Akhirnya diputuskan antara lain Kabupaten Baturaja di Sumatra Selatan, Kabupaten Jujuhan di Jambi, dan Kabupaten Kurotidur di Bengkulu. Alasan daerah itu dipilih menjadi tujuan transmigrasi, masih dituliskan Ramdani, lantaran jumlah warga di daerah itu masih sedikit.
“Namun, pada 1980, ada 1.850 keluarga yang menolak dipindah. Mereka bahkan menyatakan diri siap tenggelam bersama. Hal itu karena warga menganggap pemerintah telah ingkar janji,” tulisnya.
Atas kondisi itu, pemerintah kembali melakukan pendekatan mengedepankan dialog dan pendekatan secara kekeluargaan. Cara itu cukup berhasil. Para warga pun akhirnya mau diberangkatkan ke daerah alternatif tujuan transmigrasi yang disiapkan pemerintah.

Monumen Bedol Deso
Untuk mengenang sejarah tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonogiri pun membuat patung yang disebut ‘Monumen Bedol Deso’. Monumen ini dibuat sebagai penghormatan atas kesediaan puluhan ribu warga yang berkorban meninggalkan kampung halamannya untuk mengikuti transmigrasi ke luar pulau Jawa.
Monumen Bedol Deso terletak di sisi kanan intake (pintu air) WGM. Berupa bangunan sejumlah patung dengan tinggi antara dua hingga tiga meter. Patung ini menggambarkan sebuah keluarga lengkap yang terdiri atas ayah, ibu, dan dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan.
Keempatnya tampak menghadap ke arah barat laut dan melambaikan tangan ke belakang ke sisi waduk. Ini seakan melukiskan perpisahan dari desa asalnya untuk menuju ke tempat transmigrasi.
Sedangkan pada bagian bawah monumen, terdapat relief yang menceritakan awal mula berdirinya waduk hingga pembangunan dan proses transmirasi.

















