Triberita.com ǀ Kabupaten Bekasi – Perangkat desa khususnya Kepala Desa di Mekarjaya Kecamatan Kedungwaringin Kabupaten Bekasi memiliki kepedulian tinggi terhadap kesejahteraan masyarakatnya.
Ditengah musim panas yang melanda Desa Mekarjaya yang dipimpin H Apendi, berupaya memberikan solusi agar warga yang didominasi petani ini, masih bisa merasakan kemakmuran dari hasil sawahnya.
Bukan hal biasa yang dilakukan Apendi. Kades ini mampu mengatasi persoalan kekeringan, akibat tidak ada hujan dalam waktu lama, yang menghantam persawahan di Desa Mekarjaya. Para petani pun menjerit, karena hal ini sangat mempengaruhi kehidupan.
Rasa prihatin terhadap kondisi petani yang menderita akibat gagal panen selama 2 kali masa panen, menggugah semangatnya untuk melakukan upaya bagaimana cara agar tidak terjadi lagi gagal panen.

Kepala Desa Mekarjaya Kecamatan Kedungwaringin, H Apendi menuturkan, 400 hektar lahan pertanian di Desa Mekarjaya Kedungwaringin, semua mengalami kekurangan air.
“Bayangkan, 50 hektar dari 400 hektar area persawahan kami gagal panen selama 2 kali musim panen, gara-gara kekeringan. Saya tidak bisa mendiamkan ini,” tutur Apendi kepada Triberita, belum lama ini.
Atas usulan dari para petani yang tergabug dalam Kelompok Tani atau Poktan, ingin dibuat tempat penampungan air, yang disebut Embung.
Apendi pun berembuk dengan para perangkat desa, diantaranya juga ada kalangan petani diwakili Poktan (Kelompok Tani), untuk mencari solusi menghadapi kekeringan.
Tahun 2023 lalu, Apendi mengungkapkan, pihak Desa berembug dengan para petani dan Badan Permusyawaratan Desa atau BPD Mekarjaya untuk rencana pembuatan embung. Selanjutnya, kata dia, pihak Desa juga koordinasi dengan BumDesa, Bhabinsa dan Bimaspol, untuk dilakukan penggalian sebagai tahap awal untuk pembuatan embung.
“Tahun 2023 tersebut kami menggali lahan milik Tanah Kas Desa atau TKD Mekarjaya. Dari lahan TKD Mekarjaya yang luasnya 2,2 Hektar, yang sudah kami gali sepanjang 200 meter dengan kedalaman 2 meter, lebar 2 meter. Ini yang sudah terealisasi,’ paparnya.
Selesai embung tahap pertama, para petani sudah bisa bernafas lega. Pasalnya, embung yang dibangun letter L sepanjang 200 meter itu sudah mampu mengairi 50 hektar sawah, sehingga pada 1 kali musim panen berhasil panen.
“Alhamdulillah, dari embung yang dibuat tahap pertama, bisa disedot oleh 15 sampai 20 mesin air untuk mengairi 50 hektar sawah. Sehingga petani bisa merasakan panen 1 musim sejak dibangun embung,” ucapnya.
Kemudian tahun 2024, lanjutnya, untuk pembangunan embung ini dilakukan penggalian lanjutan. Lahan yang digali sepanjang 250 meter. Agar dapat menampung debut air lebih banyak, maka untuk kedalamannya ditambah jadi 4 – 5 meter, sehingga petani Mekarjaya tidak kekurangan air.
“Saat ini penggalian tahap kedua sudah mencapai 50 meter panjangnya, dengan kedalaman 4 meter,” ujarnya.
Soal kendala, Apendi menyatakan, hampir tidak kendala dalam proses pembuatan embung ini. Hanya terkadang keterlambatan solar untuk mengisi Beko.
“Terkadang solar untuk BBM alat berat Beco datangnya terlambat, sehingga menunda pekerjaan. Yang seharusnya penggalian dimulai pukul 08.00 pagi, namun karena solar belum dtang, jadi mundur,” kata Apendi.
Untuk musim panen selanjutnya, lanjut dia, saat ini para petani baru melakukan pembibitan, menebar benih.
Apendi mengaku mempunyai target, pada akhir 2024 ini, embung Desa Mekarjaya sudah selesai dengan dibuat melingkar.
“Mungkin danti entah dari APBDes atau dari Dana Desa, atau mungkin bantuan penambahan beko, yang bisa mempercepat selesainya pembangunan embung ini, sehingga pada akhir tahun 2024, embung ini sudah bisa selesai,” harap Kades.
Jadi embung pertama yang dibuat letter L, Apendi menjelaskan, dipertemukan dengan embung tahap kedua, sehingga jadi bentuknya melingkar mengelilingi lahan kosong.
“Jadi lahan kosong d itengah-tengah embung itu seperti pulau dikelilingi air. Nah nantinya kedepan kami rencanakan dibuat taman untuk lokasi wisata lokal,” jelasnya.
Terbangunnya embung tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Desa Mekarjaya, khususnya petani. Hal ini diakui oleh Faruk, Ketua Kelompok Tani Sumber Urip 06 di Desa Mekarjaya.
Dikatakan Faruk, kekeringan atau kekurangan air yang melanda Desa Mekarjaya sangat berdampak pada lahan pertanian.
“Kami, para petani sudah berupaya semaksimal mungkin mengatasi kekeringan tersebut, salah satunya membuat sumur pantek, namun tetap tidak mampu menyelamatkan sawah petani, sehingga dua kali gagal panen,” ungkapnya.
Ia mengaku sangat bersyukur dengan adanya embung tahap pertama itu, yang sudah bisa mengairi sebanyak 50 hektar sawah.
“Alhamdulillah, dengan adanya embung ini i musim panen kemarin, kami sudah bisa panen,” pungkas Faruk.

















