Kini, Waduk Gajah Mungkur dinobatkan sebagai bendungan terbesar se-Asia Tenggara, karena luas daerah tangkapan airnya mencapai 1.350 Km. Pintu masuk danau buatan ini melalui sungai-sungai besar, dimana salah satunya adalah Bengawan Solo.
Luas genangan maksimum dari bendungan sekitar 8.800 hektar yang bisa dibuat mengairi kurang lebih 7 kecamatan di Jawa Tengah. Yaitu Wonogiri, Ngadirojo, Nguntoronadi, Baturetno, Giriwoyo, Eromoko serta Wuryantoro.
Ada beragam keuntungan yang dirasakan warga sekitar semenjak dibangunnya Waduk ini, salah satunya sebagai pengendali banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo, yang semula mengalirkan 4.000 m3/detik menjadi 400 m3 saja.
Selain itu, waduk ini bisa mengairi sawah di beberapa kabupaten di luar Wonogiri, seperti Sukoharjo, Klaten, Karanganyar serta Sragen. Sayangnya, Kota Solo tidak mendapat irigasi dari bendungan ini karena jaraknya lumayan jauh.
Tak hanya itu, air dari bendungan ini juga dijadikan sebagai pasokan air minum oleh warga Wonogiri dan sekitarnya karena debit yang selalu banyak. Tenang saja, tentu semuanya telah diolah serta disterilkan agar tidak terdapat bakteri di dalamnya.
Selain manfaat di atas, pemerintah kemudian menggunakan tempat ini sebagai PLTA di bawah naungan PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Mrica. Listrik yang dihasilkan dari bendungan ini sebesar 12,4 MegaWatt dan mampu menerangi hampir seluruh Jawa Tengah.***

















