Scroll untuk baca artikel
BisnisFood & TravelNasional

Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Menyimpan Sejarah ‘Bedol Deso’ Transmigrasi Pertama Kali Era Orde Baru

2547
×

Waduk Gajah Mungkur Wonogiri Menyimpan Sejarah ‘Bedol Deso’ Transmigrasi Pertama Kali Era Orde Baru

Sebarkan artikel ini

Destinasi Wisata Bendungan Terbesar di Asia Tenggara

Waduk Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri, bendungan terbesar se-Asia Tenggara.(Foto: Istimewa)

Menurut Ramdani, pendekatan langsung itu bisa diartikan sebagai ancaman atau represivitas Pemerintah Orde Baru. Pertimbangan lain warga kala itu menolak digusur karena tidak ingin dipindah ke luar Jawa. Apalagi saat itu daerah tujuan transmigrasi, yaitu Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat, masih berupa daerah liar.

Setelah melalui proses alot, akhirnya sebagian besar warga bersedia meninggalkan kampung halaman demi pembangunan bendungan serbaguna WGM Wonogiri. Menurut Ramdani, ada sekitar 10.350 keluarga yang setuju mengikuti program transmigrasi pemerintah.

Sedangkan 2.215 keluarga relokasi secara mandiri. Penduduk yang ikut transmigrasi diberangkatkan dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama dilakukan pada November 1976 sebanyak 100 keluarga atau 438 jiwa menuju Sitiung.

Perjalanan transmigrasi itu dilakukan dengan jalan darat dan laut. Mereka berkumpul di Kelurahan Giriwono Kecamatan Wonodiri, menuju Stasiun Kereta Api Jebres Solo. Dari stasiun kemudian para transmigran Wonogiri itu diturunkan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menggunakan kapal laut menuju Pelabuhan Teluk Bayur, Sumatra Barat. Dari sana mereka menggunakan moda transportasi darat menuju Sitiung berjarak 217 km.

“Sampai Maret 1977, sebanyak 2.000 keluarga asal Wonogiri yang terkena dampak bedol desa berhasil ditempatkan di empat desa baru di wilayah Sitiung,” tulis Ramdani.

Setelah pemberangkatan beberapa gelombang transmigrasi, Sitiung sudah tidak lagi mampu menampung jumlah penduduk yang transmigrasi dari Wonogiri. Atas kondisi itu, Menteri Transmigrasi pada saat itu, Subroto, mencari tempat lain sebagai tujuan transmigrasi.

Facebook Comments
Baca Juga :  Sebanyak 10 siswa SD pintar berhitung cepat Gasing, Diundang Hadiri acara Presiden Jokowi Panen Jagung di Kabupaten Keerom Papua