Scroll untuk baca artikel
Bekasi RayaLifestyle

Tak Terpengaruh Tingginya Harga Komoditi, Warga Cabangbungin Bekasi Pertahankan Tradisi Qunutan

408
×

Tak Terpengaruh Tingginya Harga Komoditi, Warga Cabangbungin Bekasi Pertahankan Tradisi Qunutan

Sebarkan artikel ini
Jamaah Mushola Nurullah Kampung Pulo Tanjung, Desa Sindangsari, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, masih pertahankan Tradisi Qunutan, (Foto : Jeje).

Triberita com ǀ Kabupaten Bekasi – Memasuki pertengahan bulan Suci Ramadan, biasanya warga di bagian Utara Kabupaten Bekasi selalu melaksanakan tradisi yang dinamakan Qunutan.

Sebelum menyambut Qunutan, sehari sebelumnya warga yang didominasi kaum hawa, hampir di setiap rumah sibuk membuat sajian makanan untuk dibawa ke Masjid atau Mushola, dan makanan tersebut nantinya akan dibagi-bagikan setelah selesai sholat tarawih, diawali dengan membaca do’a bersama.

Makanan yang dibuat warga untuk disajikan dan dibagikan, biasanya lebih didominasi makanan seperti ketupat, lontong, dan lepet, dibanding dengan makanan lainnya.

Seperti tradisi qunutan yang dilakukan warga jamaah Mushola Nurullah, yang ada di Desa Sindangsari, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi, setiap pertengahan bulan suci ramadan selalu melakukan tradisi qunutan.

Salah satu tokoh agama setempat, Daiman Daud menjelaskan, bahwa tradisi qunutan ini sudah turun temurun, dan diharapkan tradisi ini akan terus berlanjut sampai generasi yang akan datang.

“Tradisi qunutan merupakan bentuk rasa syukur umat Islam kepada Sang Pencipta,” tuturnya.

Ia menambahkan, tradisi qunutan dapat disimbolkan, dengan ketupat dibelah dua, yang memiliki makna perjalanan puasa ramadan sudah melewati paruh pertama, dan separuh puasa terakhir biasanya tantangan dan godaannya lebih berat.

“Sebagai bentuk rasa syukur, separuh perjalanan ibadah puasa sudah dijalankan, sisa separuhnya lagi harus dijalani, biasanya tantangan dan godaan yang lebih berat,” imbuhnya.

Dijelaskannya, tradisi qunutan ini sama sekali tidak berpengaruh pada tingginya harga kebutuhan pokok, seperti beras yang merupakan bahan utama dari ketupat, lontong dan lepet, kaum ibu tetap membuat makanan tersebut.

“Warga yang didominasi kaum ibu yang membuat makanan itu, tetap lakukan tradisi qunutan, meskipun harga beras sebagai bahan utamanya mahal di pasaran, tidak berpengaruh sama sekali,” pungkasnya.

Facebook Comments