung, uap air tersebut mulai berkondensasi menjadi awan mengikuti kontur puncak gunung.
Awan ini mengindikasikan adanya aliran udara tidak beraturan (turbulensi) yang kuat di lapisan atmosfer, sehingga sangat berbahaya bagi penerbangan.
Sementara itu, beberapa pesan berantai di kalangan warga menyatakan akan adanya gempa lagi, bahkan salah satu pesan menyebutkan gempa akan berkekuatan 7 SR.
“Sekilas info dari Bapak Edi dan Mbak Desi: malam ini diharapkan tidur di rumah tapi cari tempat yang aman. Jangan tidur di lantai. Kalau memang ada tenda silah tidur di tenda di luar rumah. Ada himbauan dari BMKG, wali kota dan Plt Gubernur akan terjadi gempa besar malam ini. Dan diprediksi puncaknya nanti pada kekuatan 7 SR. Tetap waspada,” bunyi pesan.
Yustus memberi klarifikasi, bahwa informasi yang beredar tersebut, tidak benar dan BMKG tidak pernah memberikan pernyataan tersebut, sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“BMKG menyatakan, bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu untuk memprediksi parameter gempa bumi, seperti lokasi, waktu, kedalaman dan magnitudo gempa bumi,” tulisnya.
Ia mengimbau warga di wilayah Jayapura, agar tetap tenang serta waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan. Warga diharapkan memastikan kondisi bangunan tempat tinggal kuat, dan tahan gempa.
Selain itu, diharapkan menghindari aktivitas di sekitar bangunan-bangunan yang sudah rusak atau terlihat retakan akibat gempa bumi. “Pastikan jalur evakuasi dari dalam rumah ke luar rumah tidak terdapat penghalang yang dapat mempersulit evakuasi saat terjadi gempa bumi,” imbau BMKG.
Pada level keluarga, diharapkan membuat rencana kedaruratan seperti menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, pakaian secukupnya serta makanan instan.
Bagi warga yang tinggal di daerah lereng-lereng, agar mewaspadai kemungkinan longsor yang terjadi akibat dari gempa bumi dan memantau kabar dari BMKG melalui sumber resmi.
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG sejak Senin (2/1/2023), hingga hari ini, Sabtu (11/2/2023) 09:00 WIT, telah terjadi gempa bumi di wilayah sekitar Kota Jayapura sebanyak 1.173 kali, dengan 171 kejadian, di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
Penulis : Daeng Yusvin

















