Triberita.com | Karawang – Sekitar 150 orang di Kabupaten Karawang melaporkan Yayasan Cobra Jaga Negara yang diduga melakukan penipuan calon tenaga kerja ke Polres Karawang, Kamis (29/11/2023).
Sugeng Wiyono mewakili ratusan korban tersebut mengungkapkan, Yayasan Cobra Jaga Negara yang berkantor pusat di Cikarang, namun memiliki kantor cabang di Cikampek sebelumnya menjanjikan kepada korban untuk bisa mendapat pekerjaan, namun dengan sejumlah biaya.
Sugeng membeberkan, awalnya pihak dari Yayasan Cobra Jaga Negara, Afif Syarifudin mengiming-imingi dengan membuka lowongan kerja untuk security sejak bukan Juni 2023 lalu.
Afip Syarifuddin sebagai terlapor, kata dia, adalah penanggungjawab pengelola yayasan PT Cobra Jaga Negara yang di Cikampek dan Karawang. Kantor pusat yayasan ini ada di Cikarang.
Menurut Sugeng, para pencari kerja itu sudah membayar uang administrasi besarnya jutaan, bahkan sudah ikut pelatihan, namun sampai saat ini belum ada realisasi. Sugeng mengatakan, jumlah uang administrasi yang dipungut pihak yayasan beragam, mulai dari 2 juta sampai 8 juta.
“Berkisar [uang administrasi] beragam, ada yang bayar 2 juta, ada yang 4 juta, bahkan ada yang sampai 8 juta. Total kerugian jumlahnya mencapai milyaran,” ungkap Afif kepada Trimedia.com, Kamis (29/11/2023).
“Kita sudah beberapa kali berusaha mediasi, tapi katanya tanggal 30 November ini mau mengembalikan administrasi, ternyata tidak ada ada. Makanya teman-teman ini memutuskan melaporkan kasus ini ke Polres Karawang,” sambungnya.
Dengan kasus ini, Sugeng berharap, ada kontrol lebih ketat lagi terhadap perusahaan outsourching, supaya kasus penipuan tenaga kerja tidak terjadi lagi.
“Intinya kita harus bisa menjamin keamanan kepada para pencari kerja. Kita bisa menyelamatkan para pencari kerja dari perusahaan maupun yayasan pencari kerja yang tidak beres. Jangan sampai para pencari kerja yang benar-benar membutuhkan pekerjaan sampai berani membayar, entah uang dari mana, tapi ternyata ditipu,” papar Sugeng.
Para korban, lanjut Sugeng, bukan hanya ditipu dari sisi finansial saja, tapi juga mereka sudah berkorban waktu dengan mengikuti pelatihan dan lain sebagainya.
Menurut Sugeng, calon tenaga kerja yang menjadi korban sudah banyak dan berasal dari berbagai daerah, seperti Subang Karawang, Purwakarta, Bekasi.
“Artinya, jumlah 150 ini baru yang ketahuan, tapi yang sudah keluar sebelumnya, mungkin karena sudah pasrah karena lama tidak ada kejelasan, itu mungkin masih banyak. Pihak yayasan yang pasti punya datanya,” ungkapnya.

















